Bukan Lagi Era "Superman", Saatnya Kerja Tim ala "Avengers"

Bukan Lagi Era "Superman", Saatnya Kerja Tim ala "Avengers"

Walau sama-sama pahlawan super, ada perbedaan antara Superman dan grup Avengers.

Bukan Lagi Era "Superman", Saatnya Kerja Tim ala "Avengers"
Dalam Artikel Ini

Para penggemar film dan komik pasti tahu betul, di jagat superhero, ada dua grup super yang digemari jutaan penonton seluruh dunia yaitu Avengers dan Justice League. Tidak hanya seru ditonton, film-film ini sejatinya juga punya banyak nilai dan teladan yang bisa diadaptasi dan bermanfaat di lingkungan dunia kerja kita.

Avengers yang diciptakan oleh Marvel Cinematic Universe (MCU), beranggotakan Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, Black Widow, dan Hawkeye. Sementara itu, DC Comic menciptakan Justice League yang beranggotakan Superman, Batman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Cyborg, dan lainnya.

Kendati sama-sama merupakan grup superhero, tapi ada satu perbedaan mencolok antara keduanya. 

Dalam film sekuel Avengers: End Game (2019), para anggota Avengers harus berjibaku bahu membahu mengisi kekurangan satu sama lain untuk mengalahkan musuhnya. Coba tengok bagaimana Captain America dan kawan-kawan baru berhasil mengalahkan musuh bebuyutan mereka, Thanos, ketika semua personil sudah bersinergi menyatu berbagi peran hingga saling berkorban untuk mengalahkan lawan. 

Lain halnya dengan Justice League (2017). Para pahlawan super anggota Justice League seperti Batman sampai Wonder Woman juga sempat kewalahan menghadapi musuh mereka, Steppenwolf dan bala tentaranya. Namun situasi berubah 180 derajat saat tiba-tiba Superman bergabung dalam pertempuran itu. Steppenwolf yang tadinya kelihatan tangguh dapat dikalahkan dalam sekejap oleh Superman. Jadi, walaupun diisi segudang superhero, tapi Justice League sangat bergantung pada Superman. 

Superman memang digambarkan kelewat kuat. Namanya juga manusia super. Extraordinary. Kekuatan dan kemampuannya jauh melebihi lawan dan kawannya sekalipun.

Bukan lagi era Superman

Dari dua grup super itu kita bisa ambil kesimpulan, Avengers butuh bekerja sama dengan kompak bahkan mau serta mampu berkorban satu sama lain untuk bisa mengalahkan musuhnya. Sedangkan Justice League meski beranggotakan pahlawan super, cukup mengandalkan Superman seorang untuk mengalahkan musuhnya.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada Superman, Justice League, dan DC Comics, tapi bila kita tarik ke konteks korporasi, agaknya hari ini era Superman sudah tidak lagi relevan. 

Menjadi Superman yang serba bisa dan bisa menyelesaikan semuanya sendiri itu memang baik. Bahkan, itu merupakan aset perusahaan yang luar biasa untuk mendorong kemajuan perusahaan.

Namun, dalam jangka panjang memelihara budaya “Superman” ini juga tidak baik. Hal ini kurang sehat baik untuk korporasi secara keseluruhan maupun individu terkait. 

Keberadaan Superman yang terlalu dominan jadi mengurangi keterlibatan anggota lain di tim. Padahal, ada Batman, Wonder Woman, The Flash, dan lainnya yang juga punya keunikan serta keunggulannya. Ini memicu ketergantungan terlalu tinggi pada satu individu saja ketimbang berkolaborasi bekerja dalam tim.

Sosok Superman itu bisa kelelahan dan burnout. Bahayanya, ketika Superman itu absen, maka tim itu tidak bisa menyelesaikan masalahnya karena sebelumnya terlalu terbiasa mengandalkan performa hebatnya. 

Sebaliknya, saat ini kita hidup dalam era yang menuntut kolaborasi ala Avengers—di mana setiap anggota tim membawa keahlian uniknya masing-masing, melengkapi kekurangan rekan kerja, dan bergerak bersama menuju tujuan yang sama.

Menciptakan tim super

Profesor Administrasi Bisnis di Harvard Business School, Boris Groysberg, mengatakan, sebuah tim memang sebaiknya tidak terlalu bergantung pada satu orang individu dengan kinerja super. 

Dalam bukunya yang berjudul “Chasing Stars: The Myth of Talent and the Portability of Performance”, memiliki seorang individu super di dalam sebuah tim merupakan keunggulan yang luar biasa dalam sebuah tim. 

Namun, performa tim secara keseluruhan justru lebih lambat ketimbang sebuah tim yang berisi kumpulan orang yang mau bekerja sama. Ibaratnya, sebuah mobil tentu baru bisa berjalan optimal bila keempat rodanya berjalan dengan putaran dan kecepatan yang sama, bukan salah satu rodanya yang melaju lebih kencang.

scrabbled scrabble tiles with words on them
Ilustrasi foto: Nick Fewings / Unsplash

Pemimpin yang hebat, lanjutnya, justru mampu meningkatkan kapasitas seluruh anggotanya menjadi bintang secara bersamaan. Menciptakan tim super bukan mengandalkan seorang yang super. Ya seperti Avengers. Iron Man sendiri sudah kuat. Tapi lebih kuat kalau dia mau bekerja sama dengan Captain America dan rekan-rekan lainnya.

Akhir pekan ini bolehlah anda menonton dulu Avengers: End Game Encore yang sedang tayang di bioskop terdekat di rumah anda. Sambil mempelajari dinamika para superhero yang mana tahu bisa anda bawa ke tempat kerja anda.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Moonlight

Rekomendasi SUAR