Achmad Fachrodji Hidupkan Balai Pustaka dengan Pantun

Achmad Fachrodji Hidupkan Balai Pustaka dengan Pantun

Bagi pria kelahiran Brebes 1960 ini pantun bukan hanya menciptakan puisi berima, tapi juga sarana bersilaturahmi, mencairkan suasana hingga membuka peluang bisnis.

Achmad Fachrodji Hidupkan Balai Pustaka dengan Pantun
Dalam Artikel Ini

Indah berkembang bunga cempaka

Sinar rembulan penghias angkasa

Selamat datang di Balai Pustaka

Istana Peradaban kebanggaan bangsa

Bait pantun selamat datang tersebut merupakan salah satu karya Direktur Utama PT. Balai Pustaka (Persero), Achmad Fachrodji. Bagi pria kelahiran Brebes 1960 ini, pantun bukan hanya menciptakan puisi berima, tapi juga sarana bersilaturahmi, mencairkan suasana hingga membuka peluang bisnis.

Tak tanggung-tanggung, ia bahkan mendapatkan julukan 'Bapak Pantun' di lingkungan kerja karena dikenal sebagai orang yang selalu berpantun di setiap acara.

Dari rimbawan ke sastra

Karier Fachrodji tak bermula dari sastra murni, melainkan perjalanan yang dimulai sejak lulus sarjana kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB). Menjadi rimbawan sejati membuatnya menghabiskan sebagian besar masa awal kerjanya di belantara kehutanan, sebelum akhirnya memimpin Balai Pustaka yang kala itu berada di tepi kehancuran.

Kendati lekat dengan identitas rimbawan, dunia sastra sejatinya bukan hal yang sepenuhnya asing bagi Fachrodji. Sejak duduk di bangku SMP dan SMA, ia mengaku telah menyelami dunia sastra dan aktif di dunia teater sejak muda.

“Saya dari SMP, SMA sudah menggeluti sastra, sudah ikut teater,” ungkap Fachrodji, Kamis (8/10/2026).

Achmad Fachrodji bersama Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri saat Raker Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia 2001 dalam pigura yang tertempel di dinding ruang kerjanya di Balai Pustaka. (Foto: Uswatun Hasanah / SUAR)

Bekal masa muda itulah yang kelak menjadi fondasi ketika ia harus bermigrasi dari sektor kehutanan menuju industri penerbitan. Namun, tantangan yang menantinya bukanlah perkara sepele.

Pada tahun 2016, Menteri BUMN kala itu, Rini Soemarno, memintanya untuk menakhodai Balai Pustaka. Fachrodji masih mengingat lekat pesan sang menteri kepadanya.

“Anda kalau cuma nebang kayu terus jual, itu semua orang bisa. Tapi kalau menghidupkan Balai Pustaka, perlu kemauan dan kemampuan. Saya anggap Anda mampu dan mau,” kenangnya menirukan intruksi Rini.

Bagi Fachrodji, tantangan tersebut justru menjadi katalisator untuk bergerak maju. Sedikit pun ia tidak memandang perpindahan ini sebagai bentuk penurunan karier.

“Bagi saya, justru ini adalah pengabdian,” tegasnya.

Ia menyadari betul bahwa menjual kayu memiliki kepastian pasar yang relatif jelas. Sementara di Balai Pustaka, komoditas yang dijajakan bukan sekadar fisik buku, melainkan ide, visi, dan gagasan.

“Ada bedanya jualan buku sama menjadi marketing. Kalau marketing itu ‘kan melakukan riset panjang. Ini supaya buku laku gimana caranya,” jelasnya.

Cerita keterpurukan Balai Pustaka

Fachrodji mengenang, bekerja pertama kali di perusahaan penerbitan berusia seabad itu penuh tantangan, terlebih kondisi Balai Pustaka kala itu memprihatinkan.

Utang menggunung, laju bisnis lumpuh, bahkan para karyawan sempat tidak menerima hak gaji mereka. Gedung kantor pusat berlantai tiga itu tampak kumuh dan terbenam dalam kegelapan lantaran tagihan listrik yang menunggak tak terbayar.

Kondisi memilukan itu ia deskripsikan layaknya peribahasa “hidup segan mati tak mau”.

“Tidak ada bisnis, bahkan dulu karyawan sering nggak gajian,” tuturnya.

Persoalan eksternal juga datang beruntun. Petugas pajak datang untuk menagih tunggakan yang usianya telah mencapai sekitar 20 tahun. Ancaman pidana hingga pemblokiran rekening, baik milik perusahaan maupun rekening pribadi keluarganya, menjadi bayang-bayang kelam yang menghantuinya.

“Waktu saya pertama datang ke sini, saya ‘disambut’ petugas pajak. ‘Mbak, petugas pajak kok nakut-nakutin. Saya baru ditunjuk, kok tau-tau sudah ditakut-takutin’,” kenangnya.

Sebelum - Sesudah Balai Pustaka. Foto: Nana/Suar.id

Saatnya bangkit

Tanpa membuang waktu, ia berupaya melakukan negosiasi rescheduling (penjadwalan ulang) utang pajak tersebut. Ketika restrukturisasi itu disetujui, ia mulai bersemangat untuk berdiri. Tidak ada lagi ruang untuk berpangku tangan menunggu perusahaan pulih dengan sendirinya.

Fachrodji lantas menginjeksi budaya kerja yang selama ini menjadi prinsip hidupnya. Pengalamannya menimba ilmu di Jepang pada tahun 1990 turut membentuk filosofinya tentang kedisiplinan tingkat tinggi. Ia menyebut etos tersebut sebagai Nihon no seikatsu. Nihon berarti Jepang, sedangkan seikatsu merujuk pada kehidupan atau budaya hidup.

“Saya mengikuti budaya Jepang, jalan saya aja berbeda dengan jalan orang lain,” jelasnya.

Ia memiliki kebiasaan datang pukul 06.30 - 07.00 WIB, sebuah kedisiplinan sejak dini dengan tujuan datang lebih awal dari karyawan lainnya.

Fachrodji kemudian berkeliling kantor, memantau laju pekerjaan, memberikan arahan langsung, hingga menaruh perhatian pada hal-hal mendetail terkait operasional perusahaan.

“Kalau lagi jalan, saya kecepatannya 3 kali lipat, terus bahasa Jawanya nggak boleh leda-lede, nggak boleh plonga-plongo," tegasnya.

Ia juga merevitalisasi wajah fisik dan produk literatur Balai Pustaka. Tata ruang kantor yang dulunya suram dibongkar total. Selasar yang gelap gulita disulapnya menjadi ruang terbuka bernuansa kekinian bernama "Kafe Sastra".

Wajah baru Balai Pustaka. Foto: Nana/Suar.id

Di dalamnya disuguhkan beberapa menu gastronomi unik bernapas sastra yang ia gagas sendiri, misalnya Kopi Gurindam, Cireng Cinema, hingga Romanza Spaghetti.

Balai Pustaka turut menghidupkan Sanggar Sastra di setiap akhir pekan. Ragam aktivitasnya meliputi kelas penulisan kreatif, musikalisasi puisi, hingga pementasan teater.

Pantun jadi senjata bisnis

Di tengah proses kebangkitan tersebut, Fachrodji menyebut pantun sebagai sebuah senjata komunikasi andalan yang sangat ia kuasai.

Kecintaannya pada pantun telah bersemi sejak masa remaja dan terus melekat hingga ia terjun ke dunia profesional.

Kumpulan karyanya bahkan sukses dinobatkan sebagai buku pantun terbaik tingkat nasional pada tahun 2021. Tak berhenti di situ, ia juga pernah merangkai pantun dalam delapan bahasa daerah serta bahasa Melayu.

Bagi figur yang juga berprofesi sebagai dosen pemasaran di jenjang S2 Universitas Mercu Buana ini, pantun telah berevolusi dari sekadar hobi menjadi ujung tombak strategi marketing dan jembatan silaturahmi bisnis.

“Bersilaturahmi dengan pantun itu membuat orang menjadi terhubung dengan lebih dekat, lebih intens. Semakin banyak kita bertemu orang, itu juga berpeluang dapat rezeki lebih banyak,” katanya.

Strategi jitu tersebut ia aplikasikan dalam menjaga hubungan baik dengan pimpinan perusahaan lainnya. Ia pantang absen mengirimkan bait pantun personal manakala ada perusahaan pelat merah yang merayakan hari jadi, lengkap disandingkan dengan potret direktur utamanya.

Taktik marketing ini terbukti ampuh dalam meruntuhkan dinding birokrasi yang dianggap kaku, sekaligus menarik gerbong pesanan proyek Business to Business (B2B) dalam skala yang masif.

Ia juga memiliki kelakar khas saat memasarkan buku testimoni kepada para direktur utama BUMN. Dengan nada bergurau, ia melabeli teknik penjualannya sebagai jurus “Jaksa”, yang merupakan akronim dari 'diinjak dan dipaksa'.

“Misalnya gini ‘Pak Dirut Pertamina, ada kan banyak penghasilannya, mau pesan berapa?’” kelakarnya menirukan cara ia menawarkan buku kepada koleganya.

Lewat pendekatan luwes itu, puluhan ribu eksemplar buku berhasil ludes terjual dalam kurun waktu yang singkat, memberikan kucuran pundi-pundi pemasukan krusial bagi perusahaan.

Secara spesifik, ia sangat menyukai pembuatan pantun dengan rima tengah. Kendati demikian, ia memiliki satu aturan baku yang sangat ia junjung saat membawakan pantun, yakni anti dengan kata “cakep!” di setiap akhir bait.

“Akhirnya gara-gara (seruan) ‘cakep-cakep’ itu rimanya jadi hilang keindahannya, karena orang lupa yang baris pertama tadi gara-gara tertutup oleh kata ‘cakep’. Maka saya setiap kali berpantun melarang orang bilang ‘cakep’, cukup tepuk tangan di akhir pantun,” paparnya.

Kecintaan mendalamnya pada seni rima ini bahkan mengantarkannya pada sebuah tantangan baru, yakni menyusun buku pengayaan khusus mengenai pantun yang ditujukan bagi para siswa di tingkat SD, SMP, hingga SMA.

Menyesuaikan Gen Z dan Gen Alpha

Usai mesin perusahaan kembali menyala, ujian selanjutnya adalah memastikan marwah Balai Pustaka tetap relevan menembus pusaran zaman.

Fachrodji sangat menyadari terjadinya pergeseran profil generasi pembaca. Generasi Z dan Alpha tentu tidak memiliki ikatan emosional yang serupa terhadap buku-buku klasik layaknya generasi-generasi pendahulu.

Berangkat dari pemahaman tersebut, sejumlah karya literatur lawas dikemas ulang dengan visual dan pendekatan yang dirancang lebih selaras dengan selera pembaca generasi saat ini.

Balai Pustaka merambah penerbitan buku untuk anak-anak. Foto: Nana/Suar.id

Deretan mahakarya para pujangga angkatan Balai Pustaka, sebut saja Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang, Atheis, hingga literatur terjemahan dari sastrawan tersohor Rusia seperti Rumah Mati di Siberia, menjalani proses ‘kemas ulang’.

Pembaharuan ini mencakup modernisasi desain sampul hingga pembaruan strategi promosi agar karya-karya abadi tersebut dapat lebih merangkul audiens muda sekaligus memikat para kolektor.

Pembaca setia

Di tengah padatnya ritme memimpin bisnis dan merekonstruksi Balai Pustaka, Fachrodji tak pernah menanggalkan identitasnya sebagai seorang pembaca setia.

Salah satu literatur yang paling menancap di benaknya adalah Rumah Mati di Siberia mahakarya Fyodor Dostoevsky. Karya klasik ini memikat hatinya lantaran kemampuan penulis menelanjangi beragam spektrum karakter manusia lengkap dengan pergulatan hidup mereka.

Baginya, buku bukanlah komoditas mati yang sekadar dicetak untuk dijual. Buku adalah medium perantara untuk membedah karakter, kehidupan, serta kompleksitas persoalan umat manusia.

Selain memperbaiki rupa Balai Pustaka, dia juga memperbaiki sumber daya manusianya. Sebagian karyawan ‘sepuh’ merelakan diri meninggalkan perusahaan melalui skema pengunduran diri dengan tawaran kompensasi yang layak dan ditingkatkan.

Dia mulai merekrut dan mengandalkan tenaga muda potensial. Di matanya, kaum muda dianugerahi keunggulan berupa kelincahan dan daya adaptasi yang kuat.

Di balik citranya sebagai pimpinan yang energik, Fachrodji juga tertarik pada kesenian visual. Ia menggemari seni lukis dan kaligrafi. 

Kaligrafi karya Achmad Fachrodji dalam blind book. (Foto: Uswatun Hasanah / SUAR)

Di masa lalu, ia kerap melukis aliran realis dengan subjek utama wajah manusia. Namun, seiring bertambahnya kematangan pemahaman religius yang ia yakini mengenai larangan melukis makhluk bernyawa, ia pun memilih untuk tekun pada kaligrafi.

“Ada hadis yang mengatakan, kalau Anda melukis yang bernyawa, Anda harus memberi nyawa kepada yang Anda lukis. Akhirnya kembali ke kaligrafi,” tuturnya lembut seraya menorehkan kaligrafi indah ke atas sampul blind book yang dipasarkan oleh Balai Pustaka.

Bertemu kolega

Di satu sisi, ritme kerjanya yang padat tentu rentan mengalami burnout. Namun, Fachrodji memiliki formulasi unik untuk memulihkan kembali energinya. Berlawanan dengan sang istri yang gemar traveling, aktivitas pelepas penat terbaik baginya justru ia temukan di episentrum tempat kerjanya sendiri.

"Kalau healing saya itu kalau ketemu dengan para sahabat yang frekuensinya sama. Jadi, ada dirut-dirut yang suka berkunjung. Jadi kadang-kadang mereka datang ke sini. Itu healing saya," ungkapnya menceritakan kedamaian yang ia rasakan saat asyik bercengkerama dengan para kolega sejawat di Kafe Sastra Balai Pustaka.

Jenama Balai Pustaka. (Foto: Uswatun Hasanah /Suar.id)

Menghadapi gunungan krisis dan deretan masalah bertubi-tubi semenjak hari pertama ia dilantik, Fachrodji selalu memilih untuk menyelesaikannya dengan kepala dingin dan kelapangan dada.

"Saya selalu percaya di tengah-tengah kesulitan, kan kalau di Surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) itu bersama kesulitan ada kemudahan. Jadi, sejauh ini, sesulit apa pun, alhamdulillah selalu ada jalan keluar," ucapnya. 

Ia merespons segala sengkarut tekanan bisnis dengan sebuah kredo sederhana nan ampuh, "Sesulit apa pun, kata bahasa sekarang, senyumin aja,” imbuhnya.

Ia menyongsong segala ujian tersebut dengan memegang teguh keyakinan yang ia rapal sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di Balai Pustaka.

“Betapa pun sulitnya, sebuah impian harus kita kerjakan dengan sebaik-baiknya supaya bisa tercapai,” kata Fachrodji.

Keteguhan sang dirut dalam menyelamatkan kembali Balai Pustaka dari titik rendahnya ini tak jauh dari satu pakem pantang menyerah yang tak henti ia suntikkan kepada segenap jajarannya.

“Jadi, intinya nggak boleh pernah menyerah. Nggak boleh surut ke belakang. Ketika layar sudah terkembang, nggak boleh surut ke belakang,” pungkasnya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Glowlight

Rekomendasi SUAR