Indonesia Bidik Pasar Kanada untuk Ekspor Produk Kerajinan Tangan
Dari total nilai impor kerajinan tangan Kanada dari seluruh dunia yang mencapai USD 1,2 miliar, Indonesia baru menyumbang sekitar USD 26,5 juta atau sekitar 2,1 persen.
Dari total nilai impor kerajinan tangan Kanada dari seluruh dunia yang mencapai USD 1,2 miliar, Indonesia baru menyumbang sekitar USD 26,5 juta atau sekitar 2,1 persen.
Pemerintah Indonesia pada Selasa (3/11) membidik potensi besar pasar Kanada untuk menggenjot ekspor produk kerajinan tangan nasional. Langkah ini diambil memanfaatkan momentum ratifikasi perjanjian kerja sama Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang akan mulai berlaku pada 1 Desember 2026.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mengungkapkan bahwa pangsa pasar produk kerajinan Indonesia di Kanada saat ini masih tergolong kecil.
Dari total nilai impor kerajinan tangan Kanada dari seluruh dunia yang mencapai USD 1,2 miliar, Indonesia baru menyumbang sekitar USD 26,5 juta atau sekitar 2,1 persen.
“Dengan keaslian produk, keterampilan pengerjaan, aspek keberlanjutan, serta desain yang khas, produk kerajinan Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik minat konsumen Kanada,” ujar Fajarini di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).
Menurut Fajarini, pangsa pasar yang kecil ini menunjukkan pelaku usaha masih membutuhkan penguatan dari sisi kapasitasnya, begitu pula dengan peningkatan kualitas dan desain produk, serta pemahaman terhadap karakteristik pasar Kanada.
Fajarini menambahkan, pemerintah menargetkan kenaikan pangsa pasar kerajinan tangan di Kanada menjadi 3,1 persen pada tahun depan. Untuk mencapai target tersebut, Kemendag bermitra dengan Trade Facilitation Office (TFO) Kanada menghadirkan program Trade for Resilient, Inclusive, and Sustainable Economic Growth (TRISEG).

Melalui TRISEG, para pelaku UMKM akan dibekali peningkatan kapasitas, riset tren dan harga pasar, penguatan desain, hingga pembukaan akses langsung ke pembeli (buyer) di Kanada.
Program ini berlangsung selama lima tahun dan menyasar 3.200 UMKM di 16 negara berkembang, dengan prioritas pada usaha yang dipimpin perempuan dan kelompok rentan. Pendaftaran program dibuka hingga 15 Desember 2026 melalui laman https://kemend.ag/trisegproject.
“TFO memberi bantuan saat ini untuk produk kerajinan tangan, jadi beberapa fasilitas yang mereka akan berikan itu adalah peningkatan kapasitas UMKM baik itu dari sisi desain produk, pengetahuan market di pasar Kanada, tren, dan juga harga, karena hal-hal seperti ini memang harus diketahui oleh pelaku UMKM kita,” ujar Fajarini.
Melalui program tersebut dan berbagai upaya lainnya, diharapkan pangsa pasar produk kerajinan tangan Indonesia di Kanada dapat meningkat secara bertahap. Adapun produk kerajinan Indonesia yang berpeluang besar di Kanada cukup beragam mulai dari keranjang, furnitur, hingga produk berbahan serat alami.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Ditjen PEN Kemendag, Deden Muhammad Fajar Shiddiq, memaparkan bahwa tren ekspor kerajinan ke Kanada terus menunjukkan kenaikan positif. Pada 2025, nilai ekspor kerajinan mencatatkan angka USD 8,41 juta, naik 21,8% dari 2024.
Sementara hingga Agustus 2026, ekspor produk kerajinan Indonesia ke Kanada telah mencapai USD 8,15 juta, meningkat 46,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deden menegaskan bahwa skema ICA-CEPA akan makin memperluas ruang gerak eksportir Indonesia. Hal ini tergambar dari total total nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Kanada hingga Agustus 2026 telah mencapai USD 3,51 miliar atau meningkat 15,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Sedangkan, kata Deden, nilai ekspor Indonesia ke Kanada secara umum tercatat mencapai USD 1,12 miliar, sementara impor dari Kanada mencapai USD 2,39 miliar.
Dengan demikian, Indonesia masih mencatatkan defisit neraca perdagangan. Angka tersebut pun menunjukkan kondisi sebelum ICA-CEPA dan proyek TRISEG diimplementasikan.
“Melalui ICA-CEPA, sekitar 20 persen pos tarif produk ekspor Indonesia ke Kanada bakal dipangkas. Ini merupakan peluang besar bagi seluruh eksportir Indonesia khususnya di sektor kerajinan untuk meningkatkan ekspor ke Kanada,” tegasnya.
Menurut dia, untuk memanfaatkan peluang tersebut, eksportir Indonesia khususnya untuk produk kerajinan tidak cukup hanya menawarkan produk dengan harga yang kompetitif, namun juga dituntut untuk memiliki pemahaman pasar yang kuat, keterampilan digital, penerapan praktik keberlanjutan, serta mendapatkan akses langsung kepada pembeli di Kanada.

Program Director TFO Kanada Zaki Munshi menjelaskan, program TRISEG ini diselenggarakan di 16 negara berkembang termasuk Indonesia, dengan menyasar total 3.200 UMKM di mana dua pertiganya dipimpin oleh perempuan dan kelompok rentan. Durasi program pun dapat diikuti oleh pelaku UMKM selama 5 tahun.
“Melalui TRISEG, Kami akan mendukung pelatihan, pendampingan, riset pasar, hubungan bisnis antarpelaku usaha, serta berbagi pengetahuan. Dengan demikian, pelaku UMKM khususnya yang dimiliki dan dipimpin oleh perempuan serta kelompok masyarakat yang kurang terwakili dapat merespons peluang nyata,” kata Zaki.
Tak hanya menguntungkan bagi pelaku usaha dalam negeri, TRISEG Juga membuka peluang bagi pelaku usaha di Kanada, dengan terbukanya akses terhadap jaringan pelaku usaha yang potensial dari berbagai wilayah di Indonesia.
“Hal ini menawarkan peluang baru untuk mendiversifikasi sumber pengadaan, mendukung perdagangan yang bertanggung jawab, serta membangun hubungan langsung dengan perusahaan perdagangan ekspor,” jelasnya.

Peluang ini pun diamini pelaku usaha. Yellia Fatma, pemilik merek kerajinan Emma Little Things, menilai Kanada merupakan pasar strategis karena tingkat persaingan produk kerajinan khas daerah di sana belum terlalu padat.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar UMKM kerajinan saat ini ada pada konsistensi kapasitas produksi rumahan serta penyesuaian desain perajin lokal terhadap permintaan pembeli luar negeri.
“Pasar Kanada itu potensial banget karena pemainnya masih sedikit tapi pasarnya besar banget, apalagi produk ini Indonesia banget dan bisa dipakai,” ucap Yellia.
Emma Little Things sendiri merupakan merek kerajinan yang mengangkat kekayaan warisan Indonesia dengan mengolah bahan baku lokal menjadi berbagai produk.
Usaha yang berdiri sejak 2016 ini awalnya hanya berfokus pada tas, namun setelah mengikuti pameran di Turki pada tahun 2021 Yellia mulai mengembangkan lini produknya ke kerajinan dan produk dekorasi rumah.
Ekspor perdana perusahaan pun awalnya dilakukan ke Jepang pada 2017, sementara itu pasar Kanada yang belum dijangkau itu menjadi salah satu target ekspansi berikutnya.
“Kita belum ekspor ke Kanada, waktu itu saya sempat bertemu teman waktu pameran di luar negeri dia bilang produk ini bagus banget dan potensial di Kanada, makanya pas ada program TRISEG ini saya iseng-iseng daftar dan alhamdulillah terpilih,” katanya.
Tantangan terbesar dalam mengembangkan usahanya terletak pada kapasitas produksi para perajin. Sebab, sebagian besar produk dibuat oleh perajin rumahan yang berada dalam satu lingkungan kampung.
Aktivitas produksi terkadang terpaksa terhenti ketika para perajin harus mengikuti kegiatan sosial, sehingga proses produksi tidak selalu berjalan konsisten dan kesulitan memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
“Lalu yang kedua, pengrajin ini biasanya turun temurun. Jadi misalnya dia sudah biasa bikin motif anyaman, waktu buyer dari Jepang punya desain sendiri, pengrajin banyak yang menolak karena kalau bikin baru kan pola baru. Tantangannya itu meminta mereka untuk mencoba hal baru,” ungkap Yellia.
Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi dan Hubungan Antarlembaga Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Anton Dwinanto mengatakan, pihaknya juga menyambut baik adanya program kerja sama untuk ekspor produk ke Kanada ini.
“Saya bisa menginformasikan ke anggota HIMKI, bahwa ini ada program yang kick-off hari ini, jadi program ini diharapkan bisa berjalan ke depannya,” kata Anton.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai, pasar Kanada juga tergolong sangat strategis bagi ekspor produk Indonesia. Ada sejumlah alasan yang melatarbelakangi pandangannya tersebut.
“Daya beli konsumennya tinggi, Kanada memiliki populasi lebih dari 40 juta jiwa dengan daya beli rata-rata di atas USD 53 Ribu per tahun, lebih tinggi daripada beberapa mitra dagang tradisional Indonesia seperti Belanda dan Australia,” ucap Esther.
Kerja sama perdagangan ini juga bagian dari upaya Kanada melakukan diversifikasi mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat. Dari sisi perdagangan, nilai ekspor Indonesia ke Kanada juga mengalami peningkatan, khususnya pada produk pangan dan olahan yang meningkat secara signifikan.
Namun demikian, di balik potensi tersebut, ada tantangan yang berpotensi menghambat ekspor Indonesia ke Kanada.
“Tiap provinsi di Kanada dapat memiliki aturan lokal yang berbeda. Contohnya, Quebec Bill 96 mengatur penggunaan bahasa Prancis secara ketat pada pelabelan dan dokumen bisnis, yang bisa menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha baru,” ungkapnya.
Begitu juga dari sisi logistik, jarak yang jauh dari Indonesia ke Kanada serta rantai pasok global yang kompleks membuat biaya pengiriman menjadi lebih tinggi sehingga memerlukan perencanaan logistik yang matang.
“Dinamika perdagangan global, termasuk ketegangan tarif antara Kanada dan Amerika Serikat, memengaruhi stabilitas pasar dan membuat sebagian pelaku usaha di sana lebih berhati-hati dalam berekspansi,” tutupnya.