Cerita Juju Konveksi Jadi Pemasok Merchandise Film Para Perasuk
Salah satu persoalan utama yang dihadapi oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia adalah mengenai pemahaman mengenai kesehatan finansial yang masih perlu diperkuat.
•
6 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Pengunjung melihat berbagai produk di stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada Kediri Financial Festival 2026 di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (24/10/2026). ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/tom.
Dalam Artikel Ini
Dari pelosok Parung, Bogor, Juju Suhaeti (61) tahun merasakan betul perjuangan dalam mencapai ketahanan finansial yang tak bisa diraihnya dalam waktu singkat.
Selama sekitar 25 tahun, perempuan yang akrab disapa Juju ini merintis bisnis jahit dari skala kecil hingga berkembang menjadi usaha yang mampu menyerap puluhan tenaga kerja.
Berbekal keterampilan menjahit yang diasah sejak bekerja di perusahaan garmen, ia perlahan membangun usaha mandiri yang kini menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.
Sebelum menjadi pengusaha, Juju pernah bekerja di PT Kenlee selama sekitar 10 tahun. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mempelajari proses pembuatan berbagai produk pakaian, mulai dari jaket hingga gaun.
Berbekal pengalaman itu, ia kemudian memutuskan membuka usaha jahit sendiri. “Saya awalnya hanya menerima jahit kelim (jahit tepi) saja, karena orang lihat jahitan saya rapih, mereka memasrahkan jahitan dalam jumlah besar kepada saya,” kata dia ketika diwawancarai SUAR di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Dari pekerjaan sederhana tersebut, ia mulai mengenal kebutuhan pasar. Dengan peralatan seadanya, ia memulai bisnis menggunakan beberapa mesin jahit kecil.
Produk yang dibuatnya pun berkembang secara bertahap, dari kerudung hingga gamis dan berbagai jenis pakaian perempuan. Seiring bertambahnya pesanan, Juju menyadari bahwa mengembangkan usaha konveksi membutuhkan peralatan yang lebih lengkap, termasuk mesin obras dan mesin potong.
Juju perlahan mengembangkan usahanya. Dukungan pembiayaan bertahap dari Amartha, yang dimulai dari pinjaman Rp3,5 juta untuk membeli mesin jahit tambahan, membantunya menangkap peluang pasar yang lebih besar.
Selama menjadi mitra Amartha, Juju tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga kesempatan menambah pengalaman melalui berbagai kegiatan dan kunjungan. Ia pernah menerima kunjungan dari pihak-pihak yang ingin melihat secara langsung perkembangan usaha serta memahami bagaimana dukungan modal digunakan oleh para pelaku usaha.
Para penjahit Juju Konveksi sedang mempersiapkan pesanan di Parung, Bogor. (Foto: Humas Amartha)
Platform daring
Perubahan mulai terasa ketika Juju memperluas pemasaran melalui platform daring. Sebelumnya, ia mengandalkan pesanan dari pelanggan dan toko-toko yang pembayarannya membutuhkan waktu. Melalui penjualan online, produk dapat dipasarkan langsung kepada konsumen sehingga perputaran uang menjadi lebih cepat.
“Momentum pandemi Covid-19 bahkan menjadi salah satu titik pertumbuhan usaha saya. Ketika masyarakat semakin banyak berbelanja secara daring, pesanan yang diterima meningkat signifikan,” ujar dia.
Dengan jumlah pekerja yang kini mencapai 30-40 orang, ia mengaku mampu memproduksi sekitar 200 hingga 800 potong pakaian dalam sepekan untuk dipasok ke sejumlah merek lokal maupun internasional seperti Tokart, Guzel Moda, Abia, dan Hasrida Butik.
Selama menjadi mitra Amartha, Juju tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga kesempatan menambah pengalaman melalui berbagai bimbingan, kegiatan dan kunjungan.
Ia pernah menerima kunjungan dari pihak-pihak yang ingin melihat secara langsung perkembangan usaha serta memahami bagaimana dukungan modal digunakan oleh para pelaku usaha.
Bahkan, Juju bercerita kalau pencapaian paling membanggakan bagi konveksinya adalah ketika dipercaya untuk memasok sekitar 200 merchandise resmi untuk film ‘Para Perasuk’.
"Itu pengalaman yang sangat berkesan, karena usaha konveksi skala lokal seperti kami bisa dipercaya untuk proyek berjangkauan luas," ungkap Juju.
Kini, pendapatan dari usaha konveksi memberinya ruang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak-anak hingga perguruan tinggi, serta mengembangkan aset.
“Saya usaha ini sejak anak-anak masih SMP dan sekarang semua anak-anak saya bisa saya kuliahkan sampai selesai,” ujar dia seraya menambahkan dua anaknya, bahkan dipersiapkan Juju untuk menjadi penerus usaha rintisan keluarga ini.
Dari hasil kerja kerasnya, Juju mengaku telah membeli tanah dan rumah. Luas tanah yang dimilikinya disebut telah berkembang hingga sekitar 450 meter persegi, meski sebagian proses pembelian dan pengembangannya dilakukan secara bertahap.
Baginya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa usaha yang dibangun sedikit demi sedikit dapat memberikan perubahan nyata bagi kehidupan keluarga.
Di usianya yang telah menginjak 61 tahun, Juju masih aktif. Ia bahkan memiliki cita-cita memperluas tempat produksi agar kegiatan konveksi dapat berlangsung lebih leluasa dan mampu menampung lebih banyak pekerja. Ia juga berharap dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil terus berkembang sehingga para pengusaha seperti dirinya memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kapasitas bisnis.
“Ke depan saya ingin juga mengembangkan usaha saya dengan menyatukan para tukang jahit saya di satu tempat yang sama, berjejer, walau sederhana seperti perusahaan garmen besar pada umumnya,” kata dia.
Berbagai produk Juju Konveksi yang akan dipasok ke berbagai merek lokal di berbagai kota. (Foto: Amartha)
Kesehatan finansial melalui pemanfaatan teknologi
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, salah satu persoalan utama yang dihadapi oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia adalah mengenai pemahaman mengenai kesehatan finansial yang masih perlu diperkuat.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan rekening saja, tetapi juga rendahnya pemahaman dan pemanfaatan produk keuangan oleh masyarakat. Masyarakat maupun pelaku UMKM pun juga masih banyak yang dikategorikan sebagai unbaked society, sehingga menghadapi kendala dalam mengakses layanan keuangan yang dapat mendukung pengembangan usaha.
“Akibatnya, mereka susah mendapatkan akses ke pembiayaan perbankan. Maka, pemerintah perlu akselerasi melalui berbagai kebijakan, salah satunya memang mendorong UMKM sehat secara finansial atau Indonesia for Financial Health,” jelas Huda, Selasa (27/10/2026).
Selain upaya perluasan akses terhadap layanan keuangan formal, peningkatan kesehatan finansial terhadap pelaku UMKM juga perlu diarahkan pada pemanfaatan teknologi demi memperkuat pengelolaan keuangan usahanya.
Dalam hal ini, ekosistem financial technology dinilai memegang peranan penting dalam membantu UMKM memperbaiki kondisi keuangan mereka sekaligus membuka peluang lebih dalam memperoleh pembiayaan yang pada akhirnya dapat digunakan untuk mengembangkan usahanya.
“Ketika sehat secara finansial, hasil yang diharapkan tentu saja terkait dengan pembiayaan. Maka saya rasa ekosistem fintech harusnya ditujukan kepada pelaku UMKM secara finansial,” ucapnya.
Dengan memanfaatkan teknologi pembayaran digital, pelaku UMKM dapat lebih mudah mencatatkan transaksi keuangannya secara lebih terstruktur. Pencatatan ini memudahkan pelaku usaha khususnya UMKM yang dihadapi dengan persoalan rendahnya pemahaman tersebut untuk memantau arus kas dan mengetahui kondisi keuangan usahanya dengan lebih sederhana.
“Fintech punya instrumen melalui teknologi yang dimiliki. Mereka bisa membuat pencatatan melalui teknologi yang terintegrasi dengan QRIS sehingga pencatatan dilakukan secara sederhana,” sambung Huda.
Pencatatan transaksi ini juga bisa menjadi dasar penilaian kelayakan kredit untuk pelaku UMKM. Rekam jejak transaksi yang terstruktur ini membuat penyedia layanan keuangan memiliki informasi tambahan untuk menilai kemampuan pelaku usaha dalam memperoleh pembiayaan.
“Kemudian, dari data tersebut dapat digunakan untuk credit scoring untuk pembiayaan melalui pinjaman daring,” ujarnya.
Model bisnis berdampak dan berlanjut
Kesehatan finansial di tingkat akar rumput tak lepas dari model bisnis lembaga penyedianya. Chairman Amartha Foundation, Aria Widyanto menjelaskan, dalam dunia usaha modern, pendekatan bisnis kini tidak lagi hanya sebatas mencari keuntungan finansial semata.
Dalam spektrum perusahaan, berdasarkan fokus utama mereka, ada yang menjadikan misi sosial sebagai utama dan bisnis komersial yang mencari keuntungan.
“Ada dilema mengenai mana yang harus didahulukan, dampak sosial atau keuntungan. Menurut saya, pertanyaan ini benar-benar menghantui banyak orang, baik para pendiri perusahaan maupun penggagas bisnis berdampak sosial,” jelas Aria dalam acara Kumpul Connect di Jakarta, Rabu (20/10/2026)..
Dalam model bisnis sosial yang mengedepankan misi sosial di atas segalanya, seluruh kelebihan dana atau keuntungan yang diperoleh akan diputar kembali untuk mendukung tujuan sosial tersebut. Namun, kelangsungan operasional bisnis jenis ini umumnya masih sangat bergantung pada dana hibah, donatur, atau subsidi.
Di sisi lain spektrum, terdapat apa yang disebut dengan for-profit business atau bisnis komersial yang menempatkan hasil untuk pemegang saham sebagai prioritas utama. Dampak sosial pada model ini pun biasanya hanya menjadi produk sampingan saja atau sebatas program corporate social responsibility (CSR), yang mana bisa dihentikan sewaktu-waktu.
Di antara spektrum model bisnis sosial dan bisnis komersial tersebut, terdapat titik tengah yang menurutnya paling ideal yakni model bisnis berorientasi dampak ( impact-driven business).
Model ini pun menggabungkan penciptaan dampak sosial positif dengan perolehan pendapatan sejak awal. Dengan demikian, hasil usaha dapat langsung mendanai misi sosialnya sehingga perusahaan mampu berdiri mandiri secara finansial tanpa terus bergantung pada pihak eksternal.
“Sebagian besar mungkin memiliki pandangan yang skeptis terhadap posisi di tengah ini karena kedua sisi tersebut terlihat sangat kuat dan saling bertentangan. Akibatnya, kita terkadang merasa dipaksa untuk memilih antara dampak sosial dan keuntungan. Namun, itu adalah paradigma lama,” katanya.
Untuk mematahkan pandangan tersebut, Aria memperkenalkan konsep and games—sebuah pola pikir yang memungkinkan lembaga mengejar dua tujuan sekaligus secara harmonis.
Aria mengambil contoh nyata dari Aravind Eye Hospital di India, sebuah rumah sakit yang didirikan oleh Dr. Govindappa Venkataswamy (Dr. V) untuk menghadirkan layanan kesehatan mata bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Saat berkunjung ke desa-desa terpencil, Dr. V mendapati tingginya biaya operasi mata membuat jutaan warga tak mampu mengakses perawatan mendasar. Tantangan besarnya adalah bagaimana menjalankan layanan operasi yang terjangkau tanpa mengorbankan kualitas dan kelangsungan operasional rumah sakit.
Temuan tersebut mendorong Dr. V merancang model bisnis inovatif melalui sistem subsidi silang mandiri yang berhasil menekan biaya tanpa mengesampingkan misi sosialnya.
"Beliau mendatangi masyarakat langsung, menyampaikan visi, dan mengedukasi warga tentang pentingnya kesehatan mata," terang Aria.
Menurut Aria, membangun bisnis berdampak sosial menuntut pola kepemimpinan dan strategi yang berbeda dari bisnis konvensional. Pendekatan yang dibutuhkan adalah ekosistem generatif, di mana seluruh pihak dilibatkan aktif merancang solusi hingga menentukan arah bisnis.
"Seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem harus menjadi pencipta solusi bersama (co-creators). Mereka bukan sekadar penerima manfaat, melainkan bagian dari strategi dan penentu arah pengembangan misi sosial di masa depan," jelasnya.
Aria berharap semakin banyak pelaku usaha yang mengadopsi pola kepemimpinan generatif ini untuk menciptakan perubahan nyata yang berkelanjutan.
"Mulailah dari dalam diri, lalu bangun hubungan erat dengan ekosistem di sekitar. Dengan begitu, nilai-nilai yang diyakini dapat membawa dampak lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan," tutup Aria.
Bagian selanjutnya tersedia khusus untuk member SUAR