Demonstrasi Picu Kekhawatiran Pedagang, Omzet Bisa Turun hingga 60%

Demonstrasi Picu Kekhawatiran Pedagang, Omzet Bisa Turun hingga 60%

Sepinya pengunjung turut berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang, penurunan jumlah pembeli saat aksi demonstrasi berlangsung dapat menekan omzet dagangannya bahkan hingga lebih dari separuh dibandingkan hari-hari biasa.

Demonstrasi Picu Kekhawatiran Pedagang, Omzet Bisa Turun hingga 60%
Dalam Artikel Ini

Aksi demonstrasi yang berpusat di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026), memberikan dampak terhadap aktivitas perdagangan terutama akibat berkurangnya mobilitas masyarakat yang membuat pengunjung enggan datang ke pusat perbelanjaan.

Kondisi ini dikhawatirkan menekan omzet pedagang, bahkan salah satu pedagang di Thamrin City mengaku bisa mengalami penurunan penjualan hingga 50-60% setiap aksi demonstrasi berlangsung di pusat kota.

Seorang pria paruh baya pedagang batik di Thamrin City, Kenzi, menilai aksi demonstrasi memberikan dampak khususnya terhadap berkurangnya jumlah pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja. Kekhawatiran masyarakat untuk beraktivitas di sekitar lokasi aksi pun membuat mobilitas masyarakat berkurang ke pusat perbelanjaan, sehingga berimbas langsung terhadap penjualan pedagang.

“Pada saat demo, sudah pasti berpengaruh banget. Karena mobilitas orang keluar rumah itu tertekan, kadang ogah-ogahan, pengunjung bisa sepi dan bahkan gak ada sama sekali,” ucap Kenzi saat ditemui di Thamrin City, Rabu (28/10/2026).

Pengunjung pusat perbelanjaan Thamrin City terpantau sepi pada saat aksi demonstrasi berlangsung di area Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Berdasarkan pantauan di lokasi, memasuki jam makan siang, suasana Thamrin City terlihat cukup lengang. Sejumlah pengunjung tampak berlalu-lalang menyusuri lorong-lorong pertokoan, termasuk pula beberapa wisatawan mancanegara yang datang untuk melihat koleksi batik dan kebaya.

Meski demikian, aktivitas perdagangan belum terlihat ramai. Sejumlah pedagang bahkan terlihat duduk bersantai sambil berbincang dengan sesama pedagang lainnya di tengah minimnya pembeli yang datang ke kios mereka. Di sisi lain, banyak pula pedagang yang memilih untuk memanfaatkan ponsel mereka untuk berjualan melalui siaran langsung di media sosial.

Sepinya pengunjung turut berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang, penurunan jumlah pembeli saat aksi demonstrasi berlangsung dapat menekan omzet dagangannya bahkan hingga lebih dari separuh dibandingkan hari-hari biasa.

“Pengaruhnya sih ngaruh banget, ada lah 50-60% penurunan omzet, itu sudah pasti waktu aksi demo terlihat bener. Kalau hari-hari biasa tanpa demo ya kita masih bisa dapat duit, tapi ketika ada demo ya turun drastis, itu karena orang malas keluar rumah apalagi pusat demonya di sekitar sini,” jelasnya.

Pengunjung pusat perbelanjaan Thamrin City terpantau sepi pada saat aksi demonstrasi berlangsung di area Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Kenzi mengaku khawatir dengan aksi demonstrasi yang berlangsung di pusat kota ini dapat berujung pada aksi kericuhan yang berisiko merembet ke pusat perbelanjaan. Kekhawatiran tersebut semakin besar ketika mengingat aksi demonstrasi serupa yang terjadi pada bulan Agustus lalu berujung pada kericuhan di sejumlah wilayah di pusat kota.

“Kalau demo di Bundaran HI, kadang-kadang kepikiran juga imbasnya nanti ke Thamrin gak? Itu yang saya takutkan kayak tahun 1998 dulu, itu kan sampai masuk-masuk ke dalam pusat perbelanjaan,” ujarnya.

Ia pun merasa keberatan dengan aksi demonstrasi yang digelar oleh berbagai pihak ini berulang kali. Sebab, aktivitas perdagangan menjadi terganggu dengan berkurangnya mobilitas masyarakat umum khususnya calon pembeli.

“Mau ada keluh kesah kan gak perlu demo, tinggal datang aja ke pihak yang didemo atau ke DPR-lah, seperti itu. Karena ini mengganggu bener aktivitas orang dagang terutama orang kerja juga ngaruh, imbasnya sangat besar untuk pedagang,” tegas Kenzi.

Saiful Akbar (50), salah satu pedagang di Thamrin City yang mengaku tidak khawatir akan aksi demonstrasi yang berlangsung saat ditemui, Rabu (28/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Daya beli terus menurun

Sementara itu, pedagang lainnya, Saiful Akbar (50), mengaku tidak khawatir seperti Kenzi pada saat aksi demonstrasi terjadi. Toko busana muslim yang ia jaga pun tetap buka dari pagi hingga malam, tanpa ada penyesuaian jam operasional sedikit pun.

“Gak ada kekhawatiran kalau saya, buka terus ga pengaruh, ga ada penyesuaian jam buka dari pagi sampai malam,” ujar Saiful.

Kondisi sepi pengunjung di Thamrin City sendiri bukan terjadi akibat aksi demonstrasi saja. Bahkan menurutnya, pengunjung sudah mulai sepi berdatangan sejak satu tahun terakhir. Kondisi ini membuatnya mencari solusi demi menarik dan menjangkau pembeli.

“Bukan gara-gara demo aja, ini sudah setahun memang parah banget sepinya, makanya sekarang banyak pedagang yang jualan di TikTok atau Shopee, jualan live, saya juga terpaksa jualan live, ya nasib-nasiban tapi emang pengunjung sepi,” lanjutnya.

Menurutnya, sepinya pengunjung ke pusat perbelanjaan saat ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi masyarakat yang memengaruhi daya beli. Ketersediaan lapangan kerja pun dinilai sebagai faktor penting untuk mendorong aktivitas belanja masyarakat.

“Ya sekarang kan tergantung pekerjaan juga ya, kalau banyak yang bekerja berarti pengangguran berkurang dan ekonomi baik. Kalau banyak pengangguran ya bagaimana masyarakat mau belanja, dari segi peredaran uang kan berpengaruh,” katanya.

Aksi serentak

Sebagaimana diketahui, bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda, mahasiswa menggelar aksi demonstrasi yang berpusat di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026). Aksi tersebut diinisasi oleh Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar), perkumpulan mahasiswa dari sejumlah kampus seperti Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, hingga Universitas Airlangga.

Aksi demonstrasi digelar pada Pukul 14.00 WIB dengan Bundaran HI sebagai pusat aksi. Namun berdasarkan pantauan, massa aksi dari mahasiswa dari sekitar pukul 14.20 tertahan di Jalan MH Thamrin mengarah ke Bundaran HI, tepatnya di depan UOB Plaza.

Koordinator Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Hafidz Hernanda bersama dengan Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra saat berupaya untuk berjalan ke Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Ada 5 tuntutan dari massa aksi yaitu meminta pemerintah menetapkan status bencana nasional di sejumlah wilayah seperti Kalimantan dan Sumatra, menuntut pemerintah mengelola APBN berdasarkan kepentingan rakyat dengan menghentikan berbagai program yang dinilai tidak bermanfaat, menuntut pemerintah menurunkan biaya pendidikan hingga penyediaan lapangan kerja, meminta pemerintah mengatasi persoalan korupsi, dan mendesak pemerintah untuk mengembalikan hak kebebasan bersuara masyarakat.

“Oleh karenanya, kemarahan rakyat kepada pelayannya, yaitu pemerintah, harus selalu digelorakan, salah satunya melalui lima tuntutan rakyat. Kelima tuntutan ini harus negara jawab,” demikian keterangan dari Komite Sadar sebagaimana diunggah oleh akun @bemui_official di media sosial Instagram. 

Sejumlah kendaraan taktis milik kepolisian juga disiagakan di sekitar lokasi aksi demonstrasi termasuk di kawasan pusat perbelanjaan. Kehadiran kendaraan ini menjadi bagian dari kesiapsiagaan aparat dalam mengantisipasi potensi gangguan keamanan.

Kendaraan taktis (rantis) milik kepolisian yang terparkir di pinggi jalan dekat pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Berjalan kondusif

Menanggapi aksi demonstrasi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berharap bahwa aksi demonstrasi yang digelar ini berjalan dengan kondusif. Ia pun menekankan bahwa Jakarta sebagai lokasi aksi demonstrasi ini adalah milik masyarakat bersama, sehingga perlu dirawat dan dijaga.

“Jakarta ini milik kita bersama, jadi Jakarta harus dirawat bersama-sama. Bahwa ada demonstrasi itu hak dari demokrasi. Tapi sebagai Gubernur Jakarta saya berharap bahwa demo yang terjadi hari ini atau selanjutnya itu bisa berlangsung baik tertib dan tidak mengganggu kenyamanan publik,” kata Pramono di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).

Pramono juga memastikan sampai saat ini kegiatan belajar mengajar sekolah masih berjalan dengan seperti biasanya.

“Untuk hari ini belum ada PJJ, jadi tetap masuk seperti biasa, karena saya menaruh harapan dan berharap bahwa ekspresi demokrasi yang akan ditampilkan tetap berlangsung dengan baik-baik saja,” harapnya.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menjelaskan, dari sisi ekonomi, aksi demonstrasi dapat memengaruhi persepsi pelaku usaha terhadap stabilitas politik dan iklim usaha. Kondisi politik yang tidak stabil dapat menimbulkan kekhawatiran bagi pengusaha khususnya mengenai keberlangsungan permintaan produk mereka.

“Demo bisa menjadi indikator kondisi politik tidak stabil. Bagi pengusaha, keamanan aset investasi penting bagi keberlangsungan bisnis. Ketika kondisi tidak stabil, siapa yang akan membeli barang perusahaan? Kan pasti berkurang bahkan tidak ada permintaan,” jelas Huda.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Demonstrasi