Laba Bersih Astra Capai Rp24,6 Triliun di Kuartal III, Otomotif Jadi Penopang Utama

Pertumbuhan lini bisnis otomotif dan jasa keuangan menjadi motor utama yang menopang tekanan di lini bisnis solusi pertambangan dan alat berat.

Laba Bersih Astra Capai Rp24,6 Triliun di Kuartal III, Otomotif Jadi Penopang Utama

PT Astra International Tbk membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Konglomerasi bisnis ini mencatatkan laba bersih (tanpa memperhitungkan non-recurring items) sebesar Rp24,6 triliun, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp24,7 triliun.

Resiliensi kinerja emiten berkode saham ASII ini didorong oleh perbaikan performa pada kuartal ketiga 2026, yang berhasil menutup perlambatan pada semester pertama. Pertumbuhan lini bisnis otomotif dan jasa keuangan menjadi motor utama yang menopang tekanan di lini bisnis solusi pertambangan dan alat berat.

Namun, jika memperhitungkan non-recurring items—terutama penurunan nilai (impairment) dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas sebesar Rp3 triliun—laba bersih yang dilaporkan Astra terkoreksi 12% menjadi Rp21,6 triliun.

Presiden Direktur Astra, Rudy, mengungkapkan bahwa perbaikan kinerja di kuartal ketiga dipicu oleh beberapa faktor kunci. Di antaranya peningkatan volume kontrak pertambangan, kembali beroperasinya tambang emas Martabe, serta tren pertumbuhan yang konsisten pada lini otomotif.

"Kami memperkirakan faktor-faktor tersebut akan terus menunjang kinerja Grup pada kuartal keempat. Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan core businesses Astra," ujar Rudy dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (28/10/26).

Menara Astra (Foto: Humas)

Dari sisi kinerja sektoral, divisi otomotif mencetak kenaikan laba bersih sebesar 8% menjadi Rp9,8 triliun. Secara nasional, penjualan mobil melonjak 21% menjadi 679.000 unit, sedangkan penjualan mobil Astra tumbuh 13% dengan menguasai market share 49%. Di segmen roda dua, penjualan sepeda motor Honda naik 3% dengan pangsa pasar stabil di angka 77%. Divisi komponen melalui Astra Otoparts juga mencatat lonjakan laba bersih 15% menjadi Rp1,4 triliun.

Lini jasa keuangan turut tumbuh positif dengan laba bersih naik 6% menjadi Rp7,2 triliun, didorong peningkatan pembiayaan konsumen dan bisnis asuransi. Sektor agribisnis dan properti yang terangkum dalam segmen Wider Businesses bahkan melesat 36% menjadi Rp2,6 triliun berkat kenaikan harga kelapa sawit dan kontribusi industrial warehouse platform baru.

Di sisi lain, divisi Solusi Pertambangan dan Alat Berat mengalami penurunan laba bersih (pre-non recurring items) sebesar 28% menjadi Rp5,1 triliun. Penurunan alokasi kuota produksi batu bara nasional (RKAB) menekan permintaan alat berat Komatsu hingga turun 17% menjadi 3.000 unit, serta memangkas volume penjualan batu bara sebesar 23%.

Di tengah dinamika operasional tersebut, Astra terus menjalankan strategi alokasi modal yang agresif melalui aksi korporasi. Selain program share buyback Astra sebesar Rp8 triliun yang sedang berjalan, anak usahanya yakni PT United Tractors Tbk dan PT Astra Agro Lestari Tbk mengumumkan program buyback saham baru pada Oktober 2026 dengan alokasi masing-masing maksimal Rp2 triliun dan Rp400 miliar.

Astra juga tengah menggelar penawaran tender sukarela atas 4,95% saham PT Astra Otoparts Tbk senilai maksimal Rp858 miliar guna meningkatkan kepemilikannya menjadi 84,95%.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)