Indonesia diproyeksikan memiliki kebutuhan akan talenta digital yang mencapai 12 juta orang pada tahun 2030 mendatang. Sementara saat ini, jumlahnya masih berada di bawah 10 juta. Di sisi lain, sektor ekonomi digital juga diproyeksikan memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Kesenjangan ini pun menjadi tantangan besar yang harus diatasi melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah, industri, hingga perguruan tinggi demi mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap menghadapi transformasi digital dan perkembangan teknologi.

Sebagai upaya untuk mengatasi persoalan tersebut, Telkom University (Tel-U) melakukan kerja sama dengan menggandeng National University of Singapore (NUS) untuk meningkatkan daya saing Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pun dilakukan di Kampus Telkom University Jakarta, Senin (06/07/2026).
Director of Strategic Business & Portfolio PT Telkom Indonesia, Seno Soemadji mengatakan, pengembangan talenta ini perlu dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan kesenjangan antara lulusan dari perguruan tinggi dengan kebutuhan dari industri.
“Dari kaca mata industri, kita itu punya masalah gap of talent, yang mana ini bukan masalah unik di Indonesia, di regional pun permasalahannya sama. Kalau kita melihat bagaimana menuju Indonesia Emas 2045, salah satu paradoks yang terjadi itu adalah kita mengharapkan digital economy itu berkontribusi kurang lebih sampai 20%-25% terhadap seluruh pertumbuhan ekonomi, namun saat ini kita baru di angka 7 sampai 8%,” kata Seno.
Jumlah talenta digital dalam negeri saat ini juga masih kurang dari kebutuhannya, sehingga perlu ada percepatan yang dilakukan demi mengisi kekosongan jumlah talenta tersebut.
Kolaborasi pendidikan tinggi dengan universitas terbaik
Kerja sama antara Telkom University dan NUS menjadi tonggak penting dalam penguatan kolaborasi pendidikan tinggi Indonesia dengan salah satu universitas terbaik di dunia. Sehingga, diharapkan melalui kerja sama yang ada, mampu meningkatkan kualitas talenta nasional melalui kolaborasi di bidang pendidikan dan juga riset.
“Tantangan untuk mencapai pertumbuhan menuju Indonesia Emas 2045 itu salah satu kunci mendasarnya adalah talenta, dan talenta ini perlu kita kembangkan dalam perspektif yang lebih luas, kita memahami bahwa globalisasi ini sudah terjadi,” kata Seno
Menurutnya, mahasiswa perlu dibiasakan untuk berinteraksi dengan ekosistem internasional sejak masa pendidikan agar memiliki kemampuan dan daya saing global. NUS pun diharapkan mampu memberikan pengalaman pembelajaran dan kolaborasi dari kerja sama yang dilakukan tersebut.

Di kesempatan yang sama, Rektor Telkom University Suyanto menjelaskan, implementasi dari kerja sama ini akan dilakukan dalam waktu dekat, dengan lebih berfokus ke arah pendidikan dan pengajaran
“Yang pertama terkait dengan international program untuk pembelajaran, lebih banyak ke arah situ, jadi pendidikan dan pengajaran yang akan segera diimplementasikan dalam 3 hari ke depan, itu ada Global Weeks, mengundang para profesor dari NUS salah satunya untuk bisa mengisi perkuliahan,” tambah Suyanto.
Selain itu, kerja sama juga dilakukan untuk riset yang terkait dengan teknologi digital seperti artificial intelligence (AI) dan juga cybersecurity. Telkom University sendiri juga pada tahun 2028 menargetkan kampusnya menjadi National Excellence Entrepreneurial University berbasis SAFE AI atau secure, accountable, fair, dan explainable.
“Ini yang sedang kami kembangkan di Telkom University, dan kami sangat berharap kerja sama ini bisa concern ke arah sana dengan NUS untuk bisa meningkatkan talenta digital di Indonesia. Dan Tel-U sebagai lembaga pendidikan tentunya sangat ingin menghasilkan lulusan-lulusan yang sangat menguasai AI,” tegasnya.
Selain pendidikan dan riset, kerja sama antara Tel-U dan NUS juga berbicara tentang pengabdian kepada masyarakat, di mana mahasiswa atau para dosen bisa memberikan dampak yang nyata untuk masyarakat secara luas. Pengabdian masyarakat dilakukan dengan mengunjungi desa-desa atau wilayah yang perlu mendapatkan penguatan dalam meningkatkan berbagai macam teknologi di masing-masing wilayah.
Menyemai bibit talenta digital
Kerja sama yang dilakukan ini pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan jumlah talenta digital dalam negeri demi mendukung pertumbuhan perekonomian nasional menuju Indonesia Emas 2045.
“Indonesia masih sangat membutuhkan banyak talenta digital, dan juga talenta di bidang AI untuk bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045, tentu saja Telkom University punya peran penting untuk bisa mewujudkan hal tersebut,” ujarnya.
Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Pujo Setio mengatakan, pemerintah juga menyambut baik kerja sama antara perguruan tinggi Indonesia dengan Singapura tersebut.
“Penandatanganan kerja sama ini menandakan capaian signifikan kerja sama antara Indonesia dan Singapura di bidang pengembangan talenta digital dan riset, ini merupakan tindak lanjut pertemuan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan Singapura Gan Kim Yong pada 24 April 2026 di Singapura,” kata Pujo.
Terpisah, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar menjelaskan, memang masih ada kesenjangan antara kebutuhan industri dan juga kemampuan dari lulusan perguruan tinggi dalam negeri. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, hingga akademisi perlu ditingkatkan lagi.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri sudah mulai berkembang, namun perlu diperkuat menjadi systemic partnership. Model kolaborasi ideal ke depan adalah berbasis triple helix synergy yang bekerja sama dalam satu ekosistem terintegrasi,” kata Sanny.
Menekankan kepada outcome-based education
Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi ini dinilai tidak hanya bisa menjadi jembatan yang menyambungkan kesenjangan kemampuan dengan kebutuhan, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang lebih dinamis dan relevan.
Dari sisi pendidikan tinggi, kebijakan yang diperlukan menurutnya harus semakin menekankan kepada outcome-based education, di mana keberhasilan pendidikan diukur dari seberapa cepat lulusannya bisa terserap dan berkontribusi dalam dunia kerja.
“Pada akhirnya, jika kita ingin pendidikan tinggi menjadi motor pertumbuhan ekonomi, maka kita harus memastikan adanya link and match yang kuat, atau bahkan link and lead, di mana pendidikan tidak hanya mengikuti industri, tetapi juga mampu mengantisipasi arah transformasi ekonomi ke depan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Feriyansyah menilai, kerja sama yang dilakukan antara perguruan tinggi dalam negeri dengan kampus-kampus terbaik internasional ini merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam negeri.
“Saya kira kita membutuhkan kolaborasi antara kampus-kampus internasional yang ada dengan perguruan tinggi di Indonesia, itu proses transfer pengetahuannya dan riset berkala internasional itu juga bisa dikembangkan,” ucap Feri.