Prospek pasar saham Indonesia masih dibayangi ketidakpastian global dan faktor domestik, terutama terkait kebijakan lembagapemeringkat indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta kebutuhan peningkatan free float. Meski demikian, pelaku pasar global menilai fundamental jangka panjang pasar modal Indonesia tetap menarik, dengan catatan adanya penyesuaian struktural di pasar.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, mengatakan pasar saham global sejauh ini relatif tahan terhadap berbagai guncangan, mulai dari perang, krisis perbankan, hingga ketegangan geopolitik terbaru di Timur Tengah.
“Dalam jangka panjang, peristiwa besar tersebut tidak banyak mengganggu pasar saham. Dalam jangka pendek memang ada tekanan, tapi secara keseluruhan kinerjanya tetap baik,” kata Herald dalam paparannya, Kamis (23/4/2026).
Ia menegaskan, pasar saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi makro, melainkan kinerja emiten itu sendiri. Karena itu, meski ketidakpastian meningkat, HSBC tetap mempertahankan pandangan positif terhadap saham global, termasuk emerging markets.
Namun, ia menilai Indonesia menghadapi tantangan spesifik, terutama terkait statusnya dalam indeks MSCI. Menurut Herald, pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan tersebut, meski ia tidak melihat skenario penurunan status ke frontier market sebagai kasus dasar.
“Saya pribadi tidak percaya Indonesia akan diturunkan ke Frontier Market,” tegasnya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya peningkatan free float saham di Indonesia. Untuk banyak emiten, porsi saham publik perlu ditingkatkan hingga minimal 15%, baik melalui aksi korporasi seperti rights issue maupun divestasi pemegang saham pengendali.
Langkah ini berpotensi menciptakan tekanan jangka pendek di pasar karena bertambahnya pasokan saham.
“Ini bisa cukup besar, setidaknya beberapa miliar dolar, dan akan menjadi overhang di pasar. Artinya ada tambahan suplai saham, sehingga perlu harga yang cukup menarik untuk menarik permintaan investor,” jelas Herald.
Dalam konteks regional, HSBC saat ini masih bersikap hati-hati terhadap pasar saham Indonesia dan menempatkannya pada posisi underweight. Salah satu faktor utamanya adalah potensi arus keluar dana asing, terutama jika ketidakpastian MSCI berlanjut.
Skenario terburuk, yakni jika Indonesia benar-benar dikeluarkan dari indeks emerging market MSCI, dinilai dapat memicu tekanan signifikan. Dana pasif seperti ETF global akan dipaksa melepas kepemilikannya, diikuti kemungkinan keluarnya investor aktif.
“Artinya akan ada penjualan cukup besar karena dana pasif harus keluar. Investor aktif juga bisa meninggalkan pasar karena tidak lagi masuk dalam mandat investasi mereka,” ujar Herald.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berisiko menurunkan likuiditas pasar dan mengganggu fungsi pasar saham secara keseluruhan, merujuk pada pengalaman negara lain seperti Pakistan.
Meski begitu, ia menilai regulator Indonesia tengah berupaya menjaga posisi di indeks global, termasuk melalui reformasi pasar. Dalam jangka panjang, peningkatan free float justru dinilai positif karena akan memperbaiki likuiditas, memperluas basis investor, dan mendorong lebih banyak perusahaan untuk melantai di bursa.
Sementara itu, dari sisi makroekonomi, Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai arus modal asing akan menjadi faktor kunci bagi stabilitas pasar keuangan Indonesia, termasuk nilai tukar dan pasar saham.
Menurut dia, tantangan utama ke depan adalah menarik aliran dana, baik portofolio (foreign portfolio investment/FPI) maupun investasi langsung (foreign direct investment/FDI), di tengah meningkatnya aversi risiko global.
“Yang paling penting adalah apakah Indonesia bisa menarik cukup arus modal untuk membiayai defisit eksternal. Ini akan menjadi tantangan besar,” kata Pranjul.
Ia menambahkan, ketidakpastian global, termasuk krisis energi dan penguatan dolar AS, berpotensi menekan aliran dana ke emerging markets, termasuk Indonesia.
Dalam jangka pendek, pasar saham juga dipengaruhi oleh posisi investor global. Herald mencatat, saham-saham likuid seperti sektor perbankan, telekomunikasi, dan konsumer menjadi yang paling rentan terhadap arus keluar dana saat terjadi peningkatan risiko global.
Namun, secara keseluruhan, prospek jangka panjang dinilai tetap konstruktif. Herald memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di kisaran 7.500 hingga akhir tahun, yang menunjukkan pasar saat ini sudah mendekati target tersebut.
Di tengah berbagai tantangan, kombinasi reformasi pasar, disiplin fiskal, dan potensi peningkatan likuiditas dinilai menjadi fondasi penting bagi daya tarik pasar saham Indonesia ke depan.
“Dalam jangka pendek ada tantangan, tapi dalam jangka panjang kami tetap cukup positif,” tutup Herald.
Belajar dari global, pasar RI siap hadapi volatilitas
Penundaan rebalancing oleh MSCI dinilai memberi ruang bagi Indonesia untuk melanjutkan reformasi pasar modal, dengan pengalaman global seperti India dan Hong Kong menjadi acuan dalam mengelola dampak kebijakan tersebut.
Riset Henan Asset Management, Kamis (23/4/2026), menyebut langkah ini menghindarkan pasar domestik dari risiko penurunan status menjadi frontier market yang berpotensi memicu arus keluar dana pasif hingga 7,8 miliar dolar AS atau lebih dari Rp120 triliun.
Meski demikian, penundaan tersebut tidak sepenuhnya meredakan ketidakpastian. Investor masih menunggu arah kebijakan MSCI berikutnya, sehingga periode wait and see diperkirakan berlanjut dalam waktu dekat.
Dalam risetnya, Henan Asset Management menilai langkah regulator pasar modal Indonesia saat ini merupakan bagian dari reformasi struktural, bukan sekadar penyesuaian jangka pendek. Reformasi tersebut mencakup penerapan konsep High Shareholding Concentration (HSC), peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen, serta penyesuaian batas minimum free float sesuai praktik global.
Pengalaman global menunjukkan dinamika serupa. Di India, penyesuaian aturan free float oleh MSCI sempat memicu koreksi tajam di pasar saham. Namun, dalam periode sekitar enam bulan, pasar kembali pulih dan mencatat penguatan seiring meningkatnya kepercayaan investor terhadap struktur pasar yang lebih transparan.
“Sementara itu, Hong Kong menerapkan pendekatan bertahap dalam memperketat aturan kepemilikan publik. Strategi tersebut memungkinkan reformasi berjalan lebih stabil tanpa memicu gejolak besar di pasar, sekaligus menjaga kepercayaan investor selama proses transisi,” tulis Henan Asset Management.
Baca juga:

Momentum reformasi ini juga didukung oleh pertumbuhan basis investor domestik yang mencapai sekitar 23 juta investor ritel. Jumlah tersebut menjadi faktor penopang penting di tengah potensi tekanan dari investor global, terutama jika terjadi perubahan komposisi indeks atau penyesuaian bobot saham.
Di sisi lain, peningkatan transparansi dan kualitas data kepemilikan saham diharapkan dapat menarik partisipasi investor asing dalam jangka panjang. Reformasi ini diarahkan untuk menciptakan pasar yang lebih likuid, akuntabel, dan sesuai dengan standar internasional.
Meski demikian, pasar saham Indonesia masih berpotensi menghadapi volatilitas dalam waktu dekat. Ketidakpastian terkait keputusan MSCI berikutnya, serta kemungkinan perubahan struktur indeks, menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.
Di tengah tekanan tersebut, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai reformasi pasar saham menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan investor. Peneliti LPEM UI, Teuku Riefky, menyebut langkah pembenahan IHSG sudah sejalan dengan permintaan MSCI, namun implementasinya masih perlu diperkuat.
“Saya rasa sudah tepat, ini sejalan dengan poin MSCI untuk meminta IHSG berbenah,” ujar Riefky kepada SUAR.
Ia mengakui reformasi tersebut berpotensi menahan aliran dana asing dalam jangka pendek, tetapi dinilai sebagai konsekuensi yang harus dihadapi untuk memperbaiki struktur pasar.
“Tentu dana asing untuk sementara waktu akan terhambat alirannya. Tapi ini merupakan reform yang perlu dilakukan,” tuturnya.
Riefky menyoroti dua isu utama, yakni keterbatasan free float dan rendahnya transparansi kepemilikan saham. Menurutnya, kedua faktor ini memengaruhi kualitas pasar dan kepercayaan investor global.
Ia juga mengingatkan bahwa struktur kepemilikan yang terkonsentrasi dapat mengganggu pembentukan harga saham di pasar. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran regulator dalam memastikan seluruh catatan MSCI dapat diimplementasikan secara menyeluruh.
“Harusnya BEI dan OJK bisa memastikan catatan dari MSCI bisa diimplementasikan secara menyeluruh. Ini belum cukup terutama terkait transparansi,” ujar Riefky.
Dalam skenario terbaik, MSCI diharapkan dapat menyetujui reformasi yang dilakukan Indonesia sehingga kepercayaan investor tetap terjaga. Namun, ia juga mengingatkan risiko jika evaluasi tersebut belum memberikan hasil yang diharapkan.
“Terbaik bagi Indonesia adalah MSCI meng-approve semua reform yang dilakukan, skenario terburuk adalah masih menjadi catatan dan kita tidak masuk MSCI lagi sehingga arus modal akan keluar secara lebih masif,” pungkasnya.