Musim pembagian dividen oleh emiten digadang-gadang menjadi penopang utama pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kuartal II 2026. Ini bisa jadi faktor pendongkrak kinerja pasar modal di tengah tekanan eksternal tensi geopolitik dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menyatakan momentum pembagian laba emiten berkapitalisasi besar berpotensi menjaga likuiditas pasar dan menjadi katalis positif dalam jangka pendek.
Dalam paparannya di Media Day, Selasa (21/4/2026), Nafan menjelaskan, puncak musim dividen, khususnya dari sektor perbankan dan energi, mendorong aliran dana kembali ke pasar saham. Dana tersebut umumnya direinvestasikan oleh investor sehingga membantu menopang pergerakan IHSG di tengah volatilitas.
“Kalau kita melihat dari sisi tailwinds di sini, kita melihat puncak musim dividen ini semestinya bisa menjadikan katalis positif bagi IHSG,” kata Nafan.
Selain dividen, pelaku pasar juga menantikan rilis laporan keuangan kuartal I 2026. Nafan menilai kinerja emiten yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba dua digit berpotensi memicu re-rating valuasi dan memperkuat sentimen positif di pasar.
Dari sisi fundamental makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi faktor penentu. Ia menyebut proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal I 2026 diharapkan dapat melampaui capaian sebelumnya sebesar 5,39% secara tahunan. Jika terealisasi, kondisi tersebut dinilai akan mendukung tren penguatan IHSG.
Namun demikian, sejumlah risiko eksternal masih membayangi. Ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi memicu tekanan inflasi impor dan menekan margin laba emiten, terutama sektor manufaktur. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang bertahan di atas level Rp17.000 per dolar AS membuat investor asing cenderung bersikap defensif.
Ia menambahkan, kondisi suku bunga yang berpotensi bertahan tinggi (higher for longer) juga menjadi tantangan bagi sektor-sektor tertentu seperti properti dan teknologi. Di sisi lain, kebijakan regulator terkait pemantauan konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration (HSC) berpotensi meningkatkan volatilitas pada saham-saham tertentu.
Meski menghadapi tekanan, Nafan menilai IHSG masih berada dalam fase bullish consolidation. Secara teknikal, indeks diproyeksikan bergerak menuju area resistance di kisaran 8.046 hingga 8.312, dengan skenario negatif di level 6.744.
Baca juga:

Dari perspektif historis, imbuhnya, periode April hingga Juli juga cenderung menjadi fase positif bagi pasar saham Indonesia. Ia menilai pola tersebut dapat meningkatkan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.
Dalam strategi investasi, Nafan menekankan pentingnya memanfaatkan momentum saham diskon dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Investor disarankan fokus pada saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik, serta mengombinasikan portofolio antara sektor defensif dan sektor berbasis pertumbuhan.
“Strategi investasi 2024, dalam tanda kutip berburu saham diskon. Tentunya kita juga harus fokus ke panen dividen,” tutur dia.
Ia juga menyarankan penerapan strategi pembelian bertahap mengingat volatilitas pasar masih tinggi, serta pentingnya diversifikasi untuk mengelola risiko.
Dividen jadi penyangga likuiditas
Senada, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai bahwa momentum musim dividen pada kuartal II tahun 2026 dapat menjadi penopang likuiditas pasar, di tengah ketidakpastian makro, tekanan nilai tukar rupiah, serta kebijakan moneter yang cenderung ketat.
Rully menjelaskan, sejak awal April 2026, pergerakan pasar saham cenderung positif, meskipun masih diwarnai berbagai risiko.
“Pasar saham cenderung positif cuman kita lihat masih cukup banyak hal yang perlu diperhatikan, perlu diwaspadai karena menurut kita bahwa dari sisi uncertainties-nya baik dari global maupun dari domestik kondisi ekonominya juga cenderung masih cukup challenging,” ungkap Rully.
Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pasar, terutama melalui pergerakan harga minyak. Meski sempat turun dari level di atas USD100 per barel, harga minyak masih bertahan tinggi dan berpotensi memicu tekanan inflasi global. Kondisi ini membuka risiko perlambatan ekonomi yang disertai inflasi atau stagflasi, sehingga ruang penurunan suku bunga oleh bank sentral menjadi lebih terbatas.
“Central Banks itu akan lebih wait and see terkait dengan potensi adanya tekanan dari sisi inflasi,” kata Rully.
Di Amerika Serikat, peluang penurunan suku bunga masih terbuka, namun diperkirakan mundur ke kuartal IV tahun 2026. Sementara itu, bank sentral di Eropa dan Inggris cenderung lebih hawkish dalam merespons tekanan inflasi, yang berdampak pada penguatan euro dan pound sterling serta pelemahan indeks dolar.
Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah masih menjadi perhatian utama. Nilai tukar sempat menyentuh level mendekati Rp17.200 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dinilai dipengaruhi oleh kebutuhan dolar yang meningkat, termasuk untuk impor dan potensi repatriasi dividen pada kuartal II.
“Apalagi nanti di kuartal 2 itu akan ada repatriasi dividen. Jadi kayaknya tekanan terhadap Rupiah kita lihat untuk dalam jangka pendek jangka menengah itu masih akan cukup besar,” ucap Rully.
Meski demikian, momentum musim dividen ini juga berpotensi menjadi penopang likuiditas di pasar saham. Arus dana dari pembagian dividen emiten berkapitalisasi besar dapat kembali masuk ke pasar, menjaga aktivitas transaksi di tengah tekanan eksternal.
Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. BI juga mengoptimalkan instrumen moneter, khususnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), untuk menyerap likuiditas dan menjaga stabilitas nilai tukar. Sepanjang tiga bulan pertama 2026, BI tercatat telah menyerap likuiditas sekitar Rp115 triliun melalui instrumen tersebut.
“Jadi practically memang saat ini sendiri Bank Indonesia sedang dalam mode pengetatan sebenarnya pengetatan moneter dalam jangka pendek,” jelas Rully.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia masih berada di level relatif aman, setara enam bulan impor, meski terjadi penurunan dalam beberapa bulan terakhir akibat intervensi pasar. Namun, dibandingkan negara lain seperti Thailand dan Filipina, posisi cadangan devisa Indonesia dinilai relatif lebih terbatas.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Indonesia diproyeksikan tetap stabil di kisaran 5% pada 2026, sedikit lebih rendah dari ekspektasi awal 5,3%, seiring kondisi global yang kurang mendukung. Meski demikian, risiko resesi dinilai kecil, didukung oleh kebijakan fiskal yang ekspansif.
“Dengan kombinasi tekanan eksternal, stabilitas domestik, serta dukungan musiman dari dividen, pasar saham Indonesia diperkirakan bergerak dalam pola volatil dengan kecenderungan bertahan, sembari menunggu kejelasan arah kebijakan global dan stabilisasi nilai tukar,” pungkas Rully.
Daftar Emiten yang Guyur Dividen
Di tengah kondisi tersebut, aliran dividen dari emiten menjadi salah satu faktor yang menjaga likuiditas pasar. Hal ini tercermin dari maraknya pembagian dividen oleh emiten Tanah Air, salah satunya dari sektor perbankan swasta.
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 17 April 2026, perseroan menyetujui pembagian dividen sebesar Rp4,07 triliun atau Rp161,77 per saham. Dividen BNGA dijadwalkan dibayarkan pada 13 Mei 2026.
Kemudian, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) juga menetapkan pembagian dividen sebesar Rp580,08 miliar atau Rp7,6 per saham. Sementara itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membagikan dividen sebesar Rp1,4 triliun atau Rp142 per saham, setara 35% dari laba bersih Rp4 triliun. Pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 30 April 2026.
Di sisi lain, PT Bank Permata Tbk (BNLI) menunjukkan tren peningkatan rasio pembayaran dividen dalam beberapa tahun terakhir. Tahun ini, BNLI membagikan dividen sebesar Rp1,3 triliun atau Rp35 per saham, dengan jadwal pembayaran pada 7 Mei 2026.
Selain itu, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) juga turut membagikan dividen sebesar Rp45 per saham dengan DPR sebesar 20%. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 4 Mei 2026.
Tak hanya perbankan saja, beberapa emiten lain juga turut mengguyurkan dividen untuk pemegang sahamnya. Salah satunya adalah emiten batubara, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang mengucurkan dividen besar. Berdasarkan keterangannya di BEI, perseroan menetapkan dividen tunai final sebesar US$197,5 juta yang akan dibayarkan pada Mei 2026. Keputusan tersebut merupakan bagian dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai US$447,69 juta.
Pembagian dividen ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 17 April 2026 yang dipimpin Presiden Direktur Iwan Dewono Budiyuwono. Secara total, hampir seluruh laba bersih dibagikan kepada pemegang saham, dengan porsi sekitar 99,96%, termasuk dividen interim sebesar US$250 juta yang telah dibayarkan pada Januari 2026.
Selain membagikan dividen, RUPST ADRO juga menyetujui program pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai hingga Rp5 triliun, sebagai bagian dari strategi pengelolaan modal perseroan.
Di sisi lain, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) juga mengumumkan pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2025. Berdasarkan keterangan manajemen pada 20 April 2026, jadwal cum dan ex dividen di pasar reguler dan negosiasi berlangsung pada 24 April dan 27 April 2026, sedangkan di pasar tunai pada 28 April dan 29 April 2026.
Daftar pemegang saham yang berhak atas dividen ditetapkan pada 28 April 2026 (recording date). Perseroan akan membagikan dividen sebesar US$8.888.000 atau setara US$0,00107766 per saham, dengan jadwal pembayaran pada 20 Mei 2026. Keputusan tersebut merupakan hasil RUPS Tahunan yang diselenggarakan pada 16 April 2026.
Sementara itu, emiten penyewaan mini gas compressor untuk monetisasi minyak dan gas bumi, PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO), juga membagikan dividen sebesar Rp2 per saham. Jadwal cum date ditetapkan pada 17 April 2026, ex date pada 20 April 2026, tanggal pencatatan pada 21 April 2026, dan pembayaran dividen dijadwalkan pada 8 Mei 2026.
Direktur SICO, Vita Diani Satiadhi, menyatakan bahwa kebijakan dividen perseroan tetap mempertimbangkan kebutuhan ekspansi.
“Fokus utama perseroan adalah pertumbuhan berkelanjutan (sustainable growth). Pemberian dividen merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk menjaga kepercayaan investor, meningkatkan kredibilitas dan reputasi di pasar, serta memberikan return yang optimal dan konsisten kepada pemegang saham,” ujar Vita.
Ia menambahkan bahwa perseroan menjaga keseimbangan antara distribusi laba dan penguatan bisnis.
“Dividen payout ratio perseroan berada di kisaran 30% dari laba bersih, sementara sisanya dialokasikan sebagai laba ditahan untuk reinvestasi bisnis, penguatan bisnis inti, serta menjaga likuiditas dan kebutuhan operasional,” kata Vita.