Artikel ini merupakan opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan
Kebijakan menaikkan bea keluar batubara tidak hanya sekadar instrumen meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga menjadi mekanisme kendali agar eksploitasi sumber daya alam memberikan kontribusi maksimal bagi kas negara di masa krisis.
“Batas defisit itu adalah alat yang baik untuk mendisiplinkan diri kita. Kami tidak punya rencana untuk mengubahnya kecuali ada keadaan darurat yang sangat besar seperti COVID-19. Saya berharap kita tidak perlu mengubahnya,” ucap Presiden Prabowo.
Wacana pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di atas 3% dari produk domestik bruto (PDB) mulai menjadi perbincangan di tengah meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah dan ketidakpastian ekonomi global.
percepatan belanja pemerintah sebesar Rp809 triliun menjadi salah satu upaya menjaga momentum pertumbuhan Kuartal-I yang diharapkan mencapai 5,5%.
Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings pada Kamis (5/2/2026) malam yang resmi menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif. IHSG pun merespon negatif. Bagaimana ke depan?
Realisasi penerimaan negara mencapai Rp 172,7 triliun hingga 31 Januari 2026. Angka ini tercatat tumbuh sebesar 9,8 persen secara tahunan
Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2025 tercatat menurun menjadi USD 423,8 milar, lebih rendah dibandingkan posisi Oktober 2025 sebesar USD 424,9 miliar. Penurunan ini diikuti dengan perlambatan pertumbuhan tahunan ULN yang hanya mencapai 0,2% secara year-on-year (yoy).
Walau penerimaan pajak 2025 tak berhasil penuhi target, tapi pemerintah justru terus menaikkan target penerimaan pajak.
Realisasi penerimaan dan belanja negara hingga akhir November 2025 masing-masing mencapai 82,1% dan 82,5% dari outlook APBN 2025.
Kota-kota metropolis seperti Surabaya dan Bandung menjadi kota yang mampu bertahan di tengah guncangan kebijakan fiskal. Berdasarkan data mengenai Pendapatan Asli Daerah (PAD), secara stabil Surabaya dan Bandung menempati posisi dua teratas PAD tertinggi selama 4 tahun, sejak 2022 hingga 2025.
Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota-kota di Indonesia selama periode 2022-2024 menunjukkan dinamika yang kontras, namun progresif, di mana pencapaian yang tinggi tidak lagi secara eksklusif dimiliki oleh kota-kota besar.
Menampilkan 12 dari 27 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.