Ringkasan Eksekutif: Listrik Mati Merugikan Usaha

Kejadian pemaddaman listri bergilir di Jawa merugikan banyak pihak. Solusinya tata kelola batu bara jangka panjang.

Ringkasan Eksekutif: Listrik Mati Merugikan Usaha
Ilustrasi listrik padam Photo by Nhan Hoang / Unsplash

Pemadaman listrik bergilir di berbagai daerah di Jawa kembali menjadi keluh kesah publik. Karena berdampak terhadap pelaku usaha, dari UMKM hingga sektor manufaktur, mengingat listrik merupakan salah satu elemen utama penunjang produktivitas.

Penyebab utamanya karena pasokan listrik ke PT PLN tersendat. Penyebabnya lantaran pembangkit listrik yang dikelola PLN maupun milik Independent Power Producer (IPP) sedang kekurangan pasokan batu bara. 

Ada beberapa penyebab utama, listrik mati bergilir di Jawa:

  • Harga ekspor lebih menguntungkan. PLN membeli batubara melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) dengan harga yang ditetapkan pemerintah untuk pembangkit sebesar USD 70/ton, sementara harga ekspor yang mencapai USD 123,91/ton jika menggunakan HBA periode II Juni 2026.
  • Pelaksanaan DMO tidak selalu efektif. Setiap produsen batubara diwajibkan memasok sebagian produksinya ke pasar domestik, termasuk PLN. Namun, dalam praktiknya, tidak semua perusahaan mampu atau mau memenuhi kewajiban tersebut secara optimal sehingga stok pembangkit listrik menurun.
  • Ketidakpastian perijinan tambang. Pada awal 2026 terjadi gangguan pasokan batubara karena sejumlah perusahaan tambang menunggu persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah. Sampai saat ini, banyak perusahaan yang belum mendapatkan keputusan RKAB. Selama izin produksi belum jelas, pengiriman batu bara ke pembangkit ikut tertunda.
  • Ketidaksesuaian spesifikasi batubara. PLTU milik PLN dan IPP tidak bisa menggunakan sembarang batubara. Banyak pembangkit membutuhkan batubara dengan spesifikasi kalori tertentu. Sementara tidak semua tambang menghasilkan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Solusinya banyak yang melakukan blending tapi hal ini menyebabkan harga batubara tidak lagi ekonomis.

Baca selengkapnya