Program Magang Nasional Lanjut di 2026, Dunia Usaha Siap Tampung Peserta

Program Magang Nasional 2026 akan dilakukan secara bertahap melalui tiga batch, dengan masing-masing gelombang menargetkan 50 ribu peserta lulusan baru. Gelombang pertama dijadwalkan dimulai pada Juni mendatang.

Program Magang Nasional Lanjut di 2026, Dunia Usaha Siap Tampung Peserta
Pencari kerja mengisi data diri menggunakan gawainya saat mengunjungi bursa kerja di Gelanggang Remaja Jakarta Utara, Jakarta, Selasa (19/5/2026). Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Februari 2026 sebesar 7,24 juta orang atau 4,68 persen, turun 0,08 persen dibanding Februari 2025. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/hma
Daftar Isi

Pemerintah memastikan Program Magang Nasional tetap berlanjut pada 2026 dengan peningkatan kapasitas peserta. Jumlah peserta ditargetkan bertambah menjadi 150 ribu peserta tahun ini, dari 100 ribu peserta pada 2025.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan pelaksanaan Program Magang Nasional 2026 akan dilakukan secara bertahap melalui tiga batch, dengan masing-masing gelombang menargetkan 50 ribu peserta lulusan baru. Gelombang pertama dijadwalkan dimulai pada Juni mendatang.

Sementara itu, anggaran upah peserta telah disepakati bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Keuangan, dengan pendanaan berasal 100 persen dari APBN.

“Untuk uang sakunya tetap sama, yakni sebesar upah minimum di masing-masing lokasi magang. Apakah menggunakan upah minimum kabupaten/kota atau upah minimum provinsi. Khusus Jakarta menggunakan upah minimum provinsi, sedangkan daerah lain mengikuti upah minimum kabupaten/kota,” kata Yassierli dalam Konferensi Pers Penutupan Program Magang Nasional Batch 2 di Kementerian Ketenagakerjaan, Selasa (26/5/2026).

Pemerintah juga telah meminta perusahaan mitra membuka lowongan magang dan menyebarkannya melalui kanal resmi masing-masing.

Sementara itu, Program Magang Nasional 2025 resmi ditutup bersamaan dengan berakhirnya batch kedua pada Selasa (26/5). Total peserta program sepanjang tahun lalu mencapai sekitar 76 ribu orang.

Dari jumlah tersebut, sekitar 14 ribu peserta mengikuti batch pertama, sedangkan sekitar 62 ribu peserta lainnya berasal dari batch kedua.

Yassierli menyebut tingginya partisipasi peserta menunjukkan besarnya minat generasi muda untuk memperoleh pengalaman langsung di dunia industri.

“Melalui kegiatan ini, peserta dapat mengenal sistem kerja di perusahaan sekaligus membangun kesiapan menghadapi persaingan kerja yang semakin kompetitif,” ujar dia.

Baca juga:

Dunia Usaha Butuh Tenaga Kerja Tangguh dan Adaptif
Hanya mengandalkan sumber daya manusia unggul tidak cukup dalam menghadapi masa depan dunia usaha yang semakin cepat berubah.

Hasil evaluasi program menunjukkan capaian yang positif. Pada batch pertama, sebanyak 85 persen peserta menyatakan puas dan sangat puas terhadap penyelenggaraan program, sementara sekitar 14 persen lainnya mengaku cukup puas. Tingkat ketidakpuasan tercatat hanya sebesar 0,7 persen.

Penilaian positif juga diberikan perusahaan mitra. Dari sekitar 4 ribu perusahaan yang terlibat pada batch pertama, sebanyak 81 persen menyatakan puas dan sangat puas terhadap pelaksanaan program magang. Adapun penilaian negatif hanya berada di angka 0,4 persen.

Selain itu, Program Magang Nasional dinilai memberi manfaat signifikan bagi peserta. Sekitar 35 persen peserta batch pertama bahkan memperoleh tawaran kerja di tempat mereka menjalani program magang.

“Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan magang dapat membuka akses lebih cepat bagi generasi muda untuk masuk ke dunia kerja,” pungkas Yassierli.

Serapan tenaga kerja dari dunia usaha

Menanggapi keberlanjutan Program Magang Nasional tahun ini, Ketua Komite Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Subchan Gatot menilai dunia usaha memiliki kesiapan tinggi untuk menyerap peserta terutama jika pemerintah tetap memberikan dukungan penuh melalui skema insentif seperti pelaksanaan batch sebelumnya.

Menurutnya, dukungan pembiayaan dari pemerintah menjadi faktor penting yang mendorong perusahaan bersedia membuka lebih banyak posisi magang bagi lulusan baru.

"Kesiapan serapan dunia usaha sangat tinggi jika didorong oleh skema insentif 100% oleh pemerintah seperti batch sebelumnya. Sektor usaha yang paling banyak menyerap peserta magang adalah perbankan dan keuangan, manufaktur dan otomotif, logistik dan transportasi, FMCG & ritel," katanya pada SUAR, Rabu (27/5/2026).

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan program magang. Salah satu yang paling sering ditemukan adalah ketidaksesuaian antara pekerjaan yang diberikan perusahaan dengan kompetensi atau latar belakang keilmuan peserta. Lalu, ada juga perusahaan yang membebankan jam kerja berlebih di luar ketentuan yang berlaku.

Terlepas dari kendala yang dihadapi, Program Magang Nasional dinilai merupakan langkah strategis dan realistis untuk mengatasi fenomena skill mismatch yang selama ini banyak dialami fresh graduate. Ia menilai program tersebut dapat menjadi jembatan antara kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan pendidikan yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Gatot juga menyoroti data Kementerian Ketenagakerjaan yang menunjukkan sekitar 20 persen hingga 35 persen peserta magang berhasil direkrut menjadi karyawan tetap di perusahaan tempat mereka menjalani magang. Menurutnya, jika angka tersebut benar, maka hal itu menjadi sinyal positif bahwa program magang mampu membuka akses kerja lebih cepat bagi generasi muda.

"Tinggal mengatasi sisanya yang belum terserap. Kami berharap investasi asing bisa masuk ke Indonesia dan membangun industri dalam negeri sehingga bisa menyerap lebih banyak lagi generasi muda kita," kata Gatot.

Tenaga kerja terdidik

Sementara itu, Pengamat Ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjudin Nur Effendi menilai Program Magang Nasional cukup positif untuk membantu mengurangi pengangguran terdidik, terutama bagi lulusan SMA, SMK, dan diploma yang masih kesulitan masuk ke dunia kerja.

Meski mengaku belum melakukan riset khusus terkait efektivitas program tersebut, Tajudin mengatakan program magang dapat menjadi sarana peningkatan keterampilan bagi para pencari kerja muda.

“Menurut hemat saya, itu sudah cukup baik karena bisa memberikan skill pada tenaga kerja kita yang sekarang jumlahnya menganggur terutama yang terdidik cukup tinggi,” kata Tajudin saat dihubungi, Rabu (27/5/).

Penjaga stan perusahaan memberikan informasi lowongan pekerjaan kepada pencari kerja pada bursa kerja di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (7/5/2026). ANTARA FOTO/Makna Zaezar/tom.

Ia menilai keputusan pemerintah menambah kuota peserta magang dari 100 ribu menjadi 150 ribu orang pada 2026 merupakan langkah yang baik di tengah tingginya angka pengangguran terdidik.

Meski demikian, Tajudin mengingatkan pemerintah perlu memastikan kesiapan industri dalam menampung tambahan peserta magang tersebut. Menurutnya, peningkatan kuota peserta otomatis membutuhkan lebih banyak perusahaan mitra.

Karena itu, ia meminta Kementerian Ketenagakerjaan lebih selektif dalam memilih perusahaan yang terlibat agar peserta magang tidak hanya dijadikan tenaga kerja murah.

Menurut Tajudin, perusahaan yang menerima peserta magang harus benar-benar mampu memberikan pelatihan dan pengalaman kerja yang sesuai, bukan sekadar memanfaatkan peserta untuk kebutuhan operasional.

“Seleksi perusahaan untuk magang itu harus perlu hati-hati. Jangan sembarangan, kasihan anak-anak malah jadi korban,” katanya.

Baca juga:

Program Magang Bergaji Untuk Menekan Pengangguran Kalangan Terdidik
Pemerintah membuka pendaftaran program Magang Bergaji untuk “fresh graduate” mulai 15 Oktober nanti. Hal ini menyusul pasca diundangkannya Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 8 Tahun 2025 pada akhir September lalu.

Dalam jangka panjang, Tajudin menilai program magang dapat membantu mengurangi pengangguran jika mampu menjangkau ratusan ribu peserta. Selain itu, program ini dinilai bisa menjadi jembatan untuk mengatasi mismatch antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Namun, ia menegaskan program magang saja tidak cukup tanpa penciptaan lapangan kerja baru.

Menurutnya, pemerintah tetap harus mendorong industrialisasi dan investasi agar peserta yang sudah mendapatkan pelatihan memiliki peluang kerja setelah menyelesaikan program magang.

“Jangan sampai mereka dilatih tapi tidak bekerja. Pemerintah juga harus menciptakan peluang kerja bagi mereka,” kata Tajudin.

Baca selengkapnya

Ω