Bidik Ekspor Perikanan ke Mesir, Seberapa Besar Peluang Indonesia?

Bidik Ekspor Perikanan ke Mesir, Seberapa Besar Peluang Indonesia?

Mesir membuka peluang ekspor baru bagi produk perikanan asal Indonesia. Logistik dan standar mutu perlu dipersiapkan.

Bidik Ekspor Perikanan ke Mesir, Seberapa Besar Peluang Indonesia?
Dalam Artikel Ini

Penguatan kerja sama Indonesia dan Mesir di sektor kelautan dan perikanan berpotensi membuka peluang baru bagi ekspor produk perikanan nasional. Namun, Indonesia masih perlu memperkuat penetrasi pasar, mengatasi hambatan logistik, dan meningkatkan daya saing agar peluang tersebut dapat menghasilkan transaksi yang lebih besar.

Peluang itu semakin terbuka setelah Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi sepakat memperkuat kerja sama bilateral, termasuk di sektor kelautan dan perikanan, dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026).

Presiden Prabowo Subianto (kanan) bersama Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi (kiri) menyampaikan keterangan pers usai pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026). Presiden Prabowo menegaskan hubungan Indonesia dan Mesir akan terus tumbuh semakin erat dan memberi manfaat yang nyata bagi kedua bangsa dan rakyat masing-masing negara. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/bar

Pengamat Ekonomi Kelautan dan Perikanan Suhana menilai, Mesir berpotensi menjadi salah satu pasar tujuan diversifikasi ekspor produk perikanan Indonesia. 

Mengutip analisis data Trade Map (2026), nilai impor kelompok produk perikanan Mesir pada 2025 mencapai USD 815,4 juta, meningkat 8,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Suhana menilai besarnya pasar tersebut belum diikuti oleh kuatnya penetrasi produk Indonesia. Nilai pasokan produk perikanan Indonesia ke Mesir baru mencapai sekitar US$2,72 juta atau setara 0,33% dari total impor negara tersebut.

"Artinya, peluang Indonesia bukan sekadar mempertahankan ekspor yang sudah ada, melainkan meningkatkan penetrasi pasar secara terarah," katanya pada SUAR, Senin (12/10/206). 

Pilih Komoditas Unggulan

Suhana menilai, ada  tiga faktor yang membuat Mesir menarik untuk dijajaki. Pertama, skala impor yang cukup besar sehingga memberikan ruang bagi pemasok baru maupun pemasok yang ingin memperbesar pangsa pasar.  Kedua,  struktur impor Mesir mencakup beragam komoditas, mulai dari tuna olahan, ikan pelagis beku, udang, hingga cumi-cumi dan sotong. 

Ketiga,  Mesir dapat dijajaki sebagai salah satu pintu masuk untuk memperluas hubungan dagang Indonesia dengan kawasan Afrika dan Timur Tengah, meskipun akses ke pasar negara lain tetap bergantung pada ketentuan masing-masing.

Dari sisi komoditas, Suhana menilai tuna olahan dan tuna kaleng menjadi salah satu produk yang layak diprioritaskan.  Nilai impor Mesir untuk produk tuna, cakalang, dan bonito yang diolah atau diawetkan dalam kelompok HS 160414 mencapai sekitar USD 173,9 juta pada 2025.

Nelayan menata ikan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sodohoa, Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (27/9/2026). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat ekspor produk perikanan Sulawesi Tenggara hingga pertengahan 2026 mencapai 738 ton senilai Rp171 miliar dan telah menjangkau pasar di Amerika Serikat, Meksiko, Jepang, Australia, Singapura, Filipina, Thailand, Kanada, serta Republik Dominika. ANTARA FOTO/Andry Denisah/tom.

Selain itu, peluang juga terbuka pada komoditas ikan pelagis beku, khususnya makarel dan ikan sejenis.Indonesia juga berpeluang memperbesar ekspor udang beku, seiring nilai impor Mesir yang mencapai USD 91,2 juta. Adapun impor cumi-cumi dan sotong beku tercatat sekitarUSD 36,9 juta. 

Meski demikian, Suhana mengingatkan bahwa besarnya nilai impor belum otomatis menjamin produk Indonesia dapat memenangkan persaingan. Menurutnya, ada empat tantangan utama yang harus ditangani secara bersamaan, yakni biaya logistik, pemenuhan standar dan persyaratan impor, keterbatasan informasi pasar, serta persaingan dengan negara pemasok lain.

Biaya Logistik dan Standar Mutu Jadi Tantangan

Dari sisi logistik, ia mengatakan jarak Indonesia–Mesir cukup jauh sehingga biaya angkutan, waktu pengiriman, ketersediaan kontainer berpendingin, dan pengelolaan rantai dingin menjadi faktor penting.

"Karena itu, eksportir perlu menghitung biaya logistik secara menyeluruh, bukan hanya harga produk di tingkat pabrik. Konsolidasi pengiriman, kontrak logistik yang lebih efisien, dan kepastian jadwal kapal dapat membantu meningkatkan daya saing," katanya. 

Dari sisi standar mutu dan kepatuhan terhadap persyaratan impor, produk perikanan Indonesia harus memenuhi ketentuan keamanan pangan, kesehatan ikan, ketertelusuran, pelabelan, dan dokumen ekspor-impor yang berlaku di Mesir. Persyaratan spesifik perlu diverifikasi untuk setiap jenis produk dan bentuk pengolahannya sebelum pengiriman dilakukan. 

Suhana menilai, pemerintah perlu memperkuat koordinasi antarlembaga sekaligus menyediakan informasi teknis yang mudah diakses eksportir, terutama pelaku usaha kecil dan menengah. Dengan demikian, hambatan administratif dan ketidakpastian mengenai persyaratan pasar tidak menjadi penghalang bagi eksportir untuk memanfaatkan peluang perdagangan.

Baca juga:

Pasang Surut dan Optimisme Ekspor Hasil Laut dan Perikanan Segar Indonesia
Sebagai negara kepulauan yang memiliki sumber daya laut yang melimpah, sektor kelautan dan perikanan Indonesia sejatinya bisa menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Tantangan berikutnya adalah keterbatasan akses terhadap informasi perdagangan dan calon pembeli. Menurut Suhana, mengetahui komoditas yang banyak diimpor Mesir belum cukup untuk menyusun strategi ekspor. Pelaku usaha juga perlu mengetahui calon importir, negara pemasok pesaing, harga dan volume transaksi, tarif yang berlaku, serta persyaratan teknis untuk memasuki pasar.

Oleh sebab itu, kerja sama bilateral perlu diterjemahkan menjadi pemetaan peluang berdasarkan kode Harmonized System (HS), fasilitasi pertemuan bisnis, verifikasi calon pembeli, serta penyelesaian hambatan perdagangan yang teridentifikasi.

Sementara itu, persaingan dengan negara pemasok lain juga perlu menjadi perhatian. Data Trade Map (2026) menunjukkan Thailand, Oman, Norwegia, dan Vietnam sebagai pemasok penting produk perikanan ke Mesir, sedangkan pangsa Indonesia masih sekitar 0,33%.

Menurut Suhana, Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan besarnya sumber daya ikan untuk meningkatkan ekspor. Daya saing juga ditentukan oleh harga, konsistensi pasokan, mutu, kesesuaian spesifikasi produk, ketepatan pengiriman, serta kemampuan eksportir memenuhi kebutuhan pembeli.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Suhana menilai nota kesepahaman (MoU) kerja sama kelautan dan perikanan Indonesia-Mesir perlu ditindaklanjuti dengan agenda kerja yang terukur. 

"Dalam 100 hari pertama, pemerintah dapat menyelesaikan pemetaan produk prioritas, persyaratan pasar, calon importir, kesiapan eksportir Indonesia, serta hambatan logistik dan regulasi yang paling mendesak. Setelah itu, fasilitasi bisnis perlu diarahkan pada transaksi nyata dan kontrak pasokan, bukan berhenti pada pertemuan atau promosi," katanya. 

Tren Ekspor Perikanan

Dari sisi kapasitas ekspor, Indonesia telah memiliki basis produksi dan akses pasar yang cukup luas. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat volume ekspor produk perikanan Indonesia pada Januari-Juni 2026 mencapai 566,25 ribu ton dengan nilai USD 3 miliar atau setara Rp52,6 triliun.

Plt. Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP) Ishartini mengatakan ekspor tersebut ditopang oleh 10 produk unggulan, yakni udang vanname, rumput laut, tuna, sarden, tenggiri, cakalang, cumi-cumi, sotong dan gurita, karaginan (carrageenan), kerapu, serta kepiting dan rajungan.

Menurut Ishartini, KKP terus meningkatkan kualitas layanan sertifikasi untuk menjamin produk perikanan Indonesia dapat memenuhi persyaratan pasar ekspor. Sertifikasi mutu diterapkan dari hulu hingga hilir dengan mengacu pada standar internasional agar kualitas dan keamanan produk diakui oleh otoritas negara tujuan.

Saat ini, produk perikanan Indonesia telah menjangkau 152 negara, meliputi pasar Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Timur Tengah, Australia, hingga Selandia Baru. 

"Sampai dengan akhir semester 1 tahun ini jumlah perusahaan perikanan yang lolos sertifikasi mutu KKP dan telah melakukan kegiatan ekspor sebanyak 1162 unit, terdiri dari 900 unit pengolah, 229 unit pengekspor ikan hidup serta 33 unit produksi benih ikan,” bebernya.

Nelayan menurunkan ikan tuna sirip kuning kualitas ekspor hasil tangkapannya di Kelurahan Jambula, Ternate, Maluku Utara, Minggu (27/9/2026). Menurut kelompok nelayan kecil di daerah itu dalam sehari mereka mampu menangkap 35-70 ekor tuna sirip kuning dengan jarak tempuh melaut sekitar 30 mil yang dijual dengan harga Rp51.000-Rp61.000 per kilogram untuk diekspor ke Jepang dan Amerika. ANTARAFOTO/Andri Saputra/sgd

Ishartini menambahkan, kinerja ekspor perikanan turut memberikan dampak terhadap perekonomian daerah dan penyerapan tenaga kerja. Di Sumatera Utara, misalnya, nilai ekspor perikanan pada semester I-2026 mencapai Rp115,5 miliar, dengan produk unggulan berupa pasta udang, gurita beku, udang kering, cumi-cumi beku, sotong beku, ikan kembung, udang putih, ikan croaker beku, belut beku, dan udang windu beku.

Negara tujuan ekspor produk perikanan Sumatera Utara mencakup Malaysia, China, Thailand, Mesir, Hong Kong, Taiwan, dan Vietnam. Dengan demikian, Mesir telah menjadi salah satu pasar tujuan ekspor perikanan dari daerah tersebut, meskipun peluang untuk memperbesar nilai dan volume perdagangan masih terbuka.

Untuk memperluas partisipasi pelaku usaha, Ishartini menyatakan layanan sertifikasi mutu KKP diberikan secara gratis dengan pendaftaran secara daring. KKP juga memiliki 46 unit pelaksana teknis yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendukung penerapan quality assurance atau penjaminan mutu di sepanjang rantai produksi hingga pelaku usaha siap menembus pasar ekspor.

“Badan Mutu memiliki 46 unit pelaksana teknis tersebar di seluruh Indonesia, yang siap mengeksekusi penerapan quality assurance (QA) di sepanjang rantai produksi hingga membuat perusahaan siap ekspor,” pungkasnya.

Kerja Sama di Berbagai Bidang

Dalam pernyataan bersama usai pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi di Jakarta, Prabowo mengatakan kedua negara telah sepakat meningkatkan hubungan bilateral ke tingkat kemitraan strategis pada kunjungannya ke Mesir pada April 2025. Kunjungan balasan El-Sisi kali ini diharapkan menjadi tonggak penting untuk memperkuat kemitraan tersebut melalui kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara.

“Kami juga sepakat untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang: bidang ekonomi, terutama bidang perdagangan, investasi. Dan, untuk itu, kami telah mendorong pembentukan Economic Partnership Agreement antara Indonesia dan Mesir, untuk bisa membuka peluang yang lebih luas bagi akses pasar investasi, dan keterlibatan dunia usaha kedua negara,” ujar Prabowo dalam keterangan resmi, Minggu (11/10/2026). 

Selain mendorong pembentukan EPA, Prabowo menyambut baik inisiatif pembentukan Joint Investment Fund oleh lembaga investasi kedua negara. Dana investasi bersama tersebut diarahkan untuk mendorong investasi pada proyek-proyek strategis.

Prabowo mengatakan, kunjungan El-Sisi juga menghasilkan sejumlah kesepakatan bilateral lainnya, meliputi kerja sama statistik, investasi, industri pertahanan, perdagangan dan ekonomi, serta rencana aksi kemitraan strategis. Di bidang pertahanan, kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama industri pertahanan dan penguatan kapasitas melalui pendidikan, latihan bersama, serta pertukaran kunjungan pimpinan dan pakar.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)