Melacak Arah Perginya Dana Investor Pasca Guncangan MSCI Oktober
Di tengah gejolak pasar modal, ada sejumlah emiten yang justru mencata kenaikan harganya. Kemana arah dana pergi di pasar modal sepekan terakhir?
Di tengah gejolak pasar modal, ada sejumlah emiten yang justru mencata kenaikan harganya. Kemana arah dana pergi di pasar modal sepekan terakhir?
Pekan ketiga Oktober 2026 menjadi periode yang menguji nyali investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah ketidakpastian terkait potensi penurunan status Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi Standalone Market. Saat investor asing mencatatkan aksi jual bersih, pergerakan dana di pasar saham menunjukkan perbedaan strategi, terutama pada saham perbankan berkapitalisasi besar, telekomunikasi, energi, dan sejumlah saham berkapitalisasi kecil.
Pada Jumat (16/10/2026), IHSG anjlok 11,57% atau 678,67 poin ke level 5.185,10. Tekanan melanda seluruh 11 sektor di BEI, dengan penurunan terdalam terjadi pada sektor bahan baku sebesar 13,37%, kesehatan 13,16%, dan infrastruktur 13%.
Tekanan jual juga terlihat dari komposisi saham yang diperdagangkan. Sebanyak 775 saham melemah, 133 saham stagnan, dan hanya 10 saham menguat. Nilai transaksi harian mencapai Rp32 triliun dengan volume perdagangan 67,59 miliar lembar saham.
Pada hari yang sama, transaksi jual investor asing mencapai Rp12,57 triliun, sedangkan transaksi beli sebesar Rp9,18 triliun. Dengan demikian, investor asing mencatatkan jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp3,40 triliun.
Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penjualan bersih asing sebesar Rp2,33 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp1,15 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp868,01 miliar. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mengalami tekanan jual sebesar Rp137,79 miliar.
BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar pada hari itu, mencapai Rp6,47 triliun. Posisi berikutnya ditempati BBRI sebesar Rp3,23 triliun, BMRI Rp2,78 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp1,86 triliun, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp1,03 triliun. Kelima saham tersebut ditutup melemah.
Di tengah tekanan pasar, saham PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) justru menguat 25% ke Rp5.625. Saham ABDA naik 24,93% ke Rp4.710, TRUK menguat 24,81% ke Rp3.220, CBPE naik 24,75% ke Rp630, dan PTSP menguat 6,91% ke Rp1.780.
Sebaliknya, APIC, BBKP, BELI, BFIN, BHIT, BMAS, ESIP, dan ESSA masuk jajaran saham dengan penurunan terdalam, masing-masing sekitar 15%.
Tekanan berlanjut pada perdagangan Senin (19/10/2026). IHSG ditutup turun 3,64% atau 188,49 poin ke level 4.996,60. Indeks sempat melemah 4,30% ke level 4.961,87 pada awal perdagangan.
Sebanyak 656 saham melemah, 100 saham menguat, dan 43 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp25,02 triliun dengan volume 33,85 miliar lembar saham dan frekuensi perdagangan lebih dari 1,6 juta kali.
Investor asing kembali mencatatkan jual bersih sebesar Rp1,72 triliun. BBRI menjadi sasaran penjualan terbesar dengan nilai jual bersih Rp1 triliun, diikuti BBCA sebesar Rp986,9 miliar dan BMRI Rp113,4 miliar.
Investor profesional atau smart money juga gencar melepas saham perbankan. Penjualan bersih pada BBCA mencapai Rp792,1 miliar, BBRI Rp628,5 miliar, BMRI Rp96 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp43 miliar, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp40,8 miliar.
Namun, arus transaksi menunjukkan bahwa tidak semua saham mengalami tekanan beli yang sama. Pada perdagangan Jumat, GOTO menjadi salah satu saham yang banyak diakumulasi investor asing dengan pembelian bersih Rp288,32 miliar melalui volume pembelian 4,21 miliar lembar saham.
Investor asing juga mengakumulasi saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebesar Rp75,65 miliar dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar Rp58,60 miliar.
Pada Senin, perhatian investor beralih ke saham sektor energi. Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatatkan pembelian bersih asing sebesar Rp607,1 miliar. Sejumlah saham energi lainnya turut menguat, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar 4,93%, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) 2,78%, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) 2,52%.
Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga naik 2,50%, di tengah akumulasi smart money sebesar Rp45,1 miliar.
INDF juga kembali dibeli investor asing sebesar Rp71,8 miliar dan smart money sebesar Rp36,8 miliar. Sementara itu, TLKM menunjukkan perbedaan arah transaksi antara kedua kelompok investor.
Investor asing mencatatkan penjualan bersih TLKM sebesar Rp367,5 miliar. Sebaliknya, smart money mengakumulasi saham tersebut sebesar Rp150,1 miliar, menjadikannya saham dengan pembelian bersih terbesar oleh kelompok investor tersebut pada hari itu.
Di luar saham-saham berkapitalisasi besar, sejumlah saham mencatatkan kenaikan harga signifikan. TMPO menguat 28,03% ke Rp169, PNSE naik 25% ke Rp480, TIFA menguat 25% ke Rp360, TRUK naik 24,84% ke Rp4.020, dan BSIM menguat 24,83% ke Rp930.
Sementara itu, BTEK, TAXI, HBAT, IDEA, PACK, GRPM, RCCC, MGLV, LUCY, dan SPRE masuk jajaran saham dengan penurunan terdalam, dalam rentang 9,76% hingga 25%.
Dari sisi nilai transaksi, BBRI memimpin dengan Rp3,39 triliun, diikuti BMRI Rp2,57 triliun, TLKM Rp2,22 triliun, BBCA Rp1,85 triliun, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp746 miliar. Dari kelima saham tersebut, hanya DSSA yang mencatatkan kenaikan harga.
Setelah melemah selama dua hari perdagangan, IHSG berbalik menguat pada Selasa (20/10/2026). Indeks naik 5,65% atau 282,28 poin ke level 5.278,89.
Nilai perdagangan mencapai Rp26,4 triliun dengan volume 54,84 miliar lembar saham. Sebanyak 670 saham menguat, 149 saham stagnan, dan 99 saham melemah. Sektor transportasi menjadi pendorong penguatan dengan kenaikan 8,55%, disusul sektor bahan baku sebesar 6,62%.
Sejumlah saham mencatatkan kenaikan signifikan. ATLA menguat 33,33% ke Rp24, BBSS naik 25,45% ke Rp69, PNSE menguat 25% ke Rp600, SHID naik 25% ke Rp750, dan SOTS menguat 25% ke Rp650. Sebaliknya, AMMS, LUCY, BUVA, PSKT, SINI, ARKO, dan PTSP masuk jajaran saham dengan penurunan terdalam, dalam rentang 6,93% hingga 10%.
BBCA kembali menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp5,62 triliun. Posisi berikutnya ditempati BBRI sebesar Rp1,87 triliun, BMRI Rp1,43 triliun, TLKM Rp1,30 triliun, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp967 miliar. Kelima saham tersebut ditutup menguat.
Di tengah penguatan IHSG, investor asing masih mencatatkan jual bersih sebesar Rp2,13 triliun. BBCA mengalami penjualan bersih asing sebesar Rp966,11 miliar, BBRI Rp355,39 miliar, BMRI Rp269,82 miliar, dan BRIS Rp62,30 miliar.
Di sisi lain, investor asing mengakumulasi TLKM sebesar Rp254,95 miliar. Pembelian bersih juga tercatat pada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp98,49 miliar, GOTO Rp34,40 miliar, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp22,19 miliar.
Penguatan IHSG berlanjut pada Rabu (21/10/2026). Indeks naik 0,94% atau 49,47 poin ke level 5.328,36. Nilai transaksi mencapai Rp17,7 triliun dengan volume 32,85 miliar lembar saham.
Sebanyak 369 saham menguat, 308 saham melemah, dan 241 saham stagnan. Sektor kesehatan memimpin penguatan dengan kenaikan 3,35%, diikuti properti sebesar 1,77% dan infrastruktur 1,47%.
BBCA kembali memimpin nilai transaksi dengan Rp2,27 triliun, disusul BBRI Rp1,37 triliun, BMRI Rp981 miliar, TLKM Rp698 miliar, dan SINI Rp616 miliar. Dari kelima saham tersebut, hanya SINI yang ditutup melemah.
Pada perdagangan Rabu, jual bersih asing menyusut menjadi Rp527,80 miliar. Meski demikian, aksi jual pada saham bank BUMN berlanjut. BMRI mencatatkan penjualan bersih asing sebesar Rp227,42 miliar, diikuti BBRI Rp73,14 miliar, BBNI Rp49,53 miliar, dan BRIS Rp45,07 miliar.
Investor asing juga mencatatkan penjualan bersih pada ANTM sebesar Rp83,14 miliar dan TLKM sebesar Rp75,02 miliar.
Berbeda dengan bank-bank BUMN tersebut, BBCA kembali mencatatkan pembelian bersih asing sebesar Rp448,09 miliar. Investor asing juga mengakumulasi saham pertambangan dan petrokimia, yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp51,16 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp37,14 miliar, dan TPIA Rp17,46 miliar.
Pada Kamis (22/10/2026), IHSG melanjutkan penguatan sebesar 1,12% atau 59,545 poin ke level 5.387,905. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.422,587.
Nilai transaksi tercatat Rp16,2 triliun dengan volume 376,7 juta lot saham dan frekuensi perdagangan sekitar 2,1 juta kali. Namun, investor asing masih mencatatkan jual bersih sebesar Rp1,49 triliun di seluruh pasar, dengan Rp1,47 triliun di antaranya terjadi di pasar reguler.
Data aliran dana menunjukkan perbedaan transaksi antara investor asing dan smart money pada sejumlah saham perbankan. BBRI menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas asing, dengan penjualan bersih Rp257,9 miliar. Sebaliknya, smart money mengakumulasi BBRI sebesar Rp267,6 miliar.
Akumulasi smart money juga tercatat pada BMRI sebesar Rp121,1 miliar dan BBNI sebesar Rp83,4 miliar. Pada BMRI, investor asing turut mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp152,3 miliar, menjadikannya saham dengan akumulasi asing terbesar pada hari itu.
Perbedaan arah transaksi juga terlihat pada TLKM. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp332,2 miliar, sedangkan smart money mengakumulasi saham tersebut sebesar Rp99,5 miliar.
Sebaliknya, BBCA mengalami tekanan jual dari kedua kelompok investor. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp624,6 miliar, sedangkan smart money melepas saham tersebut sebesar Rp72,2 miliar. Investor asing juga menjual saham BRIS sebesar Rp82,1 miliar dan PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp77,7 miliar.
Menanggapi hal tersebut, pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai aksi jual investor asing pada saham bank BUMN tidak semata-mata disebabkan kepanikan pasar. Menurut dia, pergerakan tersebut juga berkaitan dengan penyesuaian risiko dan penataan ulang portofolio investasi.
"Ketidakpastian terkait potensi perubahan status Indonesia oleh MSCI, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap stabilitas pasar membuat investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset domestik," ujar Elandry kepada SUAR.
Dia menjelaskan, saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sasaran penjualan karena memiliki likuiditas tinggi sehingga dapat dilepas dalam jumlah besar.
"Jadi, faktor MSCI menjadi katalis yang memperkuat tekanan jual, meskipun risiko makro dan sentimen terhadap Indonesia sudah lebih dulu membayangi pasar," katanya.
Terkait perbedaan aliran dana pada saham perbankan, Elandry menilai pembelian BBCA pada saat bank BUMN mengalami tekanan jual menunjukkan bahwa investor asing mulai lebih selektif dalam menentukan penempatan dana.
"Pembelian BBCA di tengah tekanan pada bank BUMN menunjukkan bahwa investor asing mulai lebih selektif, bukan berarti seluruh sektor perbankan ditinggalkan. BBCA cenderung dipersepsikan memiliki kualitas aset, basis dana murah, dan profil bisnis yang relatif defensif," imbuhnya.
Sementara itu, bank BUMN memiliki karakteristik eksposur kredit dan fokus bisnis yang berbeda sehingga persepsi risikonya juga tidak sama.
Meski demikian, Elandry mengingatkan bahwa pergerakan aliran dana asing dalam jangka pendek belum cukup untuk menyimpulkan adanya perubahan preferensi investasi dalam jangka panjang.
"Investor tetap perlu melihat valuasi, kualitas aset, pertumbuhan kredit, dan profitabilitas masing-masing bank," jelasnya.
Elandry juga menyoroti lonjakan saham lapis ketiga, seperti BSWD dan TRUK, ketika saham-saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan.
Menurut dia, kenaikan saham-saham tersebut lebih mungkin berkaitan dengan rotasi spekulatif dan perburuan momentum jangka pendek. Dalam kondisi volatilitas tinggi, sebagian pelaku pasar mencari saham dengan pasokan terbatas atau pergerakan harga yang lebih agresif.
"Namun, kenaikan harga saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya akumulasi investor institusi. Saham dengan likuiditas tipis memiliki risiko pembalikan harga yang tinggi, sehingga investor perlu memeriksa volume transaksi, keterbukaan informasi, fundamental, dan kewajaran valuasi sebelum mengambil posisi," tutur dia.
Elandry mengatakan perkembangan status Indonesia di MSCI, pergerakan rupiah, arus modal asing, imbal hasil obligasi pemerintah, serta arah suku bunga dan kebijakan fiskal menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati investor.
Dia juga menyoroti pentingnya transparansi pasar dan langkah regulator dalam memperkuat kredibilitas bursa.
"Rebound IHSG perlu dikonfirmasi oleh perbaikan foreign flow dan stabilitas pasar sebelum dianggap sebagai pemulihan tren yang berkelanjutan," ucapnya.