Sports Tourism Berpeluang Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Sports Tourism Berpeluang Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Potensi sports tourism dapat dikembangkan melalui berbagai aktivitas olahraga yang memadukan rekreasi, petualangan, dan pengalaman menikmati destinasi wisata.

Sports Tourism Berpeluang Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Dalam Artikel Ini

Wisata olahraga atau sports tourism berpeluang menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian nasional. Potensi ini dapat dikembangkan melalui berbagai aktivitas olahraga yang memadukan rekreasi, petualangan, dan pengalaman menikmati destinasi wisata.

Selain mendatangkan wisatawan domestik dan mancanegara, kegiatan tersebut berpotensi meningkatkan pengeluaran wisatawan untuk akomodasi, transportasi, kuliner, hingga produk ekonomi kreatif lokal. Dengan pengelolaan yang tepat, sports tourism dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus memperluas peluang usaha bagi masyarakat.

Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Agung Rai Suryawijaya mengatakan salah satu aktivitas yang berpotensi dikembangkan adalah lari maraton. Berbagai ajang lari dapat diselenggarakan dengan memanfaatkan karakteristik daerah, mulai dari kawasan perkotaan, pesisir pantai, hingga wilayah pegunungan. Penyelenggaraan maraton tidak hanya menarik peserta yang memiliki minat terhadap olahraga lari, tetapi juga membuka peluang bagi keluarga dan pendamping peserta untuk berwisata. 

“Kehadiran ribuan pelari dalam suatu acara dapat meningkatkan permintaan terhadap hotel, restoran, jasa transportasi, serta berbagai layanan pendukung lainnya. Apabila dikemas secara konsisten, maraton juga dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat citra destinasi dan mendorong kunjungan berulang,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (12/10).

Peserta berlari saat Golo Mori Sunset Run 2026 di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (3/10/2026). ANTARA FOTO/Gecio Viana/app/agr

Selain olahraga lari, Indonesia dapat menggali potensi wisata berbasis olahraga air, salah satunya parasailing. Aktivitas ini memungkinkan wisatawan menikmati pemandangan pantai dari ketinggian menggunakan parasut yang ditarik oleh perahu bermotor.

Tanjung Benoa, Bali, merupakan salah satu destinasi yang menawarkan atraksi tersebut. Pengembangan parasailing sebagai bagian dari produk wisata olahraga dapat memperkaya pilihan aktivitas wisatawan, khususnya bagi mereka yang mencari pengalaman rekreasi sekaligus petualangan. Peluang ekonominya dapat menjangkau operator wisata bahari, penyedia perlengkapan, instruktur, pengelolaan destinasi, serta pelaku usaha lokal yang melayani kebutuhan pengunjung.

Mengukur Dampak Ekonomi

Salah satu event olahraga lari marathon yang membawa dampak ekonomi bagi industri pariwisata adalah Maybank Marathon 2026. Studi menunjukkan, dampak ekonominya terhadap perekonomian Bali mencapai Rp 229,9 miliar, meningkat signifikan dari Rp170,8 miliar pada tahun sebelumnya.

Perhitungan dampak ekonomi dalam studi ini didasarkan pada jumlah peserta Maybank Marathon 2026. Kenaikan dampak ekonomi ini dikontribusi oleh bertambahnya jumlah peserta dan meningkatnya belanja selama berada di Bali.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menyampaikan bahwa tren pertumbuhan dampak ekonomi tersebut menunjukkan Maybank Marathon telah berkembang melampaui ajang olahraga. Menurutnya, pengukuran dampak dilakukan untuk memastikan penyelenggaraan ajang memberikan nilai tambah yang nyata untuk Bali dan masyarakat setempat.

“Temuan ini memperkuat komitmen jangka panjang Maybank Indonesia dalam mewujudkan misi Humanising Financial Services,” kata Steffano dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (12/10)

Baca juga:

Daya Tarik Sport Tourism Mendongkrak Pariwisata Lokal
MotoGP Mandalika 2026 atau Pertamina Grand Prix of Indonesia kembali digelar pada 9–11 Oktober 2026 di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Lombok, NTB. Lebih dari sekadar kompetisi adu kecepatan, ajang balap motor bergengsi tersebut menjadi momentum emas bagi pariwisata di NTB.

Jumlah pelari mencapai 14.100 orang, tahun sebelumnya hanya 13.600 peserta. Sedangkan, rata-rata pengeluaran peserta naik dari Rp12,5 juta menjadi Rp16,3 juta per orang.

Kontribusi terbesar datang dari peserta mancanegara atau WNA dengan rata-rata pengeluaran mereka mencapai Rp40,1 juta per orang, naik dari Rp27,7 juta pada 2025, dengan rata-rata durasi tinggal hingga sembilan hari di Bali. Sementara durasi tinggal peserta domestik atau WNI di Bali rata-rata tiga hingga empat hari.

Selain dampak langsung, studi ini juga mengukur efek tidak langsung atau multiplier effect yang menyentuh angka Rp303,5 miliar, naik 34,6 persen dari Rp225,5 miliar pada Maybank Marathon 2025.

Baca juga:

Mengoptimalkan Dampak Ekonomi dari MotoGP Mandalika
Penyelenggaraan MotoGP menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan sport tourism di Indonesia.

Menurut perseroan, peningkatan jumlah peserta Maybank Marathon 2026 juga turut menggerakkan usaha lokal yang meraup keuntungan dari penyelenggaraan Maybank Marathon 2026. Studi mencatat, omzet pelaku usaha di Bali rata-rata melonjak 35 persen dibandingkan biasanya, seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan sebesar 32 persen selama acara berlangsung.

Kenaikan jumlah pelanggan tertinggi terjadi di sektor perhotelan sebesar 64 persen, diikuti oleh restoran/kuliner 41 persen, transportasi 34 persen, dan jasa wisata 10 persen. Selain itu, jumlah karyawan pada pelaku usaha yang disurvei rata rata meningkat sebesar 18 persen selama penyelenggaraan Maybank Marathon 2026.

Studi juga menunjukkan bahwa aktivitas wisata yang dinilai pelaku usaha paling banyak mendorong peningkatan pendapatan adalah wisata kuliner sebesar 56 persen, diikuti wisata budaya 50 persen dan wisata belanja 49,3 persen.

Butuh Kolaborasi Antarpihak

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, kolaborasi lintas sektor dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi wisata olahraga atau sports tourism di Indonesia. Menurutnya, olahraga merupakan salah satu segmen pariwisata yang memiliki prospek besar untuk dikembangkan, seiring meningkatnya minat masyarakat global dalam melakukan perjalanan wisata untuk menyaksikan maupun mengikuti kegiatan olahraga.

Potensi ekonomi wisata olahraga juga tercermin dari perilaku belanja wisatawan internasional. Survei Expedia menunjukkan sebanyak 44% wisatawan bersedia bepergian ke luar negeri demi menikmati hiburan olahraga yang diminati, dengan rata-rata pengeluaran mencapai US$1.500 per perjalanan. Nilai tersebut bahkan melampaui rata-rata pengeluaran wisatawan yang berkunjung ke Indonesia saat ini. Sementara itu, UN Tourism mencatat wisata olahraga menyumbang sekitar 10% terhadap total belanja wisatawan global dan diproyeksikan terus tumbuh sebesar 17,5% hingga 2030.

“Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mengambil peluang tersebut, mulai dari kekayaan alam, keragaman destinasi, hingga infrastruktur pendukung kegiatan olahraga,” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (12/10)

Sejumlah ajang berskala internasional juga telah membuktikan kemampuan Indonesia dalam menyelenggarakan kegiatan olahraga yang menarik minat peserta dan penonton. Keberhasilan penyelenggaraan berbagai kompetisi tersebut dapat menjadi pijakan untuk memperluas pasar wisata olahraga sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi Indonesia di mata wisatawan mancanegara.

Salah satu contoh keberhasilan tersebut adalah penyelenggaraan MotoGP Mandalika pada 2025 yang diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun.

Selain itu, HYROX Jakarta pada 27–28 Juni 2026 diikuti 11.500 peserta, menjadikannya sebagai ajang HYROX dengan jumlah peserta terbesar di kawasan Asia Pasifik. Sekitar 15% peserta dalam kompetisi tersebut merupakan warga negara asing. Berbagai ajang lari maraton juga berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata yang mendatangkan pengunjung, memperpanjang lama tinggal, serta mendorong belanja di daerah penyelenggara.

Ia mengatakan, meski memiliki peluang besar, pengembangan wisata olahraga di Indonesia masih menghadapi tantangan pemerataan penyelenggaraan acara. Aktivitas sports tourism dinilai perlu tumbuh di berbagai daerah dan tidak hanya terpusat di sejumlah destinasi unggulan.

Untuk itu, Kementerian Pariwisata mendorong pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, sektor swasta, serta pemangku kepentingan lainnya untuk berkolaborasi merancang acara olahraga yang mengangkat karakter dan keunikan lokal. 

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)