Enam KEK Pariwisata Jadi Andalan Pemerintah Kejar Devisa US$24 Miliar

Enam KEK Pariwisata Jadi Andalan Pemerintah Kejar Devisa US$24 Miliar

Enam kawasan yang menjadi fokus pengembangan pariwisata meliputi KEK Mandalika, Kura-Kura Bali, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Lido, dan Likupang.

Enam KEK Pariwisata Jadi Andalan Pemerintah Kejar Devisa US$24 Miliar
Dalam Artikel Ini

Pemerintah mengandalkan enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sekaligus memperbesar penerimaan devisa negara pada 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mencapai target kunjungan 16 juta hingga 17,6 juta wisman, dengan sasaran devisa pariwisata sebesar US$24 miliar atau sekitar Rp431,5 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sektor pariwisata memiliki potensi besar dalam menghasilkan devisa dan memperkuat sumber penerimaan valuta asing Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan KEK yang memiliki potensi sebagai destinasi wisata unggulan. Enam kawasan yang menjadi fokus pengembangan tersebut meliputi KEK Mandalika, Kura-Kura Bali, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Lido, dan Likupang.

“Pengembangan keenam KEK tersebut diarahkan untuk meningkatkan arus kunjungan wisatawan, memperluas kegiatan usaha, serta mendorong investasi di sektor pariwisata dan industri pendukungnya,” ujar dia dalam Konferensi Pers Pencapaian KEK di kantornya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta (21/10).

Airlangga memaparkan sejumlah proyeksi kinerja KEK pariwisata untuk 2027. KEK Kura-Kura Bali ditargetkan menarik 600.000 wisatawan dengan nilai ekonomi mencapai Rp600 miliar. Pencapaian tersebut diharapkan didukung oleh rencana beroperasinya gerai-gerai di kawasan tersebut, yang dapat memperluas aktivitas komersial dan melengkapi pengalaman wisata pengunjung. Kawasan ini juga diproyeksikan menghasilkan devisa sebesar US$3,66 miliar.

Sementara itu, KEK Mandalika ditargetkan mendatangkan 1,6 juta wisatawan pada 2027 dengan nilai ekonomi mencapai Rp8,6 triliun. Adapun KEK Tanjung Lesung diproyeksikan menarik 1,5 juta wisatawan dengan nilai ekonomi sebesar Rp3 triliun. Target tersebut mencerminkan harapan pemerintah agar pengembangan destinasi wisata dapat meningkatkan perputaran ekonomi di kawasan sekaligus memberikan manfaat bagi berbagai sektor usaha, mulai dari perhotelan, kuliner, transportasi, hingga penyedia jasa wisata.

Untuk KEK Lido, pemerintah menargetkan kunjungan sebanyak 220.000 wisatawan dengan nilai ekonomi Rp352 miliar pada 2027. Kawasan ini juga diproyeksikan menghasilkan devisa sebesar US$1,8 miliar sementara untuk KEK Tanjung Kelayang dan KEK Likupang nilai ekonominya masih dihitung.

Investasi Pariwisata Tumbuh

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Investasi pariwisata pada 2025 mencapai Rp 73,56 triliun dan terus tumbuh pada semester I-2026 sebesar Rp 39,68 triliun. Adapun di enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, investasi pada semester I-2026 mencapai Rp1,4 triliun dan menciptakan 1.858 tenaga kerja baru.

"Investasi tersebut bukan hanya berarti pembangunan hotel atau fasilitas baru. Di belakang investasi terdapat kegiatan usaha, kebutuhan terhadap barang dan jasa, serta peluang penciptaan pekerjaan," ujar dia.

Peningkatan investasi tersebut tidak hanya mendorong pembangunan fasilitas pariwisata, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas layanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi.

Baca juga:

Hingga September 2026, Realisasi Investasi KEK Capai Rp46 Triliun
Proporsi investasi dari swasta baru mencapai 11.5% dari total investasi KEK. Dari total Rp39,7 triliun total investasi swasta, penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang sebesar Rp13 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp33 triliun.

Salah satu KEK (KEK) yang memperkuat daya tarik pariwisata adalah Tanjung Lesung, melalui rencana pengembangan wisata terjun payung (skydiving) dan olahraga dirgantara. Pengembangan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara PT Banten West Java selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Tanjung Lesung dengan PT Bro Skydive Indonesia, yang ditandai dengan seremoni penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam Forum Pemasaran Investasi Banten pada 12 Oktober 2026.

Melalui kerja sama ini, PT Banten West Java akan menyediakan lahan seluas kurang lebih 9 hektare untuk pengembangan kegiatan wisata dirgantara. Sementara itu, PT Bro Skydive Indonesia bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur dan penyediaan fasilitas pendukung kegiatan skydiving, sport aviation, dan aviation tourism, dengan target mulai beroperasi pada minggu kedua bulan Desember 2026.

Pengembangan wisata dirgantara tersebut akan memanfaatkan keberadaan Bandara Salakanagara di KEK Tanjung Lesung yang telah memiliki fasilitas landasan pacu dan hanggar. Rencana pengembangan infrastruktur mencakup penyiapan area pendaratan (landing zone), pengembangan fasilitas pergerakan dan parkir pesawat, serta perpanjangan landasan pacu sekitar 200 meter untuk mendukung keselamatan operasional.

Direktur Utama PT Banten West Java, Poernomo Siswoprasetijo, menyambut baik kerja sama tersebut dan berharap seluruh rencana pengembangan dapat segera direalisasikan sehingga memberikan manfaat bagi kawasan dan masyarakat sekitar.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bro Skydive Indonesia, Fanny Kusuma Dewi, juga optimis pengembangan wisata skydiving di Tanjung Lesung dapat menarik wisatawan, terutama dengan dukungan keindahan alam pesisir dan fasilitas pariwisata yang telah tersedia.

Baca juga:

Gandeng China, KEK Kura-Kura Bali Disiapkan Jadi Pusat Teknologi AI dan Semikonduktor
Kemitraan strategis antara Indonesia dengan Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) menjadi bagian pengembangan AI dan semikonduktor di KEK Kura-Kura Bali.

Sementara itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali resmi menambah fasilitas komersial strategis melalui pembukaan Sira Village – Grand Outlet Bali, outlet village pertama dan terbesar di Bali yang dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp1,5 triliun dan diproyeksikan menciptakan lebih dari 1.000 lapangan kerja.

Dikembangkan oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Kura Kura Bali bersama Mitsubishi Estate, kehadiran Sira Village diharapkan semakin memperkuat daya tarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Bali. Dengan konsep ruang terbuka, Sira Village menghadirkan lebih dari 100 merek premium melalui sekitar 130 gerai ritel dan kuliner, sekaligus menyediakan ruang bagi UMKM, seniman, dan produk kreatif lokal. 

Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menyampaikan bahwa kehadiran Sira Village merupakan hasil kolaborasi yang memperkuat ekosistem investasi di KEK Kura Kura Bali sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berkualitas di Indonesia.

“Di tengah dinamika global yang terus berkembang, pariwisata memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Kehadiran Sira Village Grand Outlet Bali memperkuat daya tarik Bali sebagai destinasi ritel dan gaya hidup berkelas dunia,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (22/10)

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)