Gandeng China, KEK Kura-Kura Bali Disiapkan Jadi Pusat Teknologi AI dan Semikonduktor
Kemitraan strategis antara Indonesia dengan Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) menjadi bagian pengembangan AI dan semikonduktor di KEK Kura-Kura Bali.
Kemitraan strategis antara Indonesia dengan Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) menjadi bagian pengembangan AI dan semikonduktor di KEK Kura-Kura Bali.
Pemerintah berupaya menjadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali sebagai salah satu pusat pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan semikonduktor. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan China, terutama dalam mendorong inovasi teknologi serta pengembangan industri berbasis pengetahuan.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian sekaligus Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Ali Murtopo Simbolon menilai, KEK Kura-Kura Bali memiliki potensi besar untuk menjadi wadah kolaborasi antara dunia akademik dan sektor industri, khususnya dalam pengembangan teknologi masa depan.
Ali mengatakan, di tengah meningkatnya persaingan dan ketidakpastian global, Indonesia dapat menawarkan lingkungan yang kondusif bagi kegiatan akademik, penelitian, dan kemitraan industri. Dalam konteks tersebut, Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) diharapkan mampu berperan sebagai penghubung kerja sama antara China, Asia Tenggara, dan komunitas global.
“Kemitraan Indonesia dan China perlu dikembangkan melampaui peningkatan arus investasi. Kerja sama kedua negara juga perlu berorientasi pada penguatan penguasaan teknologi, peningkatan kualitas riset, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan kemampuan industri nasional agar memiliki daya saing yang lebih kuat,” ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Baca juga:

Saat ini, TSEA yang beroperasi di KEK Kura-Kura Bali telah melaksanakan sejumlah kegiatan di bidang fisika dan neurosains. Lembaga tersebut juga memprakarsai pembentukan forum semikonduktor bersama Tsinghua University sebagai bagian dari upaya memperluas kolaborasi dalam pengembangan teknologi strategis.
Ke depan, KEK Kura-Kura Bali diarahkan untuk memperluas program pengembangan kecerdasan buatan, penelitian dan pengembangan digital, serta ekonomi digital. Inisiatif ini diharapkan dapat membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan kegiatan riset, pengembangan teknologi, dan kebutuhan industri sehingga menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Peluang pengembangan ekosistem tersebut turut ditopang oleh keterlibatan investor China di sejumlah KEK di Indonesia. Hingga triwulan II-2026, tercatat 97 perusahaan asal China dari total 481 badan usaha yang beroperasi di berbagai KEK. Angka tersebut menunjukkan peran investor China dalam mendukung aktivitas usaha dan pengembangan kawasan ekonomi di Indonesia.
Secara keseluruhan, Indonesia memiliki 25 KEK dengan total luas mencapai sekitar 23.797,88 hektare. Seluruh kawasan tersebut telah membukukan investasi kumulatif sekitar 20,7 miliar dolar AS, menampung 481 badan usaha, serta menyerap lebih dari 283.000 tenaga kerja.
“Capaian tersebut menjadi salah satu modal bagi pemerintah untuk terus memperkuat peran KEK sebagai penggerak investasi, industri, dan penciptaan lapangan kerja, ujar dia.
Untuk memperdalam kemitraan industri kedua negara, pemerintah juga mendorong penerapan skema Two Countries Twin Parks (TCTP). Skema ini dirancang untuk menghubungkan potensi sumber daya alam dan pasar Indonesia dengan dukungan investasi, teknologi, serta kemampuan industri China. Melalui pendekatan tersebut, kedua negara diharapkan mampu merealisasikan proyek-proyek industri yang lebih terarah dan terintegrasi sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi di dalam negeri.
Adapun KEK Kura-Kura Bali mencatat realisasi investasi kumulatif sebesar Rp1,8 triliun hingga semester I-2026. Aktivitas di kawasan tersebut juga telah menyerap sebanyak 2.173 tenaga kerja dan membukukan 131.657 kunjungan. Capaian ini menjadi bagian dari perkembangan kawasan yang selanjutnya diharapkan dapat diperkuat melalui perluasan investasi dan pengembangan sektor teknologi bernilai tambah tinggi.
Presiden Komisaris PT Bali Turtle Island Development (BTID) Tantowi Yahya mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri Indonesia-China untuk membuka lebih banyak ruang kerja sama di bidang pendidikan, pengembangan talenta, hingga kebutuhan industri.
Menurut Tantowi, perkembangan China saat ini menunjukkan pentingnya membangun hubungan yang lebih erat antara dunia pendidikan tinggi dan sektor industri. Kolaborasi tersebut dinilai dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata dunia usaha.
“Kerja sama Indonesia dan China tidak hanya dapat dikembangkan melalui hubungan antar pemerintah, tetapi juga melalui keterlibatan perguruan tinggi dan pelaku industri,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (13/10).
Tantowi juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem kolaborasi yang memungkinkan institusi pendidikan dan industri saling berbagi pengetahuan, pengalaman, serta peluang pengembangan.
Dihubungi terpisah, Pengamat Ekonomi Paramadina Wijayanto Samirin menuturkan Pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan semikonduktor menjadi semakin penting bagi Indonesia dalam menghadapi persaingan ekonomi global dan percepatan transformasi digital.
AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan proses bisnis, serta mempercepat pengambilan keputusan di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, keuangan, kesehatan, hingga logistik. Sementara itu, semikonduktor merupakan komponen utama yang menopang berbagai perangkat elektronik dan infrastruktur digital, termasuk pusat data, kendaraan listrik, serta perangkat berbasis AI.
“Penguasaan kedua teknologi tersebut juga berperan strategis dalam memperkuat daya saing industri nasional. Pemanfaatan AI memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, menekan biaya produksi, dan mengembangkan produk serta layanan yang lebih inovatif. Di sisi lain, pengembangan ekosistem semikonduktor dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk masuk ke dalam rantai pasok industri teknologi global,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (13/10)