Menyiapkan Listrik Andal untuk Ekspansi Data Center
Karakter sebagian besar pembangkit EBT yang masih tidak stabil karena bergantung pada kondisi alam perlu ditingkatkan guna menunjang pasokan listrik data center.
Karakter sebagian besar pembangkit EBT yang masih tidak stabil karena bergantung pada kondisi alam perlu ditingkatkan guna menunjang pasokan listrik data center.
Industri pusat data atau data center di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital dan kecerdasan buatan (AI). Namun, ekspansi sektor ini membawa kebutuhan listrik yang semakin besar sekaligus spesifik, sehingga kesiapan pasokan dari sisi kapasitas, keandalan, hingga harga menjadi faktor penting yang perlu dipastikan.
Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak mengatakan, kebutuhan listrik untuk industri data center memiliki karakteristik yang berbeda karena fasilitas tersebut harus beroperasi selama 24 jam tanpa gangguan.
Menurut dia, pasokan listrik untuk data center setidaknya harus memenuhi tiga aspek, yakni cukup tersedia (available), andal (reliable), dan berkelanjutan (sustainable). Gangguan seperti pemadaman, penurunan tegangan maupun lonjakan tegangan dapat mengganggu operasional data center.
“Data center ini 24 jam harus menyala dan tidak boleh ada sampai blackout atau surge. Kategorisasinya mesti handal, cukup, dan berkelanjutan,” kata Ali kepada SUAR, Senin (28/9/2026).
Kebutuhan keandalan tersebut menjadi tantangan ketika pasokan listrik data center semakin diarahkan menggunakan energi baru terbarukan (EBT). Ali menilai, karakter sebagian besar pembangkit EBT yang masih intermittent atau tidak stabil karena bergantung pada kondisi alam perlu menjadi perhatian.
Ia menyebut, hanya ada tiga jenis EBT yang bisa beroperasi stabil dan konstan sepanjang waktu, yakni pembangkit listrik tenaga air (PLTA), geothermal, dan biomassa. Sementara itu, pembangkit seperti tenaga surya dan tenaga bayu masih membutuhkan dukungan teknologi penyimpanan energi agar dapat memasok listrik secara lebih stabil.
“Kalau pembuatan data center itu diharapkan menjadi sesuatu yang vital bagi negara, harus dengan pasokan listrik yang cukup. Jika nanti sebagian besar pembangkit listrik PLN dari energi terbarukan, maka harus ditambah teknologi dan infrastruktur yang baru,” ujarnya.
Baca juga:

Menurut Ali, pengelola data center juga perlu menyiapkan sistem kelistrikan berlapis untuk mengantisipasi gangguan. Dalam kondisi normal, kebutuhan listrik dapat dipasok dari jaringan PLN, sementara baterai, genset, atau sumber cadangan lainnya disiapkan untuk menjaga operasional ketika terjadi gangguan.
“Dalam kondisi normal dia menggunakan listrik PLN. Dalam kondisi tertentu dia sudah siapkan baterai. Dalam kondisi tertentu dia siapkan lagi mungkin genset atau apa. Yang penting proses transisinya jangan sampai menimbulkan persoalan di data center,” jelasnya.
Di sisi lain, dia menilai harga listrik EBT juga masih menjadi tantangan karena belum memiliki struktur harga yang seragam seperti energi fosil. Harga minyak mentah, gas, dan batu bara relatif lebih mudah menjadi acuan karena memiliki harga pasar yang terbentuk secara luas. Sementara itu, EBT tidak memilkkki harga standar.
Karena itu, menurut Ali, intervensi pemerintah masih diperlukan dalam pengembangan listrik berbasis EBT, antara lain melalui subsidi, kompensasi, insentif perpajakan, maupun skema tarif tertentu. Mekanisme tersebut diperlukan untuk menjembatani harga listrik EBT hingga mencapai tingkat keekonomian yang lebih kompetitif.
Ali menilai, dukungan pemerintah tersebut dapat dikurangi secara bertahap apabila pengembangan EBT telah berlangsung secara masif dan biaya produksinya semakin ekonomis.
"Mekanisme itu memang harus terjadi saat pengembangan energi terbarukan. Namun jika itu sudah dilakukan secara massal sampai tingkat keekonomian yang memadai, bisa jadi lama-lama subsidi dan kompensasinya bisa diturunkan," katanya.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, PT PLN (Persero) mulai memperkuat infrastruktur kelistrikan untuk mengantisipasi pertumbuhan sektor tersebut. Kebutuhan data center dinilai semakin spesifik, tidak hanya dari sisi kapasitas listrik, tetapi juga keandalan, kualitas daya, hingga penggunaan energi bersih.
Executive Vice President Sales & Customer Service Enterprise PLN Dini Sulistyawati mengatakan saat ini PLN telah melayani 159 pelanggan data center dengan total kapasitas tersambung mencapai 2.038 MVA. Sekitar 99% kapasitas tersebut masih terkonsentrasi di wilayah Jawa-Madura-Bali, dengan Jawa Barat menjadi salah satu klaster terbesar.
"Data center membutuhkan listrik dengan karakteristik yang spesifik, baik dari sisi kapasitas, keandalan, kualitas daya, maupun kebutuhan energi bersih," kata Dini dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).
Dari 159 pelanggan tersebut, konsumsi listrik tercatat mencapai 2.378 GWh. PLN melihat kebutuhan listrik berpotensi terus meningkat seiring perkembangan artificial intelligence (AI), cloud computing, layanan digital, dan ekonomi digital.
Baca juga:

Namun, pertumbuhan tersebut juga menjadi tantangan bagi PLN untuk menyeimbangkan percepatan penyediaan kapasitas listrik dengan keandalan, keterjangkauan harga, serta stabilitas sistem dalam jangka panjang. Selain Jawa, pengembangan data center mulai meluas ke sejumlah wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Kondisi ini membuat PLN perlu melakukan perencanaan pengembangan pembangkit dan jaringan sejak tahap awal agar kapasitas listrik dapat tersedia sesuai kebutuhan pengembang.
Untuk itu, PLN mendorong pola "early alignment" atau penyelarasan sejak awal dengan pengembang data center. Langkah tersebut mencakup proyeksi kebutuhan listrik yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, serta penyesuaian kecepatan pembangunan kapasitas dengan kebutuhan pelanggan.
“Komitmen lebih awal dan koordinasi lebih erat dari kedua belah pihak, didukung oleh proyeksi permintaan yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang lebih kuat antara PLN, pelanggan, dan pemerintah. Oleh karena itu, pengelolaan komitmen pusat data harus menjadi proses perencanaan bersama,” pungkasnya.
Pemerintah memang tengah mendorong pengembangan industri data center di Indonesia dengan menawarkan potensi energi terbarukan yang besar sebagai salah satu daya tarik investasi.