Pada 22 Mei 2026, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menyentuh angka terendah, yakni 5.966,86 sebelum akhirnya ditutup menguat pada level 6.162,04. Sehari sebelumnya, IHSG ditutup pada level yang lebih rendah, yaitu 6.094,94.
Melemahnya IHSG sepanjang pekan lalu telah menempatkan Indonesia menjadi pasar saham berkinerja terburuk dibandingkan negara-negara lain. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), di hari penutupan bursa pekan lalu (Jumat, 22/5/2026) IHSG merosot sebanyak 28,74% dibandingkan dengan awal tahun. Ini adalah yang terburuk dibandingkan kinerja bursa saham di kawasan ASEAN.
Selain IHSG, hanya bursa saham Filipina (PSEi Index) yang juga mengalami penurunan dibandingkan posisi awal tahun. Namun, penurunannya tidak signifikan karena hanya sebesar 1,51%. Sementara bursa saham negara ASEAN lainnya mencatatkan perubahan yang positif alias lebih tinggi dibandingkan posisi awal tahun.
Bahkan, beberapa negara ASEAN mencatatkan pertumbuhan yang terbilang tinggi. Bursa saham Thailand (SET Index), misalnya, meningkat 22,15% saat perdagangan Jumat lalu dibandingkan awal tahun. Bursa saham Singapura (Strait Times Index/STI) dan bursa saham Vietnam (VN-Index) naik masing-masing 9,08% dan 6,3%.
Di tataran Asia Pasific di mana terdapat 13 bursa utama, posisi Indonesia juga berada di urutan buncit. Indonesia berada di bawah bursa saham India (S&P BSE SENSEX Index) di posisi ke-12 yang turun 11,53% dan bursa Australia (All Ordinaries Index) di posisi ke-11 yang turun 1,57%.
Di tataran dunia yang dengan 35 bursa utama, posisi Indonesia juga di urutan terakhir bersama India yang di urutan ke-34. Dua negara yang sangat digdaya menghadapi gejolak geopolitik global adalah bursa saham Korea Selatan dan Taiwan. KOSPI Index (Korea Selatan) pada perdagangan Jumat lalu dibandingkan awal tahun telah meningkat sebanyak 86,22%. Sementara TSE Weighted Index (Taiwan) meningkat 45,93% dalam periode yang sama.
Jika IHSG dibandingkan dengan saat saham mencatatkan angka tertinggi yang dicapai, yakni 9.174,47 pada 20 Januari 2026, IHSG telah terkoreksi lebih dalam, yaitu sebanyak 32,83%. Seiring dengan merosotnya IHSG, modal yang keluar dari penjualan oleh investor asing sejak awal tahun telah mencapai 2,349 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 41,631 triliun.
Nilai kapitalisasi pasar saham Indonesia juga tergerus. Setelah di tahun 2025 tercapai nilai kapitalisasi yang tertinggi, yakni Rp 15.849 triliun (naik 92% dalam 5 tahun), angkanya menurun pada triwulan I-2026 menjadi Rp 12.422 triliun. Angka tersebut turun 22,25% dibandingkan tahun 2025. Per Jumat 22 Mei lalu, nilai kapitalisasi pasar saham kita bahkan tergerus lebih dalam ke angka Rp 10.635 triliun
Sebagaimana negara lain yang pergerakan sahamnya terpengaruh oleh geopolitik global terutama perang AS-Israel terhadap Iran, Indonesia juga menghadapi dampak yang sama. Namun, tantangan besar yang memengaruhi pergerakan IHSG sejak awal tahun juga berasal dari kondisi domestik. Terutama terkait dengan dikeluarkannya 18 saham unggulan dari pemeringkatan MSCI dan arah kebijakan pemerintah yang membuat investor resah.
Bulan Agustus menjadi ujian tahap selanjutnya apakah IHSG bisa menguat atau semakin terpuruk seusai MSCI melakukan evaluasi atau penyesuaian kembali pada 20 Juli 2026. Reformasi pasar modal yang dilakukan harus bisa memberi keyakinan investor soal transparansi.