Kewaspadaan Sehat, Kunci Navigasi Perekonomian Dunia 2027
Tanpa pembalikan geopolitik secara signifikan, perekonomian global berpotensi tertahan lebih lama. Sambil meniti gelombang, pengusaha perlu menjaga kewaspadaan sehat
Tanpa pembalikan geopolitik secara signifikan, perekonomian global berpotensi tertahan lebih lama. Sambil meniti gelombang, pengusaha perlu menjaga kewaspadaan sehat
Berlanjutnya ketidakpastian perekonomian global dan volatilitas pasar keuangan pada tahun 2027 menuntut pengusaha mempraktikkan kewaspadaan sehat. Saat keputusan ekspansi dan perencanaan keuangan dibayangi tekanan eksternal yang tidak dapat dikendalikan, kehati-hatian mengambil keputusan investasi dan keuangan di saat menyempitnya ruang manuver menjadi penentu masa depan seluruh perusahaan.
Kepala Ekonom OCBC Group Research Selena Ling menjelaskan, dengan lanskap global yang semakin terpolarisasi, perekonomian dunia 2027 akan ditandai tiga fitur utama.
Pertama, konstelasi geopolitik yang menentukan harga energi dan inflasi global. Kedua, meningkatnya arus deras investasi AI dan cloud. Ketiga, serta mengetatnya kebijakan moneter global sebagai pilihan paling memungkinkan oleh berbagai bank sentral global.
“Semakin ketegangan geopolitik menahan harga energi, impor dan tekanan inflasi akan semakin lama. The Fed berpeluang menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate satu kali lagi sebesar 25 bps pada Desember sebelum memberikan jeda panjang pada 2027, sementara AS akan semakin berhati-hati terhadap tekanan inflasi,” tutur Selena dalam OCBC Outlook 2027 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menghadapi situasi tersebut, Selena menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprakirakan mencapai 5,2% (yoy) pada tahun 2026 dan bertahan di atas 5% pada 2027 memiliki fondasi cukup kuat. Ini ditandai dengan pasar ketenagakerjaan yang relatif stabil dengan tingkat pengangguran terbuka 4,65%, inflasi IHK yang terjaga pada rentang 1,5-3,5%, dan kehati-hatian Bank Indonesia (BI) dalam mengatur suku bunga acuan.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga menuntut Indonesia mewaspadai tiga ancaman perekonomian imbas poly-crisis saat ini, yakni inflasi harga pangan akibat El-Nino berkepanjangan dan kenaikan harga energi yang memengaruhi harga bahan baku impor. Selain itu, potensi mengetatnya kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Tidak hanya itu, tantangan juga datang serta rapuhnya daya beli rumah tangga serta kepercayaan dunia usaha melanjutkan ekspansi.
“Kemampuan Indonesia menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5% adalah fondasi yang sangat kuat. Prioritas investasi hilirisasi hingga Rp480 triliun, masuknya investasi cloud dan digital Microsoft senilai USD 1,7 miliar, dan pembangunan pusat data hyper-scaler menjadi sejumlah tanda partisipasi Indonesia dalam investasi industri dan digital secara bersamaan,” imbuhnya.
Meski demikian, Selena mengingatkan Indonesia memiliki PR untuk menjaga kepercayaan investor portofolio, menyusul keluarnya arus modal asing dalam jumlah besar baru-baru ini. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi rupiah menjadi pintu masuk untuk mencapai tujuan tersebut, dengan menyasar investor yang mencari imbal hasil tinggi dalam jangka panjang.
Bagi para pengusaha, Selena mengingatkan salah satu kunci untuk menavigasi lanskap perekonomian yang tidak bersahabat adalah menjaga kelincahan, fleksibilitas, serta berfokus meningkatkan daya saing manufaktur. Trickle down effect dari daya saing yang terangkat, menurutnya, adalah perbaikan daya beli untuk menghadapi kenaikan harga pangan dan energi di satu sisi, serta menekan biaya ekspansi di sisi lain.
“Perhatikan pemasok, pangsa pasar, mitra bisnis Anda, dan siapkan semua skenario just in case. Seluruh dunia kini harap-harap cemas mengamati langkah-langkah AS selanjutnya, dan tidak ada yang tahu di mana perang selanjutnya dapat pecah. Jaga kewaspadaan sehat, persiapkan kemungkinan terburuk, tetap lakukan yang terbaik, dan amankan pintu keluar,” tegas Selena.
Wealth Management Advisory Head OCBC Diamond Stole menambahkan, keputusan investasi terbaik adalah yang paling sesuai dengan profil risiko. Ia mengingatkan, pendekatans berbasis alokasi aset bukan produk membantu investor lebih disiplin dan tidak terbawa sentimen dalam jangka pendek.
“Saat ketidakpastian tinggi, reaksi ekstrem justru berisiko. Siapkan likuiditas untuk kebutuhan yang sudah terlihat. Masukkan portofolio bertahap dan jangan sekaligus. Di sinilah peran penting penasihat keuangan untuk membantu nasabah tetap berpegang pada rencana dan tidak serta-merta bereaksi pada berita harian,” tuturnya.

Di sisi lain, meski tampak suram, outlook baru akan berubah jika ada perubahan signifikan dalam konstelasi geopolitik. Karenanya, sementara menunggu potensi kejutan positif datang, eksekusi seluruh rencana perusahaan perlu dilaksanakan lebih cepat, dan investasi yang telah disepakati perlu dipastikan terkonversi menjadi kapasitas produksi nyata.
“Hal yang paling sering mengubah rencana keuangan datang dari kehidupan sendiri. Karena itu, portofolio harus ditinjau secara berkala. Dari sisi konsentrasi aset, rebalancing dapat dilakukan bila perlu. Perencanaan transfer aset juga diperlukan agar kekayaan dapat berpindah dengan rapi untuk mencegah likuidasi mendadak saat darurat,” tukasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global, terutama dalam sektor pangan, air, dan energi. Menurutnya, ketiga sektor tersebut merupakan bagian penting dari kedaulatan Indonesia.
“Di tengah dinamika global yang mendorong berbagai negara memperkuat kesiapsiagaan dan cadangan strategis, Indonesia perlu terus membangun ketahanan nasional sekaligus mengoptimalkan potensi yang dimiliki,” ujarnya saat membuka Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis pekan lalu.
Anindya melansir sejumlah indikator lain masih menunjukkan ketahanan ekonomi, antara lain realisasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp270 triliun, pertumbuhan laba bersih emiten sekitar 16 persen, cadangan devisa sebesar USD146 miliar, serta pertumbuhan kredit secara tahunan sebesar 13,3 persen.
Selain menjaga ketahanan ekonomi nasional, CEO PT Bakrie & Brothers Tbk itu menekankan pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi dirasakan hingga ke daerah. Efisiensi perlu menjadi langkah awal sebelum pemerintah dan dunia usaha mendorong peningkatan produktivitas. Karenanya, tekanan ekonomi daerah agar ruang pertumbuhan kembali terbuka.
Di samping efisiensi, upaya memperluas pasar ekspor perlu berjalan beriringan dengan peningkatan investasi, baik melalui pasar modal maupun penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI). Pembukaan akses pasar melalui diplomasi ekonomi dan perjanjian perdagangan internasional juga dinilai dapat memperbesar peluang produk Indonesia menembus pasar global.
Saat ini, Indonesia telah memiliki 25 perjanjian perdagangan yang berlaku, sementara 15 lainnya masih dalam tahap negosiasi, termasuk dengan Uni Eropa. Perluasan akses tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing produk nasional dan mendorong peningkatan ekspor Indonesia yang mencapai sekitar 300 miliar dolar AS per tahun.
"Untuk mendukung agenda tersebut, Kadin Indonesia juga mengusung strategi 5D melalui konsep Indonesia Incorporated, yakni memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," kata Anindya.
Menurut Anin, pemerintah berperan dalam menjaga disiplin dan sensitivitas fiskal, mendorong deregulasi, serta mengatasi berbagai hambatan yang menghambat kegiatan usaha. Sementara itu, dunia usaha diharapkan berperan aktif dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan membantu UMKM naik kelas.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menyoroti sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah rangkaian bencana alam, termasuk kebakaran hutan dan lahan, erupsi gunung api, serta gangguan transportasi yang berpotensi menghambat aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah.
Ia memperkirakan rangkaian bencana tersebut dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,05–0,15 poin persentase pada kuartal III 2026. Dampaknya diperkirakan bergantung pada skala kejadian serta gangguan yang ditimbulkan terhadap aktivitas produksi, distribusi barang, dan mobilitas masyarakat.
“ Kondisi tersebut dapat mempengaruhi aktivitas usaha, khususnya sektor yang bergantung pada kelancaran rantai pasok dan mobilitas antardaerah. Apabila berlangsung dalam skala luas, gangguan tersebut berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi selama periode berjalan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (3/11/2026).
Di sisi lain, prospek ekonomi kuartal III juga dipengaruhi oleh kemampuan konsumsi rumah tangga, investasi, dan kinerja sektor industri dalam menjaga aktivitas ekonomi domestik. Pemerintah sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut dapat mencapai sekitar 5,4% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan realisasi kuartal II 2026 sebesar 5,29%. Namun, angka tersebut merupakan proyeksi pemerintah, bukan proyeksi INDEF
“ Kami masih menghitung proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III, karena banyak faktor yang mempengaruhinya,” ujar dia.