Lonjakan Impor BBM di Tengah Gangguan Rantai Pasok di Timur Tengah

Indonesia mencatatkan lonjakan impor bahan bakar minyak pada kuartal I-2026 di tengah krisis minyak akibat konflik Timur Tengah. Sementara, laporan dari International Energy Agency (IEA) justru mencatat adanya penurunan konsumsi minyak dunia.

Lonjakan Impor BBM di Tengah Gangguan Rantai Pasok di Timur Tengah

Indonesia mencatatkan lonjakan impor bahan bakar minyak pada kuartal I-2026 di tengah krisis minyak akibat konflik Timur Tengah. Sementara, laporan dari International Energy Agency (IEA) justru mencatat adanya penurunan konsumsi minyak dunia.

Temuan International Energy Agency (IEA) menunjukkan permintaan minyak dunia saat ini mengalami penurunan akibat konflik Timur Tengah. Dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Chatham House, Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyampaikan adanya kekhawatiran jika harga minyak dunia terus merangkak naik, penurunan konsumsi minyak akan terus berlanjut.

Situasi akan menjadi lebih buruk jika hingga kuartal empat tahun ini Selat Hormuz tidak juga dibuka. Sebagai langkah darurat, saat ini negara-negara IEA telah melepaskan cadangan daruratnya ke pasar dan beberapa negara juga telah mengambil langkah pengurangan konsumsi minyak. 

Meski konsumsi minyak global menurun, konsumsi di Indonesia pada kuartal 1 (Q1) 2026 mengalami peningkatan sekitar 11,4% secara tahunan (y-o-y) dibandingkan Q1 tahun 2025. Hal itu diikuti dengan dengan meningkatnya impor BBM. Tercatat di tahun 2026 Indonesia telah melakukan impor BBM sebanyak 21,70 juta ton. Angka tersebut meningkat dari Q1 2025 yang sebesar 19,48 juta ton.

Konsumsi BBM Indonesia terus meningkat. Laporan dalam Handbook of Energy & Economic Statistic Indonesia oleh Kementerian ESDM memperlihatkan konsumsi bahan bakar minyak Indonesia hingga 2024 mengalami lonjakan. Dalam 10 tahun terakhir terjadi lonjakan sekitar 55% (2014-2024). Di tahun 2014, konsumsi bahan bakar minyak Indonesia tercatat 328,33 juta BOE melonjak hingga 492,1 juta BOE di tahun 2024. 

Lonjakan juga tercatat pada volume impor tahunan bahan bakar minyak oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan kode HS 27. Di tahun 2014 tercatat volume impor mencapai 51,57 juta ton dan di tahun 2025 tercatat melonjak 81,56 juta ton, atau meningkat 58,1% dalam 10 tahun terakhir. 

Penutupan Selat Hormuz yang terjadi akibat dari konflik Timur Tengah pada kuartal awal tahun ini membawa perubahan besar bagi rantai pasok global. Terutama pasok minyak mentah dari kawasan terdampak seperti Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, hingga Arab Saudi.

Hambatan tersebut memaksa negara-negara dengan ketergantungan tinggi dari pemasok minyak dunia di Timur Tengah melakukan berbagai strategi, mulai dari efisiensi konsumsi energi hingga mencari alternatif pasok minyak dari negara lainnya.

Indonesia sendiri telah melakukan berbagai upaya, termasuk mendiversifikasi sumber pasok dan penyesuaian harga BBM. Berdasarkan data impor BPS, dalam periode Q1-2026 impor BBM Indonesia (kode HS 27) mengalami lonjakan sebesar 11,4% secara tahunan.

Dilihat dari sumbernya, 10 besar negara asal impor BBM Indonesia baik dari periode Q1 2025 dan Q1 2026 tidak mengalami perubahan yang signifikan meski beberapa negara tercatat mengalami penurunan atau peningkatan volume. Negara dengan volume impor tertinggi adalah Singapura dengan sedikit penurunan di Q1 2026 yaitu 3,4 juta ton dibandingkan 3,7 juta ton di Q1 2025. Selain itu, negara seperti Amerika Serikat dan Australia turut mengalami penurunan volume impor di Q1 2026 diabndingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Impor dari negara asal yang berada di Teluk Persia, seperti Qatar tercatat mengalami penurunan signifikan hingga -41,1%.

Sementara itu, peningkatan volume impor signifikan terlihat berasal dari negara Rusia, yakni sekitar 51,8% (y-o-y) dibandingkan dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Lonjakan impor juga tercatat berasal dari Arab Saudi dari 737 ribu ton (Q1 2025) menjadi 1,2 juta ton di Q1 2026.

Dampak perang di Timur Tengah masih akan terlihat pada kuartal kedua mengingat Selat Hormuz belum dibuka secara penuh. Guna menjaga pasok dan stok BBM domestik, upaya pemerintah dalam menguatkan berbagai perjanjian dagang dengan negara-negara alternatif menjadi kunci. Sembari mendorong produksi BBM dalam negeri dan juga akselerasi bahan bakar alternatif lainnya.

Baca selengkapnya

Ω