Wacana pembentukan BUMN khusus ekspor sumber daya alam yakni Danantara Sumberdaya Indonesia direspon negatif pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (21/5/2026) ditutup turun 233,599 poin atau 3,54% ke level 6.094,941.
Pada awal perdagangan pukul 09.01 WIB, IHSG sebenarnya masih bergerak di zona hijau dengan kenaikan 47,98 poin atau 0,76% ke level 6.366. Penguatan tersebut sejalan dengan mayoritas indeks saham utama Asia yang dibuka optimistis.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan volume transaksi pada sepuluh menit awal perdagangan mencapai 3,98 miliar saham dengan nilai transaksi Rp2,21 triliun dan frekuensi 251.738 kali. Sebanyak 181 saham menguat, 161 saham melemah, dan 220 saham bergerak stagnan.
Namun penguatan itu tidak bertahan lama. Menjelang penutupan sesi pertama, IHSG mulai berbalik arah dan terperosok ke zona merah. Pada akhir sesi I, indeks ditutup di level 6.144 atau melemah 2,76%.
Tekanan pada sesi pertama dipimpin saham-saham konglomerasi dan emiten berkapitalisasi besar. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 14,7%, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 12,5%, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 11,3%. Sementara saham blue chip seperti PT Astra International Tbk (ASII) juga terkoreksi 3,4%.
Seluruh indeks sektoral tercatat masuk ke zona merah pada perdagangan siang. Pelemahan terbesar dialami sektor basic industry dan energi.
Tekanan jual semakin deras hingga penutupan perdagangan sore. Total volume transaksi tercatat mencapai 35,776 miliar saham dengan frekuensi 2,14 juta kali transaksi. Sebanyak 663 saham ditutup melemah, hanya 88 saham menguat, sementara 69 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.576,828 triliun.
Penurunan paling tajam terjadi pada sektor energi yang anjlok 6,91%, diikuti basic industry 6,53%, cyclical 6,05%, infrastruktur 5,58%, industrial 5,37%, transportasi 4,92%, dan properti 3,89%. Sementara sektor kesehatan turun 1,65%, teknologi melemah 1,38%, dan non-cyclical terkoreksi 1,44%.
Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp130,88 miliar di pasar reguler.
Aksi jual asing paling besar terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai jual bersih mencapai Rp375,75 miliar. Selanjutnya saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat net foreign sell Rp221,01 miliar.
Tekanan asing juga terjadi pada sejumlah saham konglomerasi dan komoditas. Saham TPIA mencatat jual bersih asing Rp140,50 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp123,35 miliar, DSSA Rp113,68 miliar, ASII Rp100,70 miliar, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp78,06 miliar.
Pilih jual dalam tekanan
Melihat warna merah di aplikasi sekuritas di ponselnya, Riani (35) hanya menghela nafas ketika tahu IHSG sedang anjlok. Seorang content writer di salah satu agensi tersebut mengaku telah menjual 15 lot saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan 8 lot saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Meski harus menanggung kerugian, dia memilih melepas kepemilikannya karena tidak ingin menanggung risiko lebih besar di tengah kondisi pasar yang masih tertekan.
Menurut dia, tekanan jual di pasar saham belakangan terasa sangat kuat seiring pelemahan IHSG. Untuk sementara, Riani memilih mengalihkan dananya ke instrumen reksa dana sambil menunggu kondisi pasar lebih stabil.
“Tekanan jualnya mengerikan, aku lebih pilih jual saja semuanya meskipun rugi karena IHSG merah. Lebih baik jual daripada tidak pasti,” kata dia.
Senada, Karin (32), seorang ASN di salah satu kementerian, juga memutuskan melepas saham emiten perkebunan sawit yang sebelumnya menjadi salah satu koleksi investasinya. Sebanyak 25 lot saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dia jual karena khawatir kerugiannya akan semakin dalam jika terus dipertahankan.
Saat ini, Karin memilih menarik sebagian dananya dari pasar saham dan beralih ke emas fisik yang dinilai lebih aman di tengah volatilitas pasar.
"Takutnya kalau di-hold, bakalan rugi. Aku saat ini narik dana (dari saham), lalu mau aku belikan emas fisik aja deh. Biar harganya turun (saat ini) enggak masalah," terangnya.
Rencana BUMN Ekspor SDA Picu Tekanan di Pasar Saham
IHSG kian melemah di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap rencana pemerintah membentuk badan usaha milik negara (BUMN) yang akan mengelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) secara terpusat.
Tekanan terhadap indeks terus terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kebijakan tersebut dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang menegaskan adanya perubahan signifikan dalam tata kelola ekspor nasional.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah akan menunjuk BUMN sebagai pengelola utama ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk kelapa sawit, batu bara, hingga paduan besi, tujuannya yakni memperkuat pengawasan serta mencegah praktik yang dinilai merugikan negara.
“Penerbitan peraturan ini adalah langkah strategis untuk memperkuat tata kelola ekspor komunitas sumber daya alam kita,” kata Prabowo.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kontrol terhadap praktik perdagangan yang selama ini dinilai bermasalah, seperti under-invoicing, transfer pricing, hingga pelarian devisa hasil ekspor. Dalam skema baru ini, BUMN yang ditunjuk akan berperan sebagai pengekspor tunggal, di mana hasil penjualan ekspor akan disalurkan kepada pelaku usaha terkait melalui entitas tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Corporate Secretary Division Head PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Eko Prayitno, menyatakan perseroan menghormati dan mendukung setiap kebijakan strategis pemerintah, termasuk rencana pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia yang akan mengintegrasikan ekspor komoditas SDA.
“Sebagai perusahaan publik sekaligus bagian dari Holding BUMN Industri Pertambangan (MIND ID), PT Bukit Asam (Persero) Tbk senantiasa menghormati, mematuhi, dan mendukung setiap kebijakan strategis yang dicanangkan oleh pemerintah,” kata Eko kepada SUAR.
Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut dipandang sebagai upaya memperkuat tata kelola komoditas nasional dan meningkatkan nilai tambah bagi negara, sekaligus memperbesar posisi tawar Indonesia di pasar global.
PTBA, lanjutnya, menyatakan siap melakukan penyesuaian terhadap perubahan regulasi yang akan diterapkan.
"Perusahaan akan berkoordinasi dengan MIND ID serta kementerian terkait sambil menunggu petunjuk teknis dari pemerintah mengenai mekanisme operasional sistem satu pintu tersebut," ucapnya.
Baca juga:

Eko juga menegaskan bahwa perseroan akan memastikan kesiapan internal, baik dari sisi administrasi, legalitas, maupun logistik, agar tetap selaras dengan ketentuan baru.
Di sisi lain, PTBA tetap fokus menjaga stabilitas produksi, memenuhi kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta mempertahankan kinerja ekspor yang berkelanjutan di tengah perubahan kebijakan yang tengah disiapkan pemerintah.
Investor Ambil Sikap Defensif
Rencana pemerintah membentuk badan eksportir untuk komoditas strategis seperti batu bara dan CPO memicu peningkatan kewaspadaan pelaku pasar, seiring munculnya ketidakpastian arah implementasi kebijakan yang dinilai berpotensi memengaruhi kinerja emiten.
Direktur Investasi Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, mengatakan pasar saham merespons negatif terhadap kebijakan baru yang belum memiliki kejelasan teknis pelaksanaan. Menurut dia, ketidakpastian menjadi faktor utama yang mendorong aksi investor untuk keluar sementara dari aset berisiko.
“Investor tidak suka uncertainty. Ketika ada potensi perubahan kebijakan yang belum jelas implementasinya, reaksi paling mudah adalah menjual dulu aset yang dimiliki,” ujar Dimas ketika ditemui di gedung (BEI).
Ia menjelaskan bahwa tekanan jual yang sempat terjadi di bursa merupakan bentuk respons awal pasar terhadap wacana pembentukan lembaga ekspor tersebut. Investor, kata dia, cenderung melakukan penyesuaian portofolio sambil menunggu kejelasan regulasi yang akan diterapkan pemerintah.
Meski demikian, Dimas menilai prospek fundamental emiten komoditas seperti batu bara dan CPO masih relatif solid. Hal ini ditopang oleh kondisi harga komoditas global yang cenderung stabil hingga menguat, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang memberikan keuntungan bagi eksportir berbasis dolar Amerika Serikat.
“Selama fundamental masih kuat, upside-nya tetap besar,” katanya.
Dari sisi emiten, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Gilman Pradana Nugraha, menilai rencana pembentukan badan ekspor berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap sektor komoditas. Investor, menurutnya, akan menghitung ulang struktur biaya dan dampaknya terhadap profitabilitas perusahaan.
Ia menekankan bahwa pasar tidak hanya bereaksi terhadap faktor makroekonomi dan kinerja perusahaan, tetapi juga terhadap arah kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi operasional bisnis.
“Kalau ekspor harus melalui organisasi tertentu, pasar tentu menghitung apakah akan ada tambahan cost yang memengaruhi profitabilitas dan dividen,” ucap Gilman.
Sementara itu, dalam keterangan terpisah Head of Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina, menyoroti tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia sepanjang tahun berjalan.
Hingga 19 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 6.371 atau melemah 26,3% secara year-to-date (YTD), menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terburuk secara global.
Tekanan tersebut juga tercermin dari arus keluar investor asing yang konsisten sepanjang 2026, dengan catatan jual bersih Rp13,3 triliun pada Januari, Rp5,7 triliun pada Februari, Rp10,5 triliun pada Maret, Rp16,8 triliun pada April, dan Rp4,9 triliun hingga pertengahan Mei 2026.
Dalam kondisi tersebut, Martha merekomendasikan investor untuk menerapkan strategi defensif melalui diversifikasi portofolio, peningkatan porsi instrumen seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), sikap wait and see terhadap obligasi, serta seleksi saham berbasis fundamental kuat dan sektor defensif.