Menanti Panasea di Tengah Gelombang Merah Bursa

Pada Selasa (19/5/2026), Bursa Efek Indonesia kedatangan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco didampingi OJK. Mereka mencoba meyakinkan investor pasar modal Indonesia kian berkembang.

Menanti Panasea di Tengah Gelombang Merah Bursa
Suasana perdagangan di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Nampak big screen BEI masih menggambarkan pelemahan IHSG yang terjadi di tengah volatilitas pasar global belakangan ini. Foto: Nana/Suar.id
Daftar Isi

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir dinilai masih sejalan dengan tekanan yang terjadi di bursa regional di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan sentimen domestik pasca rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan, dinamika pasar saat ini dipengaruhi konflik di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter global yang masih ketat, serta penyesuaian pasar setelah keputusan rebalancing MSCI pada 12 Mei waktu Amerika Serikat atau 13 Mei waktu Indonesia.

“Kita melihat pelemahan IHSG saat ini dalam beberapa hari sebenarnya masih sejalan dengan tren pelemahan bursa secara regional,” ucap Kiki, sapaannya, dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, (19/5/2026).

Menurut dia, pelemahan IHSG setelah pengumuman MSCI masih berada dalam kategori moderat. Pada hari pertama pasca pengumuman MSCI, IHSG tercatat melemah 1,98 persen, sementara pada perdagangan 18 Mei setelah libur panjang turun 1,85 persen.

Kiki menilai kondisi tersebut menunjukkan pergerakan pasar yang semakin berbasis fundamental. Menurut dia, pergerakan indeks saat ini relatif sejalan dengan indeks MSCI maupun subindeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.

“Pergerakan saham lebih ditopang oleh aspek fundamental dibandingkan oleh sentimen semata,” katanya.

Di tengah tekanan pasar, OJK mencatat dana kelolaan reksa dana justru meningkat. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana sejak awal tahun bertambah Rp49,71 triliun atau naik sekitar 6,39 persen menjadi Rp718,44 triliun, didorong net subscription investor ritel.

Selain itu, jumlah investor ritel pasar modal juga terus bertambah. Friderica menyebut jumlah investor saat ini mencapai sekitar 27 juta atau meningkat sekitar 6 juta hingga 7 juta investor dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia di tengah tekanan global dan dinamika domestik.

Menurut Dasco, pembahasan dalam pertemuan tersebut berfokus pada upaya memperkuat kepercayaan investor global maupun investor ritel domestik agar tetap masuk dan bertahan di pasar modal Indonesia.

“Kami tadi sudah banyak berdiskusi bagaimana kita meyakinkan untuk menguatkan investor global akan masuk di bursa dan sedang di bursa,” ujar Dasco.

Ia menambahkan perhatian juga diberikan terhadap pertumbuhan investor ritel domestik yang dinilai terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Menurut dia, pengelola bursa telah memaparkan berbagai langkah penyempurnaan regulasi guna meningkatkan kenyamanan investor lokal dalam bertransaksi di pasar modal.

“Tetapi juga tadi kami banyak berdiskusi bagaimana kemudian investor ritel yang ada terus tumbuh dan berkembang,” katanya.

Dasco menilai regulator dan pengelola bursa terus melakukan penyempurnaan kebijakan untuk memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap kondisi pasar modal nasional. Langkah tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan jumlah investor ritel di Indonesia.

“Dengan fundamental yang ada kita yakin dan percaya bahwa bursa kita ke depan akan semakin kuat,” ujarnya.

Dalam kunjungannya kali ini, Dasco juga menyinggung perkembangan pasar setelah periode tertentu yang disebutnya akan menjadi momentum untuk melihat hasil dari berbagai upaya regulator dan pengelola bursa.

“Mudah-mudahan kita akan lihat hasilnya setelah tanggal 29 ini. Semua yang dilakukan atas kerja keras dan niat baik ini akan membuahkan hasil,” kata dia.

Ia turut mengapresiasi langkah dan kerja OJK serta direksi BEI dalam menghadapi tekanan pasar akibat kondisi global dan dinamika domestik beberapa waktu terakhir.

Dari kiri ke kanan: Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Sufmi Dasco Ahmad, Rosan Roeslani selaku CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM dan Menteri BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (19/5/2026). Foto: Nana/Suar.id

Dalam kesempatan yang sama, Rosan Roeslani selaku CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, mengatakan pihaknya memandang investasi di pasar modal sebagai investasi jangka panjang. Ia menilai saham-saham badan usaha milik negara (BUMN), khususnya sektor perbankan dan mineral, masih memiliki fundamental dan tingkat imbal hasil yang menarik.

“Kalau kita lihat secara fundamental maupun pricing dari saham-saham BUMN kita yang ada di bursa itu akan membuat yield jangka menengah panjang yang baik, yang above 10 to 11 persen,” ujar Rosan.

Ia juga menilai langkah perbaikan tata kelola dan transparansi yang dilakukan OJK dan BEI akan memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.

Fundamental emiten baik

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengamini hal tersebut. Pasalnya, kondisi fundamental emiten masih menunjukkan pertumbuhan positif. Dari total 957 perusahaan tercatat di BEI, sekitar 85 persen telah menyampaikan laporan keuangan kuartal I 2026.

“Secara fundamental net income dan kemudian dari sisi net profit itu meningkat 21,5 persen,” kata Nyoman.

Ia juga menyampaikan saat ini terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham baru, dengan mayoritas berasal dari kategori papan utama atau perusahaan berkapitalisasi besar.

Menurut Nyoman, pertumbuhan jumlah investor, peningkatan kinerja emiten, dan pipeline pencatatan saham baru menunjukkan pasar modal Indonesia masih memiliki daya tarik di tengah tekanan global dan volatilitas pasar.

Sebagai informasi, pertemuan di gedung BEI juga dihadiri oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, CEO Danantara Rosan Roeslani, Wakil DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Menteri BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria, serta jajaran direksi BEI lainnya. Kunjungan ini merupakan kunjungan Dasco yang kedua setelah pasar jatuh pasa Selasa 18 Maret 2025 silam. Saat itu dia juga memberikan dukungan moral kepada pasar serta memastikan beberapa langkah pemulihan yang segera diambil oleh regulator.

Kunjungan DPR dan Danantara ternyata tidak mampu mengatrol IHSG untuk menghijau. Pasalnya, IHSG melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini.

Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG ditutup di level 6.370,68 melemah 228,56 poin atau turun 3,46 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor sehingga menyeret indeks bergerak di zona merah sepanjang perdagangan.

Berdasarkan data perdagangan, volume transaksi tercatat mencapai 46,062 miliar saham. Sebanyak 112 saham menguat, sementara 612 saham melemah dan 94 saham stagnan. Nilai kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.132,821 triliun di tengah meningkatnya aksi jual investor di pasar saham domestik.

Pasar Butuh Kepastian

Ekonom Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai pelemahan IHSG dan rupiah dalam waktu bersamaan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik, bukan semata dampak volatilitas global.

Menurut Achmad, koreksi pasar saham pada dasarnya merupakan hal wajar. Namun, ketika penurunan IHSG terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah, arus keluar investor asing, hingga sorotan lembaga pemeringkat global terhadap tata kelola pasar, kondisi tersebut berubah menjadi sinyal terhadap tingkat kepercayaan investor pada kebijakan ekonomi pemerintah.

“Investor sedang mempertanyakan apakah arah kebijakan ekonomi pemerintahan saat ini cukup kredibel, cukup disiplin, dan cukup meyakinkan,” kata Achmad.

Ia menjelaskan tekanan global seperti konflik geopolitik, penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan harga energi, dan peralihan investor ke aset aman memang memengaruhi pasar negara berkembang. Namun, menurut dia, faktor domestik menentukan seberapa dalam tekanan tersebut berdampak terhadap pasar keuangan nasional.

Achmad menilai pasar mulai menaruh perhatian pada agenda belanja besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, mulai dari program makan bergizi gratis, subsidi energi, ketahanan pangan, hingga pertahanan.

Ia juga menyoroti langkah Moody's Ratings dan Fitch Ratings yang merevisi outlook Indonesia menjadi negatif pada 2026 meski tetap mempertahankan peringkat investment grade. Menurut Achmad, keputusan dua lembaga pemeringkat global itu menjadi peringatan bahwa pasar mulai menaruh perhatian terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.

Achmad mengatakan pelemahan rupiah turut meningkatkan tekanan terhadap biaya impor energi, bahan baku, dan pembayaran utang valas. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi struktur biaya perusahaan dan meningkatkan tekanan inflasi.

Karena itu, ia meminta pemerintah dan regulator memprioritaskan pemulihan kepercayaan pasar melalui kebijakan yang terukur dan konsisten. Pemerintah dinilai perlu menjelaskan strategi menjaga defisit APBN, pengelolaan subsidi, serta batas aman utang negara.

“Investor tidak cukup diyakinkan oleh optimisme. Investor diyakinkan oleh disiplin,” katanya.

Selain itu, Achmad meminta OJK dan BEI mempercepat reformasi tata kelola pasar, termasuk terkait free float, konsentrasi kepemilikan saham, dan transparansi emiten.

Menurut dia, kritik terhadap kualitas pasar modal Indonesia seharusnya dijawab melalui pembenahan struktural, bukan sekadar respons defensif.

“Dalam pasar modal, kepercayaan adalah mata uang kedua setelah uang itu sendiri,” ujar Achmad.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Andalas sekaligus ekonom, Syafruddin Karimi, menilai pemerintah dan regulator perlu memberikan respons terpadu dan konkret untuk menjaga kepercayaan investor di tengah pelemahan IHSG dan tekanan terhadap rupiah.

Menurut dia, pelemahan pasar saat ini dipicu kombinasi tekanan global dan peningkatan persepsi risiko terhadap Indonesia. Ia menyebut sentimen terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto turut memperbesar tekanan melalui ketidakpastian domestik.

“Faktor global menyalakan tekanan, sedangkan ketidakjelasan arah kebijakan domestik dapat memperbesar aksi jual,” jelas Syafruddin.

Menurut dia, pola pelemahan yang menyebar menunjukkan investor sedang melakukan aksi risk-off terhadap aset negara berkembang, seiring tingginya yield obligasi Amerika Serikat, penguatan dolar AS, harga energi yang mahal, dan memburuknya sentimen global terhadap pasar berkembang.

Di sisi lain, pasar juga mencermati kondisi domestik, termasuk arah fiskal pemerintah, skema subsidi energi, pembiayaan program prioritas, serta koordinasi kebijakan ekonomi pemerintahan baru.

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya

Ω