Jaga Stabilitas Rupiah, BI Lebarkan Jarak Antara BI Rate Dengan The Fed

Keputusan Bank Indonesia (BI) pada Mei 2026 untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25% menandai babak baru dalam strategi moneter domestik. Langkah BI tersebut mengakhiri fase pelonggaran panjang yang sempat dinikmati sepanjang tahun lalu. 

Jaga Stabilitas Rupiah, BI Lebarkan Jarak Antara BI Rate Dengan The Fed

Secara historis, kebijakan moneter BI tidak pernah lepas dari pengaruh eksternal khususnya arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed).

Sebagai bank sentral negara berkembang, BI mengemban tugas menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengelola ekspektasi inflasi domestik. Sembari, BI juga memantau pergerakan global. Ketika lanskap makroekonomi global bergeser, BI juga dipastikan fleksibel agar arus modal portofolio asing tidak keluar dari pasar keuangan domestik.

Sepanjang tahun 2025, kebijakan bank sentral AS dan RI saling terkait erat namun dengan respons yang terukur. Pada awal 2025 (Januari–April), BI mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level aman 5,75% saat The Fed bertengger di angka 4,50%, menciptakan selisih (interest rate differential) sebesar 1,25% yang cukup kuat untuk menjaga rupiah. 

Namun, BI perlahan memangkas suku bunga hingga menyentuh level terendah 4,75% pada September 2025, menyempit menjadi hanya 0,50%. Di saat itu The Fed baru menurunkan suku bunganya ke 4,25%. Penurunan BI Rate yang lebih dulu memperkecil selisih imbal hasil. Setekah itu, BI menahan suku bunga di level 4,75% selama delapan bulan berturut-turut hingga April 2026 guna mencegah depresiasi rupiah yang lebih dalam. Sementara The Fed terus melonggarkan kebijakan hingga ke level 3,75%.

Perbedaan penyesuaian dalam menentukan suku bunga acuan berakar dari perbedaan fundamental indikator yang diadopsi kedua institusi. The Fed dalam menentukan suku bunga acuannya mengacu pada panduan Dual Mandate. Komponen indikatornya terkait dengan stabilitas harga maksimum dan penyerapan tenaga kerja yang optimal. 

Indikator AS seperti Personal Consumption Expenditures (PCE), Consumer Price Index (CPI), serta data ketenagakerjaan seperti Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran yang menjadi komponen dari indikator Dual Mandate The Fed. Sementara Bank Indonesia mengadopsi mandat yang lebih kompleks. Selain mengendalikan inflasi domestik dan Produk Domestik Bruto (PDB), BI menempatkan stabilitas nilai tukar rupiah serta Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan cadangan devisa sebagai indikator yang krusial. Karakteristik ini membuat BI harus selalu menjaga imbal hasil domestik tetap menarik di mata global.

Memasuki Mei 2026, kalkulasi risiko BI berubah sehingga menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan pada indikator domestik dan global yang dikelola BI. 

Dari sisi domestik, lonjakan harga komoditas atau ekspektasi inflasi yang merangkak naik kemungkinan besar mulai mengancam target inflasi BI. Sementara dari sisi global, tekanan terhadap NPI dan penurunan cadangan devisa akibat rupiah yang terus tertekan memaksa BI untuk bertindak preventif. Ketika The Fed menahan suku bunganya di kisaran 3,75%, BI memilih untuk melebarkan kembali jarak suku bunga menjadi 1,50% demi membentengi pasar keuangan yang berpotensi tertekan oleh faktor eksternal.

Pada akhirnya, penentuan suku bunga acuan menggambarkan bahwa dinamika kebijakan moneter Indonesia tidak hanya bersandar pada kondisi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Suku bunga acuan AS juga menjadi salah satu acuan utama dalam formula pengambilan keputusan Bank Indonesia. 

Selanjutnya, untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam meperkuat rupiah, memerlukan bauran kebijakan moneter yang tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga. BI perlu mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk menjaga likuiditas perbankan dan stabilitas sistem keuangan.

Langkah proaktif tersebut krusial agar kenaikan BI Rate ke level 5,25% mampu meredam dampak volatilitas global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan PDB riil domestik.

Baca selengkapnya

Ω