Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kian menyudutkan kantong konsumen. Cara pandang pun ikut berubah, terutama dalam mengelola dana sehari-hari. Salah satunya dengan menimbang ulang efisiensi mobilitas melalui transisi ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Asal tahu saja, per 18 April 2026, PT Pertamina (Persero) resmi mengerek harga BBM nonsubsidi. Harga Pertamax Turbo kini menyentuh Rp19.400 per liter, disusul Dexlite di angka Rp23.600, dan Pertamina Dex yang mencapai Rp23.900 per liter. Celakanya, ruang penyesuaian harga ke depan diprediksi masih terbuka lebar seiring dengan panasnya tensi geopolitik global.
Kondisi inilah yang memicu pengguna kendaraan berbasis bahan bakar fosil (internal combustion engine/ICE) mulai melirik EV sebagai pelarian. Prima Nuralifya, 22 tahun, seorang mahasiswa Universitas Gunadarma asal Tangerang Selatan, merasakan betul dampak ini.
Setiap hari, ia harus menempuh rute jarak jauh menuju Depok. Untuk urusan bensin saja, ia harus merogoh kocek hingga Rp120.000 per minggu hanya untuk satu unit sepeda motor.
"Kenaikan harga BBM ini jelas membuat saya tertarik pindah ke kendaraan listrik. Apalagi kalau pakai mobil, biaya operasionalnya jauh lebih boros. Keluarga saya pun mulai menimbang untuk membeli mobil atau motor listrik," ujar Prima kepada SUAR, Senin (27/4).
Namun, niat ini rupanya belum bisa menjadi kenyataan. Sebab menurut Prima, masih ada sejumlah hambatan yang membuatnya menunda pembelian kendaraan listrik.
Prima mengakui, faktor harga beli yang masih tinggi dan kekhawatiran akan merosotnya harga jual kembali (resale value) menjadi batu sandungan utama. Selain itu, ketersediaan infrastruktur pendukung masih menjadi catatan merah bagi calon pengguna.
"Harga mobil listrik cenderung masih mahal dan nilai jual kembalinya jatuh. Ditambah lagi, tempat pengisian daya (charging station) masih terbilang minim," keluh Prima.
Akan terus meningkat
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto menjelaskan bahwa tren penjualan kendaraan listrik khususnya mobil listrik sendiri memang akan terus meningkat. Kenaikan harga BBM nonsubsidi pun turut mempercepat dan mendukung tren tersebut.
“Tren penjualan mobil listrik akan terus meningkat. Kenaikan harga BBM juga ikut menunjang kenaikan penjualan mobil listrik,” kata Jongkie, Selasa (28/04/2026).
Dari sisi harga mobil listrik, Jongkie mengatakan sudah mulai menunjukkan tren yang semakin kompetitif. Harga mobil listrik di dalam negeri katanya sudah mulai bergerak turun sehingga lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
“Harga mobil-mobil listrik sekarang makin terjangkau, makanya penjualannya juga tambah meningkat,” tambahnya.
Senada dengannya, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik (Aismoli) Budi Setiyadi, menilai dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi ini sangat berpengaruh terhadap tingginya minat masyarakat untuk menggunakan sepeda motor listrik.
Kenaikan harga BBM ini harus dijadikan momentum strategis untuk para pelaku industri otomotif khususnya EV untuk mendorong peningkatan penjualan.
“Ya pastinya, secara real juga sekarang industri sepeda motor listrik yang sudah sampai ke dealer pertumbuhannya cukup tinggi dibandingkan hari-hari biasa. Artinya dengan sekarang pemberitaan di beberapa negara sudah mulai mengalami kesulitan BBM, dan Indonesia walaupun masih sekarang ada kenaikan, ini menjadi momentum yang cukup bagus,” jelas Budi, Senin (27/04/2026).
Daya beli masyarakat yang relatif terjaga turut memberikan dorongan positif bagi kinerja penjualan di tingkat agen pemegang merek (APM). Sejumlah pelaku mengaku sudah mulai merasakan peningkatan permintaan, menjadi sinyal bahwa pasar EV masih memiliki ruang untuk bertumbuh.
“Daya beli sekarang cukup bagus di masyarakat, APM merasakan ada peningkatan penjualan,” ungkapnya.
PT Astra International Tbk, grup usaha yang memiliki bisnis mulai dari otomotif hingga jasa keuangan, menilai bahwa masa depan industri otomotif sendiri tidak akan didominasi oleh satu jenis teknologi saja. Sehingga, Astra pun masuk ke berbagai segmen sekaligus sebagai strategi menjaga relevansi bisnis di tengah transisi energi.
Direktur Astra Gidion Hasan mengatakan pihaknya masih akan terus mempertahankan pangsa pasar atau market share otomotif di kisaran 50%, meskipun terjadi gempuran merek kendaraan listrik dari China ke Indonesia. Kompetisi industri otomotif pun semakin ketat, namun Astra tetap berupaya masuk ke dalam segmentasi tersebut agar kebutuhan masyarakat akan kendaraan juga terus terpenuhi.
“Kami percaya bahwa yang namanya mobil listrik, mobil hybrid, maupun mobil ICE, akan terus eksis bersama-sama. Karena ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang sangat luas dan beraneka ragam,” ucap Gideon usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Menara Astra, Jakarta Pusat, Kamis (23/04/2026).
Adopsi EV sendiri lebih terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, didukung dengan daya beli yang lebih tinggi dan infrastruktur EV yang memadai. Perusahaan pun menerapkan strategi multi-pathway untuk kendaraan ICE, EV, maupun hybrid sebagai upaya untuk menangkap peluang yang ada.
“Masing-masing teknologi ini memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, kita bisa lihat misalnya mobil listrik sebagian besar itu mungkin lebih dari 70% distribusinya di Jabodetabek, sementara hybrid tersebar secara lebih merata, mesin konvensional juga masih sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia, sekarang ini kurang lebih 75% dari market adalah mesin konvensional,” ungkapnya.

Belum terukur
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu juga mengatakan kenaikan BBM nonsubsidi pada bulan April 2026 ini sangat mendorong lonjakan minat terhadap EV. Tetapi, peningkatan minat ini belum secara signifikan mengarah ke transaksi menurutnya.
“Pada tataran kesadaran masyarakat, efeknya kuat yang dapat dilihat dari peningkatan kunjungan ke dealer, pameran, dan pencarian informasi di media digital. Tetapi begitu masuk ke konteks pembelian, konversinya masih lemah,” kata Yannes, Senin (27/04/2026).
Pangsa pasar kendaraan ICE sendiri sudah menurun dari 99,6% di tahun 2021 menjadi 75% pada bulan Maret 2026. Sementara itu di sepanjang tahun 2025, penjualan EV melonjak sebesar 141%. Maka dari itu sebenarnya, tren peningkatan penjualan sudah terjadi sebelum kenaikan BBM.
Kenaikan harga BBM ditambah dengan ketidakpastian harga energi ini berfungsi sebagai akselerator dari tren struktural yang sebenarnya sudah berjalan, bukan sebagai pemicu baru. Namun, dijelaskan olehnya, masih ada sejumlah tantangan dalam mengubah minat masyarakat yang tinggi ini menjadi pembelian.
“Harga model entry-level masih di kisaran Rp185 jutaan, sementara insentif PPnBM dan PPN DTP sudah berakhir sejak 2025, membuat harga ini secara efektif justru naik. Lalu, infrastruktur, SPKLU baru sekitar 4.500 unit dan lebih terkonsentrasi di kota besar, khususnya sekitar Jakarta, ini memicu range anxiety untuk perjalanan jauh EV tersebut,” jelasnya.
Selain itu, nilai jual kembali yang dinilai masih relatif rendah sehingga memunculkan kekhawatiran akan depresiasi harga yang lebih cepat dibanding kendaraan konvensional juga masih menjadi hambatan.
“Ekosistem purnajual yang masih minim yang membuat resale value kendaraan ini sangat anjlok dibandingkan mobil ICE konvensional, kemudian bengkel khusus EV termasuk spareparts serta SDM handal pun masih terbatas, selain standar interoperabilitas baterai yang belum ada,” ungkap Yannes.
Hambatan lainnya, adalah masih adanya sejumlah kekhawatiran dari masyarakat sehingga tingginya minat ini belum terkonversi menjadi pembelian secara signifikan.
“Kekhawatiran psikologis seperti daya tahan baterai saat banjir dan umur pakai baterai lewat 8-10 tahun yang harga penggantian baterai barunya bisa lebih dari setengah EV second hand tersebut masih menjadi kendala psikologis,” tutupnya.