Dalam membangun ekosistem EV yang tengah jadi primadona alternatif di tengah krisis bahan bakar global dibutuhkan kerja cepat dan menyeluruh. Tidak hanya soal mendorong penetrasi dan kinerja penjualan dengan berbagai gelontoran insentif dan promosi, pembangunan ekosistem yang mumpuni juga perlu diperhatikan.
Meski berhasil meningkatkan penjualan EV dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia juga dihadang tantangan baru. Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) melihat potensi antrean panjang di SPKLU di balik pesatnya pertumbuhan EV. Kekhawatiran muncul dipicu oleh maraknya mobil listrik berbiaya murah dengan kemampuan pengisian daya (charging rate) yang rendah, yaitu di bawah 30 kW atau 40 kW yang mengakibatkan lamanya durasi pengisian.
PT PLN (Persero) dan mitra terus memacu pembangunan ekosistem EV nasional secara agresif dalam beberapa tahun terakhir. Hingga akhir tahun 2025, PLN mencatatkan realisasi operasional sebanyak 4.655 unit SPKLU yang tersebar di 3.007 titik lokasi seluruh Indonesia.
Capaian 2025 mencatatkan pertumbuhan tahunan yang signifikan, yaitu sekitar 44% dibandingkan tahun 2024 yang baru mencapai 3.223 unit di 2.192 lokasi. Meski demikian, melalui dokumen “Komitmen PLN mendukung Akselerasi Ekosistem EV”, target tahun 2025 belum tercapai, yaitu 5.810 unit SPKLU dengan rasio 1:17.
Jika menengok ke belakang pada tahun 2024, ketimpangan dan keterbatasan infrastruktur pendukung memang menjadi pekerjaan rumah yang besar. Secara nasional, rasio ketersediaan SPKLU terhadap EV yang beredar pada tahun 2024 berada di angka 1:21, dengan populasi kendaraan listrik sebanyak 68.695 unit.
Namun, data sebaran regional menunjukkan sebaran yang tidak merata. Wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Jakarta mencatatkan rasio sangat padat sebesar 1:47, disusul oleh Banten dengan rasio 1:27 dan Jawa Barat dengan rasio 1:18. Sebaliknya, wilayah luar Jawa seperti Sumatera Barat, Aceh, hingga Nusa Tenggara Timur memiliki rasio yang sangat rendah, yakni 1:01.
Berdasarkan data sebaran tipe charger dari situs petaspklu.com dan realisasi teknologi PLN per 2025, integrasi antara kuantitas infrastruktur dan spesifikasi kendaraan menjadi kunci krusial untuk mencegah kemacetan pengisian. Berdasarkan pemutakhiran data PLN sepanjang 2025, pasokan infrastruktur saat ini masih didominasi oleh golongan Medium Charging (7-22 kW) sekitar 2000 unit dan Standard Charging (≤ 7 kW) sekitar 500 unit di seluruh wilayah Indonesia. Sementara tipe Fast Charging baru mencapai sekitar 400 unit dan Ultra Fast Charging (>50 kW) sekitar 600 unit secara nasional.
Dominasi tipe medium dan standard ini memunculkan kekhawatiran KOLEKSI terkait kendaraan listrik murah yang masuk ke pasar komersial memiliki charging rate yang sangat kecil, maka durasi tunggu di SPKLU akan semakin lama atau berlipat ganda. Oleh karena itu, pemerintah dan mitra swasta perlu mengkaji kembali terkait spesifikasi teknis pengisian daya agar teknologi kendaraan selaras dengan kapasitas optimal hulu infrastruktur.
Akselerasi pembangunan yang dilakukan pemerintah dan juga mitra swasta dalam membangun ekosistem kendaraan listrik perlu diletakkan dalam konteks target jangka panjang. Kajian ulang dari akselerasi target pembangunan infrastruktur dan juga dorongan perluasan penetrasi pengguna EV perlu diselaraskan untuk menekan dampak lanjutan seperti charging rate rendah dengan ratio yang masih tinggi.
Target rasio 1:17 yang perlu dicapai di tahun 2025 sejatinya masih belum ideal. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan bahwa rasio ideal antara SPKLU dan mobil listrik berada di angka 1:10.
Untuk akselerasi dalam membangun ekosistem EV yang masih memiliki banyak kendala, optimalisasi pengisian daya mandiri dan digitalisasi layanan dapat dilihat sebagai jalan keluar. Hal itu antara lain merespons lonjakan yang terjadi pada sektor Home Charging Services (HCS) yang pelanggannya tumbuh lebih dari dua kali lipat menjadi 70.250 pengguna di akhir tahun 2025. Pertumbuhan itu didorong oleh stimulus diskon pasang baru serta potongan tarif 30% pada malam hari (pukul 22.00–05.00 WIB).
Di sisi lain, PLN juga melakukan mitigasi potensi antrean di lapangan melalui penguatan fitur aplikasi PLN Mobile, seperti Trip Planner untuk merencanakan rute perjalanan berbasis sisa daya baterai dan fitur AntreEV untuk mengurai penumpukan pengisian secara tertib. Melalui kombinasi regulasi teknis kendaraan, perluasan jaringan pengisian mandiri di rumah, serta manajemen digital, ekosistem EV Indonesia diharapkan siap bergerak maju dengan lebih inklusif dan efisien.