Ekspansi Data Center Perlu Antisipasi Ketersediaan Air

Ekspansi Data Center Perlu Antisipasi Ketersediaan Air

Ekspansi industri data center tidak boleh tumbuh dengan mengorbankan ketahanan air masyarakat.

Ekspansi Data Center Perlu Antisipasi Ketersediaan Air
Dalam Artikel Ini

Ekspansi pusat data atau data center untuk memenuhi kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menghadirkan tantangan baru di luar kebutuhan listrik dan lahan. Ketersediaan air mulai menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan.

Tantangan tersebut menjadi relevan bagi Indonesia yang tengah menarik investasi pusat data berskala besar. Salah satu yang terbaru adalah pembangunan AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Centers di Jatiluhur, Jawa Barat, yang memiliki kapasitas hingga 640 MW dengan nilai total investasi Rp3,5 triliun.

CGK4 berlokasi sekitar lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur. Kebutuhan air CGK4 disebut dapat mencapai sekitar 33.000 meter kubik per hari ketika beroperasi pada kapasitas tertentu.

Baca juga:

Mengkalkulasi Pengembangan Industri Data Center dan Ketahanan Energi
Pesatnya digitalisasi global mendorong ekspansi masif industri data center di kawasan Asia. Indonesia kini menjadi wilayah potensial pusat data center di ASEAN.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan, ketersediaan air kini semakin menjadi salah satu parameter yang diperhitungkan dalam menentukan lokasi dan desain data center. Namun, tingkat ketergantungan terhadap air berbeda-beda pada setiap fasilitas, terutama bergantung pada teknologi pendinginan (cooling) yang digunakan.

Ia menjelaskan, data center yang  menggunakan cooling tower atau evaporative cooling memiliki ketergantungan terhadap air yang relatif lebih tinggi. Sebaliknya, desain yang menggunakan air-cooled chiller, closed-loop system, ataupun teknologi cooling generasi baru dapat menekan penggunaan air secara signifikan.

"Karena itu, dari perspektif IDPRO, pertanyaannya bukan hanya apakah suatu daerah memiliki cukup air, tetapi juga teknologi cooling apa yang paling tepat untuk kondisi sumber daya di lokasi tersebut," katanya pada SUAR, Rabu (30/9/2026). 

Menurut Hendra, isu ketersediaan dan tekanan air atau water setress perlu diperhitungkan sejak tahap feasibility study dan pemilihan lokasi atau site selection, bukan setelah fasilitas data center dibangun.  Untuk investor dan operator data center, khususnya hyperscaler dan pemain global, isu air kini semakin menjadi bagian dari proses due diligence dan environmental, social and governance (ESG) assessment.

Namun, water stress tidak bisa dilihat secara terpisah. Hendra mengatakan, investor juga mempertimbangkan keandalan dan biaya listrik, akses terhadap energi terbarukan atau rendah karbon, konektivitas fiber dan submarine cable, ketersediaan lahan, risiko bencana, regulasi, serta kondisi lingkungan di sekitar lokasi.

Pengelolaan Risiko SDA untuk Pusat Data

Hendra menjelaskan, terdapat dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengelola risiko air dalam pembangunan data center. Pertama, melalui pemilihan lokasi yang memiliki risiko sumber daya yang dapat dikelola. Kedua, melalui solusi engineering dengan merancang fasilitas yang memiliki konsumsi air lebih rendah.

Dia menilai, pendekatan kedua akan semakin penting di tengah perkembangan AI. Indonesia, kata dia, tidak perlu membatasi pertumbuhan industri pusat data hanya berdasarkan ketersediaan air, tetapi perlu mendorong penggunaan teknologi yang memungkinkan kapasitas komputasi lebih besar dengan konsumsi energi dan air yang semakin efisien.

“Apalagi dengan pertumbuhan AI, rack density akan meningkat dan kebutuhan cooling juga berubah. Karena itu, teknologi seperti liquid cooling, closed-loop cooling dan berbagai sistem dengan konsumsi air rendah akan semakin relevan,” katanya.

Direktur ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, kebutuhan air dalam operasional data center terutama berasal dari sistem pendinginan yang berfungsi membuang panas dari server yang bekerja selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Pada sistem cooling tower atau pendinginan evaporatif, sebagian air akan menguap sehingga perlu terus digantikan.

Sebagai gambaran, data center berkapasitas 56 megawatt (MW) di Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 3 juta liter air per hari. Sementara itu, proyeksi kebutuhan air untuk 10 data center di Batam diperkirakan mencapai sekitar 32 juta liter per hari ketika seluruh fasilitas beroperasi penuh pada 2032.

“Jadi, semakin besar AI dan kepadatan komputasi, kebutuhan air berpotensi meningkat,” kata Heru pada SUAR. 

Baca juga:

Menyiapkan Listrik Andal untuk Ekspansi Data Center
Karakter sebagian besar pembangkit EBT yang masih tidak stabil karena bergantung pada kondisi alam perlu ditingkatkan guna menunjang pasokan listrik data center.

Menurut Heru, keterbatasan air tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berkembang menjadi risiko bisnis dan sosial bagi industri data center. Dari sisi investor, keterbatasan pasokan air dapat meningkatkan biaya karena pengembang harus menggunakan teknologi pendinginan yang lebih mahal, membangun sumber air alternatif, atau menghadapi keterbatasan kapasitas operasi. 

Namun, dia menilai aspek yang lebih penting adalah memastikan kebutuhan data center tidak mengurangi akses air bagi masyarakat, pertanian maupun lingkungan.

"Artinya, ekspansi industri harus memperhitungkan kebutuhan masyarakat secara serius. Jika tidak, harga dan akses air masyarakat dapat tertekan. Prinsipnya, data center tidak boleh tumbuh dengan mengorbankan ketahanan air masyarakat," katanya. 

Heru mengatakan Indonesia, perlu menerapkan kombinasi teknologi dan kebijakan. Pertama, gunakan sistem yang disebut direct-to-chip atau liquid cooling untuk server AI yang menghasilkan panas tinggi. Kedua, gunakan closed-loop cooling agar air dapat disirkulasikan kembali dan tidak terus-menerus mengambil air baru.

Kemudian,  di wilayah yang sangat terbatas airnya, dapat dipertimbangkan air cooling atau teknologi waterless cooling. Pemerintah juga perlu mewajibkan pengembang mengukur dan melaporkan Water Usage Effectiveness (WUE) yakni ukuran seberapa efisien sebuah data center menggunakan air, melakukan kajian water stress sebelum pembangunan, serta memastikan kebutuhan masyarakat menjadi prioritas.

Perhatikan Ketahanan Air

Risiko tersebut juga tercermin dalam laporan World Economic Forum (WEF) bertajuk Data Centre Sustainability and Resilience: A Decision Playbook for AI Infrastructure edisi September 2026. WEF mencatat sekitar 45% data center global berada di wilayah dengan tingkat tekanan air yang tinggi.

“Risiko yang berkaitan dengan air semakin menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Pusat data menggunakan air secara langsung melalui sistem pendingin yang berfungsi membuang panas dari server, serta secara tidak langsung melalui listrik yang dikonsumsi,” bunyi laporan WEF.

Menurut WEF, kebutuhan air data center muncul secara langsung melalui sistem pendinginan untuk membuang panas yang dihasilkan server. Kebutuhan air juga muncul secara tidak langsung dari pasokan listrik yang digunakan fasilitas tersebut.

Pembangkit listrik, terutama yang menggunakan gas dan batu bara, membutuhkan air dalam jumlah besar. WEF juga menyoroti bahwa sebagian besar jejak air infrastruktur AI berada di luar fasilitas data center. Pada 2030, sekitar 72% konsumsi air data center diperkirakan berasal dari aktivitas di luar fasilitas, termasuk manufaktur semikonduktor, ekstraksi sumber daya di hulu, dan pembangkitan listrik.

“Peningkatan teknologi pendinginan secara berkelanjutan memang penting, tetapi langkah tersebut tidak akan sepenuhnya menghilangkan keterbatasan air secara keseluruhan,” demikian laporan WEF.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Data Center

Rekomendasi SUAR