Berdasarkan laporan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) per Mei 2026, terjadi pergeseran volume penjualan yang cukup signifikan pada beberapa produsen atau merek utama. Salah satu merek Battery Electric Vehicle (BEV) yang mengalami penurunan penjualan yang tajam adalah BYD. Merek tersebut mencatatkan penurunan volume distribusi hingga tersisa 895 unit di bulan Mei.
Jika ditinjau dari kinerja penjualan wholesales secara keseluruhan sepanjang periode 2025-2026, tren volume kendaraan ramah lingkungan ini menunjukkan volatilitas yang tinggi, namun tetap mencerminkan pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan. Pada Januari 2026, volume penjualan BEV melonjak tajam mencapai 10.263 unit, naik hampir tiga kali lipat dibandingkan Januari 2025 yang hanya sebesar 2.580 unit atau tumbuh year-on-year/y-o-y sebesar 297,8%.
Sebaliknya, penjualan segmen Hybrid Electric Vehicle (HEV) relatif stabil di angka 4.184 unit dari sebelumnya 4.230 unit pada Januari 2025. Memasuki kuartal kedua, komposisi pasar bergeser di mana HEV sempat memimpin pada Maret 2026 dengan rekor 14.901 unit.
Namun, pada Mei 2026, pasar mengalami koreksi tipis secara bulanan. Volume BEV melandai ke angka 7.506 unit dari bulan April yang sebesar 8.123 unit atau turun sekitar 7,6%. Sementara segmen Plug-in Hybrid (PHEV) tetap bertahan sebagai segmen minoritas di kisaran 503 unit.
Di segmen kendaraan murni listrik (BEV), peta persaingan antar-merek pada tahun 2026 menyajikan pergeseran posisi yang signifikan akibat fluktuasi pasokan. Pada awal tahun, BYD menduduki posisi pertama sebagai merek BEV yang kuat dengan penjualan 4.879 unit di Januari dan 4.653 unit di Februari.
Memasuki Maret dan April, kinerja BYD menunjukkan koreksi volume penjualan secara wholesales. Performanya terus merosot ke angka 2.941 unit di Maret, sempat pulih ke 4.625 unit di April, hingga akhirnya merosot ke titik terendah sebesar 895 unit di Mei 2026 atau turun sebesar 80,6% secara bulanan (m-t-m).
Penurunan BYD ini menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh Jaecoo yang naik di posisi atas dengan mencatatkan penjualan 2.943 unit di bulan Mei. Posisi tersebut hampir tidak bergeser dari pencapaian April sebesar 3.179 unit. Sementara itu, Wuling dan Geely terus mengikuti dengan membukukan penjualan masing-masing sebanyak 994 unit dan 1.687 unit pada bulan Mei.
Berbeda dengan pasar BEV yang penuh gejolak, segmen kendaraan hibrida (HEV) sepanjang tahun 2026 justru menunjukkan pola yang lebih kuat dikuasai oleh merek ternama asal Jepang, Toyota. Toyota tetap menguatkan posisinya sebagai penguasa di pasar HEV Indonesia dengan volume penjualan yang terus meroket dari 2.584 unit di Januari, meningkat berturut-turut hingga mencapai puncaknya di angka 5.992 unit pada bulan April. Namun, terkoreksi tipis sebesar 9,5% (m-t-m) menjadi 5.423 unit pada Mei 2026.
Selain itu, Suzuki berada di posisi kedua dengan performa yang relatif stabil mencatatkan 1.201 unit di bulan Mei setelah sempat menyentuh angka tertinggi 1.416 unit di bulan Februari. Di sisi lain, Honda dan Hyundai bersaing ketat di segmen menengah dengan volume masing-masing sebesar 353 unit dan 136 unit pada bulan Mei, sedangkan merek premium Lexus melengkapi jajaran lima besar dengan kontribusi stabil di angka 122 unit.
Dinamika pasar kendaraan terelektrifikasi di Indonesia hingga pertengahan tahun 2026 ini memberikan sinyal penting bahwa pasar otomotif masa depan tidak hanya ditentukan oleh perang harga dan inovasi teknologi. Faktor kesiapan rantai pasok (supply chain) dan konsistensi distribusi ke dealer juga turut berdampak. Koreksi tajam yang dialami oleh merek besar seperti BYD menjadi gambaran minat konsumen yang tinggi harus diimbangi dengan kapasitas logistik yang memadai agar tidak menciptakan masa inden yang panjang.
Dengan total volume penjualan gabungan antara BEV, HEV, dan PHEV tahun 2026 yang terus menunjukkan tren positif dibandingkan tahun 2025, pasar Indonesia tetap menjadi salah satu episentrum kendaraan ramah lingkungan paling prospektif di kawasan Asia Tenggara. Tantangannya, para produsen harus mampu menjaga kestabilan suplai hingga akhir tahun nanti.