Ketergantungan pemenuhan pangan nasional terhadap pasokan luar negeri masih menjadi pekerjaan rumah di sektor peternakan Indonesia. Kementerian Pertanian (Kementan) memproyeksikan produksi daging sapi dalam negeri pada tahun 2026 hanya mampu mencapai kisaran 479.000 ton. Proyeksi tersebut diperkirakan hanya mampu memenuhi sekitar 50% dari total kebutuhan nasional yang akan melonjak hingga 964.000 ton.
Upaya mengejar ketertinggalan di hulu produksi melalui optimalisasi teknologi reproduksi masih terbentur kendala logistik. Kendala pemenuhan produksi lokal tersebut menyisakan kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan. Karena itulah impor dilakukan.
Pemerintah mengalokasikan kuota impor sapi hidup hingga 700.000 ekor (setara 189,7 ribu ton daging) kepada swasta untuk digemukkan. Langkah tersebut dibarengi dengan menerbitkan persetujuan impor sebesar 280.000 ton daging beku dengan porsi penugasan terbesar berada di tangan BUMN sebanyak 250.000 ton dan sisanya dialokasikan bagi importir swasta sebesar 30.000 ton.
Namun, strategi stabilisasi pasokan melalui instrumen impor di tahun 2026 ini dihadapkan pada kondisi makroekonomi yang terjadi saat ini. Terutama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memukul struktur biaya produksi.
Alih-alih menjadi instrumen pelindung harga, derasnya arus impor di tengah depresiasi rupiah justru membawa dampak ganda yang berujung pada lonjakan harga eceran tertinggi di tingkat konsumen. Hal tersebut berpotensi menggerus daya beli masyarakat jelang momen hari raya keagamaan, Idul Adha.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volatilitas volume dan nilai impor ternak sapi dan daging sapi telah memperlihatkan pergerakan yang dinamis dalam beberapa tahun terakhir. Pada kategori sapi ternak, volume impor sempat mengalami penurunan berturut-turut dari 144,44 ribu ton (senilai 528,15 juta dolar AS) pada tahun 2021 menjadi 120,72 ribu ton pada 2022.
Di tahun berikutnya, impor sapi ternak sebesar 125,81 ribu ton. Meski secara volume ada sedikit kenaikan dibandingkan 2022, namun nilai transaksinya jatuh ke 348,52 juta dolar AS pada 2023. Tren ini berbalik pada tahun 2024 ketika volume impor sapi ternak kembali melonjak ke angka 196,86 ribu ton dengan nilai mencapai 519,86 juta dolar AS.
Sebaliknya, komoditas daging sapi justru mencatatkan tren kurva impor yang melandai setelah sempat memuncak pada tahun 2023 dengan volume 241,38 ribu ton senilai 854,85 juta dolar AS. Namun setelahnya terkoreksi turun pada tahun 2024 menjadi 185,35 ribu ton dengan nilai 700,42 juta dolar AS.
Memasuki tahun 2025, tren impor diperkirakan mulai naik sebagai fase persiapan logistik. Tren impor diproyeksikan akan melonjak secara masif pada tahun 2026 demi menyukseskan program strategis jangka panjang pemerintah. Termasuk pemenuhan gizi nasional dan penguatan koperasi desa, yang menargetkan masuknya hingga 2 juta ekor sapi hidup secara bertahap hingga tahun 2029.
Pelemahan mata uang nasional terhadap dolar saat ini dikhawatirkan berimbas pada lonjakan harga di tingkat konsumen. Berdasarkan data pergerakan harga pasar dalam satu bulan terakhir, harga seluruh jenis daging sapi melonjak secara harian. Daging sapi paha belakang yang pada tanggal 20 April 2026 berada di angka Rp 138.860 per kilogram, telah naik hingga Rp 139.654 per kg pada tanggal 21 Mei 2026.
Kenaikan yang tidak kalah signifikan juga terjadi pada jenis daging sapi paha depan yang naik dari Rp 136.980 menjadi Rp 137.705 per kg. Juga pada daging sandung lamur yang ikut terkerek naik hingga mencapai Rp 100.990 per kg.
Lonjakan harga yang paling mencolok terlihat pada komoditas daging sapi impor beku, yang sejatinya diharapkan berfungsi sebagai instrumen stabilitas harga murah bagi masyarakat. Lonjakan harga di jenis daging sapi impor beku ini hampir Rp 2.000 per kg dalam tempo satu bulan, naik dari Rp 115.857 pada akhir April menjadi Rp117.851 pada pertengahan Mei 2026.
Kenaikan ini akan membebani masyarakat yang akan menghadapi Hari Raya Idul Adha. Untuk itu, fluktuasi harga peerlu dijaga agar masih bisa dijangkau oleh masyarakat. Pemerintah juga perlu memperkuat efisiensi rantai distribusi domestik agar pasokan sapi hidup pascaimpor dapat merata ke seluruh daerah tanpa mematikan pasar sapi lokal yang juga dihimpit mahalnya biaya pakan mandiri.