Daya Tarik Pasar Kendaraan Listrik Indonesia di Mata Tiongkok

Komitmen besar kembali ditunjukkan oleh investor asal Tiongkok dengan mengucurkan investasi sebesar Rp 15 triliun untuk mengembangkan industri kendaraan listrik (EV) di Indonesia. 

Daya Tarik Pasar Kendaraan Listrik Indonesia di Mata Tiongkok

Komitmen investor asal Tiongkok mengembangkan industri kendaraan listrik (EV) di Indonesia salah satunya diarahkan berinvestasi ke Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Komitmen tersebut mencakup pembangunan fasilitas manufaktur baterai yang terintegrasi hingga lini perakitan kendaraan listrik guna memperkuat ekosistem rantai pasok lokal. 

Langkah ekspansif melalui investasi besar tersebut sejalan dengan program hilirisasi komoditas yang gencar didorong pemerintah Indonesia. Sekaligus mempercepat transisi nasional menuju era energi bersih dan sistem transportasi berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Peluang investasi baru ini menjadi kian menarik jika melihat tren historis Penanaman Modal Asing (PMA) asal Tiongkok di sektor otomotif Indonesia (KBLI 2 digit nomor 29) dalam sepuluh tahun terakhir. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi Tiongkok sempat fluktuatif dari Rp 69,53 miliar pada 2016, melonjak ke Rp 286,97 miliar pada 2017, lalu menyentuh titik nadir Rp 0 pada 2021 akibat pandemi. 

Pascapandemi, investasi bergerak melesat 54,88% menjadi Rp 54,69 miliar pada 2023 dan melonjak tajam 194,18% ke angka Rp 160,89 miliar pada 2024. Lalu mencapai puncaknya di angka Rp 334,25 miIiar pada tahun 2025. Dengan tambahan Rp 61,05 miliar pada kuartal I-2026, total akumulasi realisasi PMA Tiongkok di sektor ini selama satu dekade terakhir telah mencapai Rp 1.164,59 miliar.

Besarnya arus investasi ini berbanding lurus dengan agresivitas dan dominasi produk otomotif Tiongkok yang sukses memikat konsumen domestik. Dalam kurun lima tahun terakhir, volume penjualan ritel EV asal Tiongkok tersebut mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif di Indonesia. 

Pada tahun 2022, total penjualan EV tercatat sebanyak 27.824 unit, yang kemudian tumbuh sebesar 20,45% menjadi 33.515 unit pada tahun 2023. Lonjakan pasar semakin tidak terbendung pada tahun 2024 dengan penjualan mencapai 56.225 unit atau naik 67,76%. Puncaknya pada tahun 2025 mencatatkan angka spektakuler sebanyak 111.766 unit atau melesat hingga 98,78% hanya dalam waktu satu tahun. Memasuki tahun 2026, performa penjualan ritel juga tetap konsisten dengan mencatatkan total 62.950 unit (Mei).

Akselerasi penjualan yang melesat dalam setengah dekade terakhir ini didorong oleh produk-produk EV andalan dari merek yang bertumbuh pesat dan terus bertambah di pasar lokal. Wuling, misalnya, pada awalnya memimpin pasar secara konsisten dengan penjualan di kisaran 20-25 ribu unit per tahun, disusul kehadiran Chery yang penjualannya melonjak signifikan dari 3.952 unit (2023) menjadi 19.485 unit (2025). 

Peta persaingan semakin dinamis semenjak raksasa EV dunia, BYD masuk ke Indonesia pada tahun 2024 dengan langsung mengantongi penjualan sebesar 13.964 unit dan melejit lebih dari tiga kali lipat menjadi 44.342 unit pada tahun 2025. Lonjakan tersebut menjadikan BYD pemimpin pasar baru dalam kategori kendaraan listrik di Indonesia. 

Kehadiran merek-merek baru yang terus berdatangan, seperti Jaecoo yang langsung menggebrak dengan penjualan sebesar 13.936 unit pada tahun 2026, semakin memperkaya pilihan konsumen sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik di tanah air.

Pasar kendaraan listrik yang akan terus berkembang pesat di masa depan merupakan peluang jangka panjang bagi perekonomian Tiongkok. Tingginya penerimaan masyarakat Indonesia terhadap teknologi EV asal Tiongkok menjadi jaminan pasar yang aman bagi produksi dari fasilitas manufaktur baru yang bernilai belasan triliun tersebut. 

Dengan menguasai rantai pasok dari sektor hulu (investasi baterai dan pabrik perakitan) hingga sektor hilir (dominasi pasar ritel), Tiongkok tidak hanya sekadar menjadi penyedia produk, melainkan memposisikan dirinya sebagai mitra strategis utama yang menggerakkan roda revolusi hijau industri otomotif di Indonesia.

Baca selengkapnya