Standalone Markets dan Harga Mahal yang Harus Dibayar
Keputusan final MSCI untuk menempatkan Indonesia ke dalam pasar mandiri (Standalone Markets) masih 8 bulan lagi. Meski belum terjadi, Indonesia sudah membayar harga yang sangat mahal sejak ancaman penurunan itu diumumkan 15 Oktober lalu.
•
3 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua pekan sejak pengumuman lembaga Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkoreksi cukup dalam. IHSG turun 11,57% pada penutupan bursa 16 Oktober 2026 menjadi 5.185,11. Di perdagangan berikutnya, IHSG turun di bawah level 5.000.
Meski setelah itu indeks sempat merangkak bangkit hingga ke level 5.400, IHSG kembali terpuruk ke level 5.057,05 pada 30 Oktober 2026. Dibandingkan sejak awal tahun, IHSG terkoreksi ke level terendah sebanyak 43%. Jika dibandingkan dengan level tertinggi yang dicapai pada tahun ini (20 Januari 2026, di level 9.134,7), IHSG telah turun 45,3%.
Nilai kapitalisasi pasar saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun tergerus. Setelah indeks turun 11,57%, nilai kapitalisasi pasar pada 16 Oktober juga turun 10,9% menjadi Rp 9.157 triliun. Dua pekan kemudian hingga akhir Oktober 2026, nilainya turun lagi menjadi Rp 8.862 triliun. Jika dibandingkan nilai kapitalisasi pasar pada Januari 2026 yang berada di atas Rp 15.000 triliun, berarti terjadi penurunan sekitar 40%.
Berkurangnya nilai kapitalisasi pasar ini tak lepas dari aksi jual saham secara besar-besaran oleh investor asing (capital outflow). Sehari setelah pengumuman MSCI, terjadi penjualan bersih oleh investor asing (net sell) sebesar Rp 3,34 triliun. Secara tahunan (year to date/YTD) per hari itu sudah terjadi net sell sebesar Rp 88,19 triliun. Dua pekan kemudian, angka net sell oleh asing sudah menjadi Rp 97,92 triliun (per 30 Oktober 2026) secara YTD.
Dalam dua pekan, capital outflow mencapai Rp 13 triliun. Porsi transaksi asing di BEI pun tinggal 35%. Keluarnya dana asing yang masif ini telah membuat nilai tukar rupiah ikut merosot menjadi di atas Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini akan berpengaruh pada perekonomian secara makro.
Pergerakan IHSG selanjutnya akan sangat ditentukan sejauh mana pemegang otoritas bursa memperbaiki tata kelola yang mampu mengembalikan kepercayaan investor, terutama investor asing. Dalam evaluasinya, MSCI menyebutkan bahwa reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (Emerging Markets) ke Standalone Markets didasarkan pada tata kelola bursa yang buruk. Ada persoalan kepemilikan yang tidak transparan, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan yang tidak memadai. Masalah-masalah ini dinilai menghambat kemampuan investor dalam menentukan jumlah saham yang benar-benar beredar di pasar (free float) serta mengandalkan harga pasar.
Butuh waktu lama untuk naik status
Jika setelah melalui proses konsultasi secara final Indonesia ditetapkan berstatus Standalone Markets pada akhir Juni 2027 nanti, maka Indonesia akan menjadi negara dengan skala ekonomi terbesar yang berada di klasifikasi tersebut bersama Lebanon, Zimbabwe, Nigeria, Ukraina, Argentina, juga Rusia.
Dengan berstatus Standalone Markets, Indonesia berisiko sulit mengakses modal atau dana internasional dan akan tersisih dalam peta investasi global. Berdasarkan pengalaman negara lain, negara dengan status Standalone Markets membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali naik status ke pasar pemula (Frontier Markets) atau Emerging Markets.
Ada alasan yang berbeda-beda mengapa indeks suatu negara masuk ke dalam klasifikasi Standalone Markets MSCI. Menurut MSCI, reklasifikasi menjadi status Standalone Markets terjadi apabila terdapat masalah dalam aspek aksesibilitas pasar, ukuran pasar, ataupun likuiditas.
Argentina, misalnya, diturunkan statusnya dari Emerging Markets ke Standalone Markets pada tahun 2021 karena menerapkan pengendalian modal berupa kontrol mata uang yang membuat pasarnya terlalu sulit untuk diakses oleh dana global. Per Juni 2026, MSCI menilai tidak ada perbaikan soal aksesibilitas ke pasar saham Argentina sehingga posisi negara itu tetap berada di Standalone Markets.
Rusia mengalami hal serupa pada tahun 2022 setelah mendapat sanksi dari Barat akibat invasi ke Ukraina. Pada 28 Februari 2022, MSCI memulai konsultasi dengan para investor institusional internasional mengenai aksesibilitas dan kelayakan investasi di pasar ekuitas Rusia. Selama proses konsultasi tersebut, MSCI menerima masukan dari berbagai pelaku pasar global dan sebagian besar menyatakan bahwa pasar ekuitas Rusia tidak layak untuk investasi (uninvestable), sehingga sekuritas Rusia dihapus dari Emerging Markets MSCI. Status berlaku pada penutupan perdagangan tanggal 9 Maret 2022.
Bulgaria juga negara yang diturunkan statusnya ke Standalone Markets oleh MSCI dan menyandang status tersebut selama 10 tahun sejak 2016 hingga 2026. Status Bulgaria diturunkan dari Frontier Markets ke Standalone Markets pada Agustus 2016 karena terus menurunnya ukuran dan likuiditas di Bursa Efek Bulgaria, termasuk di pasar ekuitas Bulgaria secara lebih luas. Pada 23 Juni 2026 MSCI mengumumkan keputusannya untuk mengubah kembali klasifikasi Bulgaria dari status Standalone Markets menjadi Frontier Markets.
Bulgaria berhasil keluar dari status Standalone Markets karena aksesibilitas dan kondisi pasar ekuitasnya mengalami perbaikan berkelanjutan. Peningkatan likuiditas, bertambahnya saham yang memenuhi persyaratan, dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor penentu. Hal itu terutama tercapai setelah Bulgaria melakukan transisi ke mata uang euro, yang rampung pada 1 Januari 2026. Nilai transaksi meningkat setelah menggunakan denominasi euro. Namun demikian, masuk ke kategori Frontier Markets menurut analis tidak otomatis menjamin kenaikan harga saham atau aliran dana asing masuk dalam jumlah yang tinggi.
Pengalaman negara-negara tersebut harus menjadi pembelajaran agar Indonesia tidak telanjur jatuh ke status Standalone Markets, meski sudah ada harga mahal yang harus dibayar di depan setelah pengumuman MSCI 15 Oktober 2026. Indonesia masih memiliki waktu untuk berbenah. Proses konsultasi dengan MSCI akan berlangsung hingga April 2027 dan keputusan final akan ditetapkan paling lambat Juni 2027.