Indonesia resmi memangkas ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 Miliar British Thermal Unit per Hari (BBTUD) mulai 23 Oktober 2026. Pemangkasan yang bersumber dari wilayah Natuna sebesar 15 BBTUD dan Jambi Merang 16 BBTUD ini guna menjaga pasokan gas untuk kebutuhan listrik domestik.
•
2 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Ekspor gas alam Indonesia selama 5 tahun terakhir berfluktuasi. Puncak ekspor terjadi pada tahun 2022 yang mencapai nilai 9,80 miliar dolar AS dengan volume 15,97 juta ton, tumbuh 31,5% dibandingkan tahun 2021. Melonjaknya ekspor pada tahun itu dampak dari serangan Rusia ke Ukraina yang memengaruhi rantai pasok energi global.
Kinerja ekspor gas alam Indonesia kembali melandai pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2023 nilainya turun 10,5% menjadi 8,77 miliar dolar AS dengan volume 15,49 juta ton. Ekspor terus menyusut menjadi 7,36 miliar dolar AS dengan volume 14,37 juta ton pada 2025. Pada periode Januari hingga Juli 2026, total nilai ekspor gas alam Indonesia tercatat baru mencapai 3,65 miliar dolar AS dengan volume 6,89 juta ton.
Tujuan utama ekspor gas alam Indonesia adalah Singapura, meskipun persentase serapan dan realisasi volumenya cenderung menyusut. Pada tahun 2021, Singapura menyerap porsi yang sangat besar, yakni 33,68% dari total volume ekspor gas alam Indonesia, dengan volume 5,78 juta ton senilai 2,78 miliar dolar AS.
Pada 2022, volumenya turun 15,2% menjadi 4,90 juta ton atau setara dengan 30,68% dari total volume nasional. Penurunan berlanjut menjadi tinggal 17,5% pada 2023 dengan volume 4,04 juta ton.
Penurunan masih berlanjut pada 2024 sebesar 7,4% menjadi 3,74 juta ton, dan pada 2025 kembali terkontraksi 5,1% menjadi 3,55 juta ton. Hal ini membuat pangsa serapannya mengecil menjadi hanya sekitar 24,7% dari total volume ekspor gas alam Indonesia. Pada paruh pertama 2026, realisasi ekspor ke Singapura dari sumber data agregat tercatat sebesar 1,98 juta ton dengan nilai 1,28 miliar dolar AS.
Selain Singapura, aliran ekspor gas alam Indonesia dalam lima tahun terakhir (2022-2026) didominasi oleh tiga negara utama yang silih berganti memperebutkan posisi teratas. Pada tahun 2022, Singapura memimpin jauh dengan nilai 3.083,8 juta dolar AS dan volume 4.904,1 ribu ton. Menariknya, pada tahun 2024 dan 2025 Jepang mulai masuk hingga mendominasi posisi tiga besar bersama Singapura dan Tiongkok, sekaligus menggeser dominasi Korea Selatan.
Dinamika pertumbuhan dan perebutan pangsa pasar (market share) dari ketiga negara dominan ini sangat kompetitif. Pada tahun 2025, posisi pertama diambil alih oleh Jepang dengan serapan 3.798,3 ribu ton senilai 2.082,2 juta dolar AS, disusul oleh Tiongkok dengan 3.789,6 ribu ton senilai 1.994,5 juta dolar AS. Sementara Singapura harus turun ke posisi ketiga dengan volume 3.547,2 ribu ton senilai 1.834,5 juta dolar AS.
Meski tren serapan ekspor gas alam ke Singapura selama lima tahun terakhir terus menurun, kebijakan pemangkasan mendapat reaksi dari Singapura. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong meminta agar pihak Indonesia menghormati komitmen kontrak yang telah berjalan.
Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) mengonfirmasi bahwa dampak pemangkasan gas alam dari Indonesia sebenarnya tergolong kecil, kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian negara tersebut yang melebihi 1.000 BBTUD. Ditambah lagi, Singapura telah menyiapkan terminal Liquefied Natural Gas (LNG) serta mulai mengkaji energi nuklir sebagai langkah antisipasi ketahanan energinya.
Sementara itu, kebijakan pembatasan ekspor gas alam dimaksudkan pemerintah Indonesia merupakan langkah strategis bagi ketahanan energi dunia usaha dalam negeri. Dengan mengembalikan kuota 31 BBTUD ke kuota domestik, pemerintah memitigasi risiko krisis listrik yang bisa melumpuhkan rantai pasok sektor industri dan manufaktur lokal.
Keandalan energi dalam negeri diharapkan terus terjamin. Selain dapat menekan biaya operasional dunia usaha, ketercukupan pasokan akan menjamin stabilitas energi yang dibutuhkan para investor di tengah ketidakpastian global.