Indonesia terus mencatatkan tren positif dalam pengentasan kemiskinan. Pada periode Maret 2022 hingga Maret 2026, terjadi penurunan yang konsisten pada indikator kemiskinan nasional, meskipun garis kemiskinan terus merangkak naik menjadi Rp 669.235 pada 2026.
•
2 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Secara nasional, upaya pengentasan kemiskinan menunjukkan tren positif. Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia tercatat sebanyak 22,92 juta jiwa, turun secara signifikan dari 23,85 juta jiwa pada periode yang sama di tahun 2025.
Penurunan tersebut sejalan dengan penyusutan porsinya, yakni dari 8,47% pada 2025 menjadi 8,07% pada 2026. Persentase pertumbuhan secara tahunan (year-on-year/y-o-y) jumlah penduduk miskin nasional mengalami penurunan sebesar 3,88%.
Dilihat per provinsi, beberapa wilayah sukses mengurangi jumlah penduduk miskinnya. Lima yang terbesar dipimpin oleh Papua Pegunungan, Papua Barat, Gorontalo, DKI Jakarta, dan Bali. Wilayah-wilayah tersebut tidak hanya berhasil menekan jumlah warga miskin, tetapi juga mendominasi daftar provinsi dengan pengurangan persentase kemiskinan tertinggi, bersama dengan Papua Barat Daya dan Kepulauan Riau.
Papua Pegunungan menjadi wilayah dengan kinerja reduksi masyarakat miskin dengan capaian paling baik. Jumlah penduduk miskin di provinsi tersebut berhasil ditekan dari 337,3 ribu jiwa (30,03%) pada 2025 menjadi 300,06 ribu jiwa dengan persentase menjadi 26,34% pada 2026.
Penurunan jumlah penduduk miskin yang besar di Papua Pegunungan pada 2026 ini mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar 11,04%. Capaian serupa juga dicapai oleh Provinsi Gorontalo yang persentase kemiskinannya turun dari 13,24% menjadi 12,16%, diiringi penyusutan jumlah penduduk miskin dari 162,7 ribu jiwa menjadi 150,6 ribu jiwa.
Namun, tantangan masih membayangi sejumlah provinsi yang justru mencatatkan tren pertumbuhan positif pada jumlah dan persentase penduduk miskinnya. Papua Tengah, Riau, dan Aceh mencatatkan lonjakan angka kemiskinan tertinggi pada periode Maret 2026.
Di Papua Tengah, penduduk miskin bertambah dari 302,3 ribu jiwa(28,9%) pada 2025, menjadi 321,28 ribu jiwa (30,41%) pada 2026 atau secara tahunan jumlah penduduk miskin tumbuh sebesar 6,27%.
Peningkatan penduduk miskin juga terjadi pada provinsi yang memiliki sumber daya alam tinggi, seperti Riau dan Aceh. Penduduk miskin Riau tumbuh menjadi 470,8 ribu jiwa (6,19%) dan di Aceh naik menjadi 713,78 ribu jiwa (12,34%) pada tahun 2026.
Laju penurunan kemiskinan nasional telah mencatatkan capaian positif, namun ketimpangan perbaikan antarwilayah masih terjadi. Perlu evaluasi dan intervensi kebijakan agar program pembangunan yang dijalankan sejalan dengan upaya mengurangi kemiskinan.
Langkah seperti optimalisasi rantai pasok manufaktur padat karya dan penciptaan nilai tambah pada sektor komoditas unggulan daerah berpotensi mendongkrak ekonomi daerah yang lebih berdampak pada masyarakat. Melalui sinergi lintas sektor, wilayah-wilayah yang tertinggal dapat segera membalikkan kurva kemiskinan menjadi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, resilien, dan berkelanjutan.