Dorong Kenaikan Ekspor CPO dan Kakao dari Penurunan Harga Referensi
Kementerian Perdagangan RI menetapkan penurunan harga referensi komoditas pertanian dan kehutanan periode November 2026. Komoditas hasil perkebunan unggulan Indonesia seperti minyak sawit (CPO) dan biji kakao merupakan yang utama terkena kebijakan penurunan tarif.
•
2 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Berdasarkan penetapan terbaru, harga referensi (HR) minyak sawit (crude palm oil/CPO) mengalami penurunan sepanjang tahun ini, yakni sebesar -6,07% menjadi 978,9 dolar AS/metrik ton. Di saat bersamaan, komoditas biji kakao juga mencatatkan koreksi HR sebesar -7,33%, turun ke level 5.613,60 dolar AS/metrik ton.
Harga referensi kedua komoditas beroperasi sebagai alat kendali bagi bea keluar dan tarif layanan pengekspor. Naik turunnya HR berdampak langsung pada kinerja ekspor kedua komoditas tersebut. Penurunan HR periode November 2026 tersebut berdampak pada pajak ekspor yang menyusut sehingga memperlebar margin keuntungan pengusaha. Kondisi ini diharapkan dapat dimanfaatkan para eksportir untuk menggenjot volume pengiriman barang ke pasar internasional sebesar-besarnya.
Pada bulan Mei 2026, ketika pemerintah menetapkan HR CPO di level 1.049,58 dolar AS/metrik ton, pasar merespons dengan menurunkan volume ekspor menjadi 1.383,40 ribu ton atau turun 1,1% dari bulan sebelumnya. Nilai ekspor pada bulan tersebut juga ikut tertekan di angka 1.656,70 juta dolar AS. Kebijakan HR pada bulan tersebut membuat pengusaha menahan stok di dalam negeri saat harga global sedang bregejolak untuk menjaga stabilitas pasar domestik.
Sebaliknya, pelonggaran pajak dari penurunan HR terbukti selalu menjadi katalis bagi lonjakan volume ekspor CPO. Sebagai contoh, saat terjadi sedikit penurunan HR CPO sebesar 0,44% pada Agustus 2026 menjadi 996,52 dolar AS/metrik ton, diikuti volume ekspor meningkat hingga mencapai 2.897,90 ribu ton dengan nilai menembus 3.396,40 juta dolar AS.
Berdasarkan pola tersebut, penurunan HR CPO hingga lebih dari 6% di bulan November 2026 ini diproyeksikan akan kembali memacu eksportir untuk meningkatkan volume pengiriman hingga akhir tahun. Hal ini merupakan upaya untuk mendorong perbaikan neraca dagang Indonesia agar surplus perdagangan menguat didorong lonjakan ekspor komoditas unggulan CPO.
Pola perilaku pasar yang selaras juga terlihat pada pergerakan komoditas biji kakao. Saat beban pajak ekspor ditekan melalui penurunan HR kakao sebesar 21,17% pada April 2026, volume ekspor komoditas ini langsung naik dua kali lipat dari 0,6 ribu ton di bulan Maret menjadi 1,2 ribu ton pada bulan April.
Mengingat HR kakao baru saja menyentuh level tertingginya di tahun 2026, yaitu di level 6.057,87 dolar AS/metrik ton pada bulan lalu (Oktober 2026), penurunan tarif sebesar -7,33% menjadi 5.613,60 dolar AS/metrik ton di bulan November ini diharapkan kembali memberi ruang bagi eksportir untuk berekspansi di pasar global.
Penurunan harga referensi untuk CPO dan biji kakao pada bulan ini diharapkan akan mengakselerasi roda perdagangan internasional dan memaksimalkan serapan volume ekspor. Meski demikian, pemerintah tetap perlu memantau arus keluar komoditas unggulan ini agar tidak terjadi disrupsi pasokan untuk ketahanan di dalam negeri.