Beban Industri Hulu Kian Berat Akibat Pelemahan Rupiah

Beban Industri Hulu Kian Berat Akibat Pelemahan Rupiah

Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga di atas Rp 18.000 per dolar AS memberi beban pada sektor industri dalam negeri. Hal itu karena lebih dari 90% komoditas impor Indonesia merupakan kebutuhan bahan baku atau bahan penolong produksi industri hingga barang modal. 

Beban Industri Hulu Kian Berat Akibat Pelemahan Rupiah

Ketergantungan industri hulu terhadap pasok bahan baku impor memiliki risiko tinggi saat terjadi pelemahan nilai tukar. Pelemahan kurs berdampak langsung pada pembengkakan biaya produksi yang bermuara pada kenaikan harga barang-barang konsumsi masyarakat.

Tahun ini pelaku industri semakin terbebani karena pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS setidaknya terjadi dua kali, yakni pada pertengahan tahun dan di kuartal keempat. Tren pelemahan yang menekan sektor industri tergambar dari pergerakan kurs dolar terhadap rupiah selama dua tahun terakhir. Pada bulan Juli 2024, kurs sempat berada di level Rp 16.243 sebelum akhirnya menguat ke angka Rp 15.092 pada sekitar bulan Oktober 2024.

Di awal tahun 2026 ini, rupiah sempat bertahan di level Rp 16.000. Namun, terus berfluktuasi hingga di tahun 2026 (Juni dan Oktober) tembus level Rp 18.000.

Pergerakan kurs yang fluktuatif ini berkorelasi dengan pembengkakan nilai impor bahan baku dan penolong. Sebelum rupiah tertekan dua kali di tahun 2026 ini, sepanjang tahun 2025 pengeluaran untuk impor bahan baku memiliki pola yang cenderung lebih stabil dari kisaran 12-14 miliar dolar AS dan tercatat paling tinggi 16 miliar dolar AS. 

Nilai impor bulanan di awal 2025 bergerak di kisaran 12.974,10 juta dolar AS hingga 16.104,80 juta dolar AS. Kestabilan nilai impor di tahun 2025 ini terjadi pada kondisi pergerakan kurs yang perlahan naik, namun belum mengalami lonjakan ekstrem seperti di tahun berikutnya.

Memasuki tahun 2026, terjadi pergeseran pola yang sangat drastis pada neraca impor akibat terdepresiasinya nilai tukar. Pada kuartal kedua tahun 2026, khususnya pada bulan April, nilai impor bahan baku melonjak tajam menjadi 18.648,70 juta dolar AS.

Nilai impor terus bertahan di level yang tinggi pada bulan-bulan berikutnya dan memuncak di 18.757,20 juta dolar AS pada bulan Juli 2026. Lonjakan nilai impor bahan baku ini terjadi di momen di mana grafik kurs dolar AS melemah menembus level Rp 18.000.

Jika membandingkan akumulasi nilai impor bahan baku pada periode Januari hingga September, terjadi lonjakan dari 124.333,8 juta dolar AS di tahun 2025 menjadi 150.572,8 juta dolar AS pada tahun 2026. Hal ini berarti pertumbuhan nilai impor sekitar 21,1% secara tahunan (y-o-y). 

Rata-rata tahunan kebutuhan impor bahan baku sebelum rupiah tertekan parah di tahun 2025 berada di angka Rp 14.102,5 juta per bulan, sedangkan rata-rata bulanan sesudah rupiah naik hingga level Rp 18.000 di tahun 2026 membengkak menjadi Rp 16.730,3 juta

Efek domino yang terjadi menggambarkan kerentanan industri khususnya industri manufaktur yang masih bertumpu pada bahan baku impor. Kenaikan nilai impor hingga lebih dari 21% ini belum tentu menggambarkan ekspansi volume produksi, melainkan inflasi biaya akibat selisih kurs yang harus dibayarkan ketika nilai tukar rupiah tertekan lebih dari Rp 18.000 di tahun 2026.

Dengan kondisi ini, industri yang bergantung pada bahan baku impor akan semakin tertekan dengan rupiah yang terus melemah.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)