Transformasi digital mulai membawa layanan Bank Emas atau Bullion Bank masuk lebih jauh ke dalam ekosistem perbankan nasional. Kolaborasi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan PT Pegadaian menghadirkan fitur Tabungan Emas di aplikasi myBCA, memungkinkan nasabah membeli, menjual, dan memantau investasi emas secara digital tanpa harus datang ke kantor cabang.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih mengatakan, peluncuran layanan tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan menghadirkan solusi keuangan yang semakin relevan dengan kebutuhan nasabah.
Menurut dia, masyarakat kini semakin menyadari pentingnya membangun ketahanan finansial melalui instrumen investasi yang praktis dan terpercaya.
“Melalui layanan Tabungan Emas ini, nasabah dapat melakukan investasi emas secara langsung dari kanal layanan digital BCA,” ujar John dalam peluncuran Tabungan Emas di myBCA, Jumat (14/8/2026).

Melalui myBCA, nasabah dapat membuka rekening Tabungan Emas melalui aplikasi maupun situs web. Transaksi pembelian dan penjualan emas dapat dilakukan secara real time, sementara riwayat transaksi dapat dipantau melalui kanal digital tersebut.
Langkah ini menandai perubahan pola masyarakat dalam mengakses emas. Jika sebelumnya investasi emas identik dengan pembelian emas fisik dan kebutuhan penyimpanan, digitalisasi membuat proses tersebut dapat dilakukan melalui telepon pintar.
Gagasan Kolaborasi
Sementara itu, Executive Vice President Product Development Transaction Banking BCA, Jan Hendra, mengungkapkan bahwa gagasan kolaborasi tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan investasi emas yang lebih mudah dan praktis. Sehingga, nasabah tidak lagi harus hadir secara fisik di cabang untuk memulai investasi.
“Kami melihat bahwa bagaimana kita mau menghadirkan investasi emas secara digital lebih mudah, lebih praktis, nasabah tidak usah bingung, tidak harus ke cabang secara fisik,” kata Jan.
Menurut dia, ada dua faktor utama yang mendorong pengembangan layanan tersebut. Pertama, kesadaran masyarakat terhadap investasi yang semakin meningkat. Kedua, kebutuhan terhadap layanan yang praktis di tengah kehidupan yang semakin terdigitalisasi.
Namun, digitalisasi emas tidak cukup hanya dengan memindahkan transaksi ke aplikasi. Persoalan kepercayaan dan kepastian bahwa emas digital memiliki underlying fisik menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut.
Di satu sisi, Kepala Divisi Digital Pegadaian, Supriyanto, mengatakan pihaknya mengembangkan digitalisasi sebagai bagian dari visi menjadi the leader gold ecosystem sekaligus mendorong pertumbuhan inklusi keuangan melalui kanal digital.
Pegadaian, kata dia, memiliki sekitar 4.000 outlet yang menjadi bagian dari kekuatan ekosistem tersebut. Emas digital yang dikelola Pegadaian juga didukung emas fisik dengan mekanisme satu banding satu dan disimpan secara fisik di Pegadaian.
Model tersebut memberikan solusi atas salah satu kekhawatiran masyarakat terhadap emas digital, yakni bagaimana memastikan aset digital tersebut dapat diwujudkan menjadi emas fisik. Supriyanto menyebut emas digital Pegadaian dapat dicetak dan kemudian diambil melalui jaringan outlet Pegadaian.
Selain itu, digitalisasi membuat investasi emas dapat dimulai dengan nilai yang relatif kecil. Jika pembelian emas fisik umumnya dilakukan dalam ukuran gram tertentu, melalui layanan digital masyarakat dapat membeli emas mulai dari Rp10.000.
"Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya menawarkan kemudahan transaksi, tetapi juga membuka ruang inklusi investasi yang lebih luas. Masyarakat tidak perlu menunggu memiliki dana besar untuk mulai mengakumulasi emas," tuturnya.
Supriyanto menilai, BCA menjadi mitra strategis karena memiliki basis nasabah yang besar sekaligus kekuatan dalam teknologi dan layanan digital. Ia menyebut jumlah nasabah BCA lebih dari 30 juta, sedangkan pengguna myBCA telah mencapai sekitar 16 juta.
Bagi BCA, Pegadaian dipilih karena memiliki ekosistem emas yang dinilai lengkap, pengalaman panjang, serta kesiapan sebagai penyelenggara layanan Bank Emas. Jan mengatakan, proses pemilihan mitra mempertimbangkan aspek perizinan, pengalaman, pengelolaan, rekam jejak, hingga kesiapan integrasi sistem. “Pegadaian ini yang paling lengkap. Sudah memiliki izin Bullion Bank,” ujar Jan. Kolaborasi kedua institusi tersebut sekaligus mempertemukan dua kekuatan berbeda. BCA memiliki jaringan nasabah dan infrastruktur digital, sedangkan Pegadaian memiliki pengalaman serta ekosistem emas dari sisi pengelolaan aset hingga layanan fisik.
Ekosistem Pegadaian sendiri tidak berhenti pada Tabungan Emas. Selfie Dewiyanti selaku Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk Pegadaian, mengatakan perseroan memiliki sejumlah produk emas, mulai dari Tabungan Emas, Deposito Emas, Cicil Emas, Pinjaman Modal Kerja Emas hingga fasilitas vaulting. Kapasitas vaulting yang dimiliki Pegadaian disebut mencapai lebih dari 100 ton.
Selfie menyebut Pegadaian saat ini mengelola lebih dari 153 ton emas. Menurut dia, pengembangan ekosistem emas membutuhkan fondasi utama berupa kepercayaan, karena masyarakat membeli emas bukan semata-mata berdasarkan harga, tetapi juga untuk mendapatkan rasa aman dalam menyimpan nilai.

Kolaborasi Pegadaian dengan BCA kemudian memperluas pintu masuk masyarakat ke ekosistem tersebut. Dengan basis pengguna digital yang besar, layanan emas tidak lagi hanya mengandalkan kanal Pegadaian, tetapi dapat diakses melalui platform perbankan yang telah digunakan masyarakat untuk kebutuhan finansial sehari-hari.
Lebih lanjut, solusi lain yang ditawarkan adalah fleksibilitas investasi. Supriyanto mendorong masyarakat, khususnya investor pemula, untuk tidak menunggu memiliki dana besar sebelum mulai berinvestasi emas.
“Mulai dari sekarang. Mulai dari kita sediakan digital mulai dari 10.000,” katanya.
Investasi Emas Harus Konsisten
Pesan tersebut sejalan dengan pandangan Jan bahwa investasi emas sebaiknya dilakukan secara konsisten dan berorientasi jangka panjang. BCA juga menekankan bahwa investasi tetap memiliki risiko sehingga keputusan investasi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan tujuan dan kemampuan keuangan masing-masing. “Yang penting konsisten, disiplin, pasti tujuannya akan tercapai,” ujar Jan.
Dari sisi Pegadaian, ekspansi melalui kanal digital BCA juga menjadi bagian dari ambisi yang lebih besar untuk membangun ekosistem emas nasional. Supriyanto mengatakan Pegadaian terus mengembangkan berbagai produk bullion, termasuk Deposito Emas, Titipan Emas, dan Pinjaman Emas, dengan target menjadi market maker sekaligus pemimpin ekosistem emas di Indonesia.
Sementara itu, BCA melihat layanan Tabungan Emas di myBCA bukan hanya sebagai penambahan fitur investasi, tetapi juga sebagai cara memperluas akses terhadap instrumen tersebut.
Jan mengatakan, dari lebih dari 30 juta nasabah BCA, terdapat jutaan nasabah yang sebelumnya telah melakukan transaksi atau membeli emas melalui berbagai cara.
Kehadiran fitur baru ini pun diharapkan oleh kedua belah pihak bisa membuat aktivitas tersebut menjadi lebih sederhana karena transaksi dan pemantauan investasi dapat dilakukan dalam satu platform.
Bullion Bank Dinilai Perkuat Ekosistem Emas Nasional
Kehadiran bank emas atau bullion bank dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem emas nasional sekaligus mengintegrasikan rantai bisnis emas dari hulu hingga hilir.
Ekonom Center for Sharia Economic Development INDEF, A. Hakam Naja, mengatakan ekosistem emas Indonesia mencakup berbagai sektor, mulai dari pertambangan, pemurnian, perdagangan, lembaga keuangan dan perbankan, hingga investor. Dalam rantai tersebut, keberadaan bank bulion memiliki posisi penting sebagai bagian dari infrastruktur keuangan emas.
"Setelah lahirnya Bank Bulion yaitu Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia, semakin memperdalam ekosistem Ekonomi Emas Indonesia," kata Hakam kepada SUAR.
Baca juga:

Menurut dia, kehadiran bullion bank dapat memperluas dan memperkuat peran sektor keuangan dalam industri emas.
Bullion bank tidak hanya berkaitan dengan aktivitas penyimpanan emas, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan ekosistem perdagangan dan pengelolaan emas secara lebih terintegrasi.
Penguatan tersebut dinilai penting mengingat emas memiliki karakteristik berbeda dibandingkan aset keuangan lainnya. Pengelolaan emas membutuhkan infrastruktur yang memastikan aspek kepemilikan, kualitas, penyimpanan, keamanan, serta transaksi dapat dilakukan secara terpercaya.
Hakam menjelaskan bahwa dengan adanya bullion bank, rantai bisnis emas yang sebelumnya lebih banyak bertumpu pada perdagangan emas fisik dapat semakin terhubung dengan sistem keuangan formal.
"Kondisi tersebut membuka peluang bagi pengembangan berbagai layanan dan produk keuangan berbasis emas di Indonesia," imbuhnya.
Hakam menilai pengembangan bank bulion juga dapat menjadi bagian dari upaya Indonesia membangun ekonomi emas nasional. Integrasi antara kegiatan pertambangan, pemurnian, perdagangan, perbankan, dan investor dinilai dapat menciptakan ekosistem yang lebih dalam serta meningkatkan nilai tambah komoditas emas di dalam negeri.
Di sisi lain, penguatan ekosistem bullion juga dapat meningkatkan daya saing Indonesia di kawasan. Infrastruktur perdagangan dan keuangan emas yang semakin matang berpotensi mendorong Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk emas, tetapi turut berkembang sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi emas regional.
Karena itu, kata dia, pengembangan bullion bank perlu diikuti dengan penguatan regulasi, infrastruktur penyimpanan, sistem perdagangan, serta mekanisme pencatatan kepemilikan emas agar ekosistem emas nasional dapat berkembang secara transparan, aman, dan terintegrasi.