Adam Salter Kepincut Jakarta, Sedikit Pengetahuan Nyaring Bunyinya & Makna Hidup

Adam Salter Kepincut Jakarta, Sedikit Pengetahuan Nyaring Bunyinya & Makna Hidup
Foto: Luca Bravo/ Unsplash
Daftar Isi

Selamat berakhir pekan. 

Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Adam Salter “Anak Kota” yang Kepincut Jakarta

Jakarta punya cara unik untuk memikat hati. Bagi Adam Hans Salter, Direktur Greenvolt Power Indonesia, aroma nasi goreng di pinggir jalan, deru kendaraan yang tak pernah berhenti, hingga kemacetan, justru menjadi alasan ia merasa betah. 

Dalam obrolan di sesi break sebuah diskusi SUAR di Jakarta, Menurut dia, Jakarta bukan hanya tempat bekerja, tetapi sebuah kota yang penuh energi. 

“Salah satu yang paling menarik di Indonesia tentu saja makanannya. Di sini merupakan lokasi eksplorasi yang lengkap,” katanya kepada SUAR, Jakarta, Selasa (3/2).  

Meski dirinya tergolong baru tinggal di Jakarta. Ia mengaku sangat menikmati tinggal di kota-kota besar. Dengan pengalaman tinggal di berbagai kota di dunia, Adam dengan percaya diri menyebut dirinya sebagai “anak kota.” 

Adam Salter, Director Greenvolt Power Indonesia

Fancon Jaehyun NCT: Jaehyun NCT akan menyapa penggemar lewat fancon bertajuk Mono di Tennis Indoor Senayan pada Sabtu, 20 Juni 2026 pukul 15.00 WIB. Acara ini menjadi momen perdana Jaehyun kembali ke panggung musik setelah menuntaskan wajib militer pada 3 Mei 2026. Jakarta masuk dalam rangkaian tur Mono bersama Seoul, Bangkok, Taipei, dan Macau. Bagi NCTzen, fancon ini adalah kesempatan langka untuk menikmati penampilan pelantun “Smoke” dalam format yang lebih intim dibanding konser reguler

Sunset di Kebun 2026 : Festival musik Sunset di Kebun akan kembali digelar pada 20–21 Juni 2026 di Area Istana Anak-Anak Indonesia, TMII. Mengusung konsep piknik ramah lingkungan, acara ini menghadirkan deretan musisi populer seperti Hindia, Tulus, Fiersa Besari, Nadin Amizah, Perunggu, Lomba Sihir, dan banyak lagi, yang akan tampil dalam suasana santai dan intimate. Tiket dijual mulai dari Rp190.000 hingga Rp450.000 dan masih tersedia melalui situs resmi Sunset di Kebun.

Sedikit Pengetahuan Nyaring Bunyinya

Arus data yang berlimpah, tak terbatas, juga mudah didapat, di era digitalisasi saat ini, bikin setiap orang mudah mencari informasi apa pun, kapanpun. Apalagi maraknya penggunaan kecerdasan buatan, memungkinkan seseorang bisa mempelajari topik mana saja dalam hitungan menit. Namun, memperoleh informasi ternyata tidak selalu sejalan dengan memperoleh kebijaksanaan.

Dan kadang, semakin mudah ia mendapat informasi, semakin ia berhasrat untuk menabalkan dirinya sebagai pakar dari sebuah persoalan. Padahal mengetahui beberapa fakta, belum tentu menguasai sebuah disiplin ilmu secara keseluruhan. Disinilah era teknologi informasi yang semakin mudah diakses, memicu sebuah gejala diberi nama pseudo expertise atau keahlian semu. 

Fenomena ini terjadi ketika seseorang merasa dirinya ahli dalam suatu bidang karena memiliki akses terhadap sejumlah informasi, padahal ia belum memiliki pemahaman yang mendalam, pengalaman praktis, maupun kemampuan untuk melihat persoalan secara utuh.
Photo by Steve A Johnson / Unsplash

Makna Hidup

Saudaraku, hidup, pada dirinya sendiri, hanyalah sekadar keberadaan—sunyi, netral, tanpa maksud. Seperti tanah liat yang belum disentuh tangan seniman, ia menanti diukir, ditata, ditafsirkan. Tak ada makna yang terberi; manusialah yang harus hadir sebagai penenun arti.

Makna tak lahir dari kebetulan, melainkan dari keberanian manusia membangun sistem nilai. Nilai etis membedakan yang baik dari yang buruk—seperti cahaya memisahkan siang dari malam. Nilai logis mengurai yang benar dari yang keliru, ibarat mata air yang jernih dan keruh.

Nilai estetis mengenali rupa yang pantas dan ganjil, seperti mata menangkap harmoni warna. Nilai pragmatis meraba maslahat dan mudarat, seperti akar yang mencari tanah subur. Dan nilai spiritual membedakan yang mencerahkan dan yang menggelapkan—seperti bintang di langit pekat yang menunjuk arah, meski tak bersuara.

Hidup tanpa keluhuran budaya adalah hidup yang sia-sia, miskin arti—seperti mayat berjalan: bergerak tanpa jiwa, bernapas tanpa arah. 
Cendekiawan Muda, Yudi Latif (Foto: AI/ Tim SUAR)

Baca selengkapnya