Arus data yang berlimpah, tak terbatas, juga mudah didapat, di era digitalisasi saat ini, bikin setiap orang mudah mencari informasi apa pun, kapanpun. Apalagi maraknya penggunaan kecerdasan buatan, memungkinkan seseorang bisa mempelajari topik mana saja dalam hitungan menit. Namun, memperoleh informasi ternyata tidak selalu sejalan dengan memperoleh kebijaksanaan.
Dan kadang, semakin mudah ia mendapat informasi, semakin ia berhasrat untuk menabalkan dirinya sebagai pakar dari sebuah persoalan. Padahal mengetahui beberapa fakta, belum tentu menguasai sebuah disiplin ilmu secara keseluruhan. Disinilah era teknologi informasi yang semakin mudah diakses, memicu sebuah gejala diberi nama pseudo expertise atau keahlian semu.
Fenomena ini terjadi ketika seseorang merasa dirinya ahli dalam suatu bidang karena memiliki akses terhadap sejumlah informasi, padahal ia belum memiliki pemahaman yang mendalam, pengalaman praktis, maupun kemampuan untuk melihat persoalan secara utuh.
Bila dahulu pengetahuan diperoleh dengan pendidikan, pengalaman, juga proses pembelajaran pajang, hingga penelitian yang berdarah-darah, kini informasi itu bisa dimiliki dengan gampang. Maka kecenderungan orang yang membaca informasi sebagian, belum tentu ia memahami konteksnya secara utuh. Ia juga belum tentu menguasai meski memahami informasi itu.
Dan tentu saja, seseorang belum tentu menguasai ilmu itu, walau ia sudah membaca, menelaah nya, namun bukan berarti ia menjadi ahli dalam sebuah pembahasan persoalan di organisasi.
Karenanya, pseudo expertise menjadi kondisi ketika seseorang menampilkan citra sebagai orang yang ahli, berwawasan, atau memiliki otoritas tertentu, padahal kompetensi substantif yang dimilikinya terbatas atau tidak memadai.
Ia sering kali berbicara dengan penuh keyakinan meski minim data. Ia juga gemar menggunakan istilah teknis atau jargon untuk membangun kesan intelektual. Yang paling membosankan, ia suka memberi nasihat di luar bidang keahliannya.
Bahkan di satu titik, seseorang yang mengidap gejala ini selalu menolak kritik karena merasa pengetahuannya sudah berlebih. Ia juga sulit mengakui ketidaktahuan.
Meski begitu, fenomena ini tidak selalu lahir dari niat buruk. Sebagian pelakunya benar-benar percaya bahwa dirinya sudah memahami suatu persoalan. Dalam psikologi, keadaan ini dekat dengan fenomena yang disebut sebagai Dunning-Kruger Effect.
Efek ini menjelaskan bahwa orang dengan kemampuan rendah pada suatu bidang justru cenderung melebih-lebihkan tingkat kompetensinya, karena mereka tidak memiliki kapasitas untuk menyadari keterbatasannya sendiri.
Bagi organisasi yang di dalamnya ada kecenderungan memiliki anggota yang terpapar pseudo expertise ini, maka memungkinkan adanya potensi pengambilan keputusan yang kurang bernas.
Karena keputusan yang dihasilkan, dikhawatirkan berdasarkan opini yang terdengar meyakinkan tetapi minim dasar empiris. Risikonya, sebuah organisasi akan salah strategi dalam memilih kebijakannya. Di situ juga akan terjadi pemborosan sumber daya, sering menghadapi kegagalan proyek, sehingga meningkatnya biaya organisasi.
Ini bisa berdampak bagi matinya budaya belajar di dalam organisasi itu sendiri. Karena pseudo expert sering menciptakan ilusi bahwa organisasi sudah mengetahui semuanya. Akibatnya pertanyaan-pertanyaan kritis hilang, rasa ingin tahu menurun, diskusi menjadi dangkal.
Padahal organisasi yang sehat justru dibangun dari keberanian untuk mengakui apa yang belum diketahui. Sedangkan orang yang benar-benar kompeten kadang lebih hati-hati, tidak suka menonjolkan diri, lebih banyak mendengarkan.
Sedangkan dalam lingkungan yang dipenuhi pseudo expertise, orang-orang yang punya sikap positif seperti ini, sering kalah oleh mereka yang lebih piawai menjual citra. Lama-kelamaan orang belajar, yang penting terlihat kompeten, bukan benar-benar kompeten. Ini merupakan awal dari kemunduran institusi.
Dari keadaan ini, kita bisa belajar ke filsuf Yunani, Aristoteles, yang menyebut, keutamaan intelektual membutuhkan kerendahan hati. Ia berpendapat, kebijaksanaan lahir dari pengalaman, pembelajaran, dan kebiasaan berpikir yang baik. Klaim kepakaran tanpa proses pembelajaran yang memadai berarti memotong jalan menuju kebijaksanaan.
Sedangkan Filsuf kelahiran Austria Karl Popper mengajarkan, pengetahuan tumbuh melalui kemungkinan salah. Jadi ilmu itu berkembang karena manusia mau menguji dan bahkan membantah keyakinannya sendiri.
Pseudo expertise justru anti-kritik, menganggap dirinya benar, dan selalu menolak kemungkinan salah. Karl Popper menegaskan bahwa ilmu berkembang karena manusia mau menguji dan bahkan membantah keyakinannya sendiri.
Dari dinilah diperlukan budaya perusahaan yang mendukung adanya keahlian yang berdasar. Dimulai dari pemimpin yang mencontohkan bahwa ketidaktahuan bukan aib. Kerendahan hati intelektual adalah kemampuan untuk menyadari dirinya bisa saja salah. Dan kesalahan berpikir selama bisa dikoreksi melalui diskusi, adalah baik. Inilah salah satu kualitas terpenting dalam organisasi modern.
Ahli sejati hampir selalu merasa dirinya masih belajar. Sebaliknya, pseudo expert merasa proses belajarnya sudah selesai.
Pseudo expertise sesungguhnya bukan masalah kurangnya pengetahuan, melainkan ketidakmampuan membedakan antara memiliki informasi dan memiliki kebijaksanaan.
Di era banjir informasi, ancaman terbesar organisasi bukan lagi kebodohan, tetapi ilusi bahwa semua orang sudah mengetahui jawabannya.
Ketika terlalu banyak orang merasa menjadi ahli, organisasi justru kehilangan kemampuan untuk belajar, mendengar, dan berpikir secara mendalam. Dan organisasi yang berhenti belajar, pada akhirnya sedang mempersiapkan kemundurannya sendiri.