Why Nations Fail: Pelajaran dari Piala Dunia

Artikel ini merupakan opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dan Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Mohamad Ikhsan

Why Nations Fail: Pelajaran dari Piala Dunia
Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan (Foto: AI/ SUAR)
Daftar Isi

Selasa pagi, 30 Juni 2026. Di Gillette Stadium, pinggiran Boston, Jerman tersingkir dari Piala Dunia setelah kalah adu penalti dari Paraguay. Bagi tim yang tidak pernah kalah dalam adu penalti sepanjang sejarah Piala Dunia, kekalahan itu terasa simbolik.

Tetapi yang paling jujur justru datang setelah pertandingan. Julian Nagelsmann, pelatih Jerman, secara terbuka mengakui bahwa Jerman tidak lagi menjadi kekuatan elit sepak bola dunia. Sebagai pendukung Jerman, saya tentu kecewa setelah menyaksikan kegagalan mereka membangun kembali dinasti sepak bola mereka.

Pengakuan itu penting. Sebab pertanyaan yang sesungguhnya bukan mengapa Jerman kalah dari Paraguay, melainkan mengapa negara yang pernah menjadi standar emas dalam pembinaan pemain kini gagal memenuhi harapan dalam tiga Piala Dunia berturut-turut.

Setiap Piala Dunia memang melahirkan kejutan. Ada unggulan yang pulang lebih cepat. Ada negara yang konsisten melahirkan generasi baru tanpa pernah benar-benar mengalami kemunduran. Kita sekilas menonton pertandingan sepak bola. Padahal yang sedang kita saksikan sesungguhnya adalah kompetisi antarsistem.

Brasil mengalami krisis yang lebih panjang daripada Jerman. Negara dengan lima gelar juara dunia itu belum mengangkat trofi sejak 2002. Hampir setiap pergantian pelatih diikuti oleh harapan baru, tetapi hasilnya relatif sama. Sebaliknya, Prancis hampir tidak pernah kehabisan pemain berkualitas.

Spanyol bangkit kembali setelah regenerasi. Inggris, yang selama puluhan tahun dikenal gagal memenuhi ekspektasi, kini tampil semakin konsisten setelah mereformasi akademi, pendidikan pelatih, dan kompetisi usia muda. Jepang menjadi kekuatan utama Asia bukan karena banyak melakukan naturalisasi, melainkan karena membangun sistem pembinaan selama lebih dari tiga dekade.

Yang lebih menarik lagi adalah negara-negara Afrika seperti Maroko dan Senegal. Maroko — yang di babak yang sama baru saja menyingkirkan Belanda, juga lewat adu penalti, membuktikan bahwa diaspora dapat menjadi kekuatan luar biasa jika dikelola secara sistematis.

Namun, keberhasilan mereka bukan semata-mata soal naturalisasi. Maroko membangun akademi nasional, memperbaiki pembinaan usia muda, dan secara aktif, menjaga hubungan dengan diaspora yang berkembang di Eropa.

Senegal menikmati hasil investasi jangka panjang pada akademi yang kini memasok pemain ke berbagai liga elit Eropa. Hebatnya Senegal, saat saya berkunjung ke Dakar tahun 2011 saya menyaksikan fasilitas stadion mereka sangat sederhana. Di luar stadion utamanya, stadion di kota Dakar mirip dengan stadion Menteng sebelum dibongkar menjadi Taman Menteng.

Dari semua itu, pelajaran pertama Piala Dunia sederhana tetapi keras: kejayaan sepak bola tidak diwariskan. Kejayaan harus terus diproduksi.

Banyak negara besar terjebak dalam reputasi masa lalu. Mereka mengira tradisi juara akan secara otomatis melahirkan generasi juara berikutnya. Kenyataannya tidak demikian. Ketika sistem pembinaan melemah, stok talenta perlahan menipis. Yang hilang bukan hanya jumlah pemain berbakat, tetapi juga kualitas kepemimpinan, kecerdasan bermain, dan identitas permainan.

Sebaliknya, negara yang terus berinvestasi dalam pembinaan mampu memperbarui dirinya secara berkelanjutan.

Naik-turunnya pabrik talenta

Dalam dua dekade terakhir, kita menyaksikan naik-turunnya berbagai "pabrik talenta" sepak bola.

Jerman pernah menjadi contoh yang paling sukses. Setelah kegagalan pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, Deutscher Fußball-Bund (DFB) bersama Bundesliga melakukan reformasi besar-besaran.

Klub diwajibkan membangun akademi. Pendidikan pelatih diperbaiki. Kompetisi usia muda diperkuat. Hasilnya jelas: Lahm, Schweinsteiger, Neuer, Müller, Özil, Kroos, dan Hummels lahir dari ekosistem yang relatif terencana. Puncaknya adalah gelar Piala Dunia 2014 dan Piala Konfederasi 2017.

Namun, pabrik talenta juga bisa menua. Dalam ekonomi kita mengenal paradoks serupa: masa stabil yang panjang justru menanam benih ketidakstabilan. Keberhasilan melahirkan rasa aman dan rasa aman melahirkan kelalaian.

Setelah 2014, Jerman tidak lagi memproduksi pemain dalam jumlah dan komposisi yang sama. Masih ada talenta besar seperti Wirtz dan Musiala, tetapi pasokan penyerang tengah, bek sayap, gelandang bertahan, dan pemimpin di lapangan tidak lagi sekuat sebelumnya. Schalke dan Bremen, dulu produsen penting pemain Jerman, melemah.

Dortmund, Leipzig, dan Leverkusen menjadi klub elit, tetapi orientasi pasar mereka semakin internasional. Bayern masih menjaga tradisi pemain inti Jerman, tetapi satu klub saja tidak cukup untuk menopang tim nasional.

Brasil menghadapi masalah yang berbeda. Brasil tidak kekurangan bakat; anak-anak Brasil tetap tumbuh dengan bola. Namun, pemain terbaiknya terlalu cepat meninggalkan liga domestik.

Pesepak bola Timnas Maroko Nussair Mazraoui (kiri) berebut bola di udara dengan pesepak bola Timnas Belanda Wout Weghorst dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Monterrey, Guadalupe, Meksiko, Senin (29/6/2026) (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nym.

Mereka matang di Eropa, bukan lagi di ekosistem sepak bola Brasil. Akibatnya, tim nasional semakin bergantung pada klub-klub Eropa untuk membentuk pemainnya. Yang melemah bukan bakat individual, melainkan identitas kolektif. Brasil masih memiliki pemain hebat, tetapi tidak selalu memiliki tim yang utuh.

Ajax memberi contoh lain. Selama puluhan tahun, Ajax dikenal sebagai salah satu akademi terbaik dunia — Cruyff, Van Basten, Bergkamp, Seedorf, Sneijder, De Ligt, semuanya terkait dengan tradisi produksi talenta Belanda. Namun, akademi besar pun bisa kehilangan keunggulan jika lingkungan kompetisi, manajemen klub, jalur ke tim utama, dan strategi transfer tidak lagi selaras. Nama besar akademi tidak menjamin regenerasi secara otomatis.

Sebaliknya, Prancis menunjukkan bagaimana pabrik talenta nasional bekerja dalam skala besar. Prancis bukan hanya memproduksi pemain untuk tim nasionalnya sendiri. Ia memproduksi pemain untuk Maroko, Senegal, Aljazair, Tunisia, Pantai Gading, dan banyak negara lainnya.

Ini menunjukkan kedalaman sistem: akademi klub, Clairefontaine, banlieue Paris, klub regional, dan kompetisi usia muda bekerja sebagai satu ekosistem yang luas. Prancis tidak sekadar membangun tim nasional. Prancis membangun industri human capital sepak bola.

Spanyol memberi pelajaran tentang pentingnya bahasa permainan. Akademi-akademi Spanyol tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga cara berpikir: posisi tubuh, penguasaan ruang, pengambilan keputusan, dan keberanian bermain di bawah tekanan. Karena itu, regenerasi Spanyol dapat berlangsung meskipun generasi emas Xavi, Iniesta, dan Busquets telah berlalu.

Inggris menunjukkan bahwa reformasi dapat mengubah sejarah. Bertahun-tahun Inggris dikenal sebagai negara dengan liga paling komersial, tetapi tim nasionalnya sering gagal. Setelah reformasi akademi, pembangunan St George's Park, dan peningkatan kualitas pelatih muda, lahirlah generasi baru: Foden, Saka, Bellingham, Rice, dan Palmer. Premier League tetap sangat internasional, tetapi sistem pembinaan di Inggris jauh lebih baik.

Portugal barangkali contoh yang paling sering disalahpahami. Kita terlalu fokus pada Ronaldo, padahal keberhasilan Portugal bukan cerita tentang satu pemain besar. Portugal adalah negara kecil yang secara konsisten membangun ekosistem talenta. Sporting, Benfica, Porto, dan Braga bukan sekadar klub; mereka adalah pabrik pemain. Dari sana lahir generasi demi generasi: Figo, Rui Costa, Deco, Ronaldo, Bernardo Silva, Bruno Fernandes, Rafael Leão, Vitinha.

Klub-klub Portugal memahami bahwa memproduksi pemain adalah model bisnis: melatih, memberi kesempatan, lalu menjualnya ke liga yang lebih besar. Dalam proses itu, tim nasional juga ikut menikmati hasilnya. Portugal membuktikan bahwa ukuran negara bukan penentu utama. Yang menentukan adalah kualitas institusi: jaringan pencarian bakat, akademi, pelatih, kompetisi, dan insentif ekonomi.

Jepang memberi pelajaran paling relevan bagi Asia. Jepang tidak membangun sepak bolanya dalam semalam. J.League, sepak bola sekolah dan universitas, akademi klub, dan budaya disiplin telah bekerja sama selama lebih dari tiga dekade. Banyak pemain Jepang kini bermain di Eropa, tetapi basis pembentukannya tetap kuat di dalam negeri. Jepang membuktikan bahwa negara Asia bisa menjadi kekuatan dunia jika bersabar membangun sistem.

Bahkan Norwegia menarik dilihat. Negara berpenduduk 5,5 juta itu kini memiliki Haaland dan Ødegaard. Kemunculan mereka bukan sepenuhnya kebetulan: Norwegia membangun basis partisipasi yang luas, lapangan yang lebih baik, dan pendekatan pembinaan yang tidak terburu-buru dalam membuang pemain muda. Dari basis yang kecil tetapi terorganisasi, lahir talenta luar biasa.

Amerika Serikat pun layak diperhatikan. Sepak bola lama bukan olahraga utama di sana. Namun, mereka memiliki pasar yang besar, universitas, sport science, fasilitas, data analytics, serta budaya kompetisi yang kuat. Jika MLS semakin konsisten dan jalur dari youth soccer ke level profesional semakin jelas, Amerika Serikat bisa menjadi kekuatan baru.

Pelajaran dari semua contoh ini sederhana: pabrik talenta bisa bangkit, tetapi juga bisa runtuh. Ia harus terus dirawat. Ia membutuhkan investasi, tata kelola, kurikulum, pelatih, kompetisi, dan insentif yang tepat.

person holding gold trophy
Photo by Fauzan Saari / Unsplash

Institusi, insentif, dan etos kerja

Di sinilah sepak bola bertemu dengan ekonomi politik.

Acemoglu dan Robinson dalam Why Nations Fail mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak ditentukan oleh sumber daya atau bakat alamiah semata. Yang menentukan adalah institusi: apakah sebuah sistem menciptakan insentif yang mendorong orang untuk bekerja, berinovasi, berinvestasi, dan bersaing secara sehat.

Dalam sepak bola, institusi itu berwujud federasi, liga, klub, akademi, lisensi pelatih, sistem kompetisi, kontrak pemain muda, dan mekanisme transfer. Jika insentifnya benar, klub akan lebih serius dalam membina pemain. Jika insentifnya salah, klub akan memilih jalan pintas: membeli pemain jadi, mengabaikan akademi, dan memperlakukan pembinaan usia muda sebagai formalitas.

Dalam pandangan Acemoglu dan Robinson, ada federasi yang inklusif — yang membuka jalan bagi siapa pun yang berbakat dan mau bekerja keras — dan ada federasi yang ekstraktif, yang dikelola untuk kepentingan segelintir orang. Sistem yang ekstraktif bisa sesekali menang. Tetapi ia tidak akan pernah konsisten.

Budaya kerja tentu penting. Tetapi work ethic tidak lahir dalam ruang kosong; ia dibentuk oleh sistem. Pemain muda akan bekerja keras jika melihat jalur yang jelas menuju tim utama. Pelatih akan serius mendidik jika profesinya dihargai. Klub akan berinvestasi pada akademi jika ada manfaat ekonomi dan reputasi. Orang tua akan mendukung anaknya menjadi pemain jika sistemnya kredibel. Etos kerja dan institusi saling memperkuat.

Karena itu, membangun sepak bola nasional bukan sekadar urusan memilih pelatih tim nasional. Ia adalah urusan membangun ekosistem: siapa yang mencari bakat, siapa yang melatih, siapa yang memberi kesempatan bermain, siapa yang membiayai, siapa yang mendapat manfaat, dan siapa yang bertanggung jawab ketika sistem gagal.

Pada akhirnya, sepak bola adalah industri yang berorientasi pada sumber daya manusia. Yang diproduksi bukan bola. Yang diproduksi adalah pemain. Dan pemain tidak lahir begitu saja. Mereka dihasilkan oleh kombinasi akademi, pelatih, kompetisi usia muda, sport science, nutrisi, budaya sepak bola, dan kesempatan bermain. Yang menentukan bukan hanya siapa pelatih tim nasional, melainkan kualitas pabrik talenta yang bekerja setiap hari.

Di sinilah saya melihat kemiripan yang sangat kuat dengan pembangunan ekonomi. Banyak negara ingin mempercepat pertumbuhan melalui impor modal, teknologi, atau tenaga ahli.

Cara ini memang dapat meningkatkan kinerja dalam jangka pendek. Namun, daya saing yang berkelanjutan hanya dapat dicapai jika negara mampu membangun kapasitas produksinya sendiri.  Di sinilah  adalah esensi dari middle income trap

Naturalisasi pemain tidak berbeda. Ia dapat mempercepat peningkatan kualitas tim nasional. Ia dapat menaikkan standar permainan. Namun, naturalisasi adalah jembatan, bukan fondasi. Ia bukan pengganti pembangunan sistem pembinaan.

Indonesia butuh bangun ekosistem, bukan hanya tim nasional

Bagi Indonesia, pelajaran terbesar bukanlah bagaimana menaturalisasi lebih banyak pemain. Pelajaran terbesar adalah bagaimana membangun ekosistem sepak bola nasional.

Ekosistem itu jauh lebih luas daripada sebelas pemain yang tampil di lapangan. Ia mencakup federasi yang profesional, klub yang sehat secara finansial, akademi yang berkualitas, kompetisi usia muda yang berjenjang, sistem kepelatihan yang modern, perwasitan yang berintegritas, regulasi yang konsisten, mekanisme insentif yang mendorong pembinaan pemain muda, hingga tata kelola liga yang transparan.

Yang tidak kalah penting adalah infrastruktur paling dasar yaitu lapangan. Negara-negara yang berhasil hampir semuanya memiliki ribuan lapangan yang mudah diakses oleh anak-anak.

Lapangan adalah laboratorium pertama tempat seorang pemain belajar mengambil keputusan, bekerja sama, dan mencintai permainan. Tanpa lapangan yang memadai, sulit membangun budaya sepak bola yang kuat. Mungkin sudah saatnya pembangunan lapangan sepak bola menjadi bagian dari kebijakan pembangunan daerah, sebagaimana kita membangun sekolah, puskesmas, atau ruang terbuka hijau.

Pengalaman di negara negara  yang berhasil membangun sepakbola, lapangan tidak mesti stadion yang megah tetapi lapangan (pitch) yang standar yang memungkinkan pemain mengembangkan bakatnya tanpa ketakutan sedera kesandung lapangan yang tidak rata.

Pada akhirnya, sepak bola adalah soal insentif. Klub harus memperoleh manfaat ketika berhasil membina pemain muda. Pelatih akademi harus memiliki jenjang karier yang jelas. Wasit harus dihargai karena profesionalismenya, bukan karena kedekatannya dengan pihak tertentu.

Orang tua harus yakin bahwa sepak bola dapat menjadi jalur pengembangan karakter sekaligus profesi yang bermartabat. Pemerintah daerah dan sektor swasta perlu memahami bahwa investasi dalam olahraga bukan sekadar biaya sosial, melainkan investasi dalam sumber daya manusia.

Di sinilah sepak bola bertemu dengan ekonomi pembangunan. Institusi yang baik menciptakan insentif yang baik. Insentif yang baik melahirkan investasi. Investasi yang berkelanjutan menghasilkan talenta. Dan talenta yang terus bermunculan pada akhirnya menghasilkan prestasi.

Pendukung Tim Nasional Jerman melakukan konvoi di Kota Ambon, Maluku, Senin (15/6/2026). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye)

Sepak bola dan identitas bangsa

Namun, ada satu dimensi lain yang sering terlupakan: sepak bola juga membangun identitas nasional.

Piala Dunia memperlihatkan bagaimana olahraga dapat menjadi perekat sosial yang sulit digantikan oleh instrumen lain. Di tengah perbedaan politik, etnis, agama, dan kelas sosial, jutaan orang dapat mengenakan warna yang sama dan menyanyikan lagu kebangsaan yang sama.

Iran memberikan contoh yang menarik. Diaspora Iran memiliki pandangan politik yang sangat beragam terhadap pemerintah di negaranya. Namun, ketika tim nasional bertanding, stadion tetap dipenuhi pendukung Iran dari berbagai latar belakang. Sepak bola menjadi ruang yang mempertemukan identitas kebangsaan di atas perbedaan politik.

Prancis menunjukkan pelajaran yang berbeda. Perdebatan mengenai imigrasi, integrasi, dan identitas nasional tetap berlangsung di sana hingga hari ini. Sepak bola tentu tidak akan menyelesaikan persoalan itu.

Namun, keberhasilan tim nasional yang dihuni pemain dari berbagai latar belakang telah berulang kali menciptakan momen ketika masyarakat Prancis melihat dirinya sebagai satu bangsa. Olahraga tidak menghapus perbedaan, tetapi dapat memperkuat rasa memiliki terhadap negara.

Bagi Indonesia, makna ini sangat relevan. Kita adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, ratusan bahasa daerah, dan keragaman budaya yang luar biasa. Sedikit sekali institusi yang mampu menyatukan seluruh bangsa secara emosional. Sepak bola adalah salah satunya.

Karena itu, investasi dalam sepak bola sesungguhnya bukan hanya untuk memenangkan pertandingan.

Ia adalah investasi dalam sumber daya manusia. Ia adalah investasi pada institusi. Ia adalah investasi dalam kohesi sosial. Dan pada akhirnya, ia merupakan investasi bagi bangsa Indonesia.

Baca juga:

Bukan yang Termurah, Melainkan yang Teraman
Artikel ini merupakan opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dan Ekonom Lembaga MohaLembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Mohamad Ikhsan

Bila Anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri Anda dengan kirim email ke [email protected]

Author

Mohamad Ikhsan
Mohamad Ikhsan

Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dan Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI

Baca selengkapnya