Studi dari Nature Food (2025) mengungkapkan kenyataan bahwa hampir tidak ada negara di dunia yang benar-benar mandiri secara nutrisi. Dengan membandingkan produksi domestik terhadap pedoman makan sehat, penelitian tersebut menggunakan metode penilaian terhadap tujuh kelompok pangan esensial, mulai dari daging hingga sayuran.
Temuan dari penelitian berjudul "Gap between national food production and food-based dietary guidance highlights lack of national self-sufficiency" yang diterbitkan dalam jurnal Nature Food menyimpulkan bahwa hanya beberapa negara, yakni Guyana, Vietnam, dan China yang masuk dalam kategori negara yang hampir secara sempurna memenuhi kecukupan produksi tujuh kelompok pangan tersebut.
Guyana secara sempurna mampu memenuhi ketujuh kelompok pangan secara mandiri. Sementara sebagian besar negara lain mengalami "gap" nutrisi yang lebar, meskipun mereka merupakan produsen komoditas tertentu.
Jika dipersempit ke wilayah ASEAN, terdapat perbedaan perspektif antara standar nutrisi global dengan data Agricultural Commodity Outlook (ACO). Metode yang digunakan oleh ASEAN Food Security Information System cenderung berfokus pada Self-Sufficiency Ratio (SSR) untuk komoditas strategis tropis, seperti padi dan jagung.
Data tahun 2024-2025 menunjukkan angka yang impresif untuk beberapa negara seperti Thailand dan Kamboja, yang mencatatkan skor SSR jauh di atas 100%. Artinya, mereka memproduksi beras melebihi kebutuhan domestik. Namun, angka tinggi pada tanaman pokok ini sering kali menutupi kerentanan pada kelompok pangan lain seperti susu atau kacang-kacangan. Adapun Indonesia memiliki skor SSR 99% atau nyaris sempurna dalam memproduksi pangan untuk kebutuhan domestik
Perbedaan metode ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan memiliki dua wajah. Di satu sisi, data regional ASEAN membuktikan kekuatan dalam swasembada karbohidrat (energi), namun di sisi lain, metodologi Nature Food mengingatkan bahwa kemandirian pangan tidak sama dengan kemandirian nutrisi.
Negara seperti Indonesia mungkin memiliki rasio SSR makanan pokok yang mendekati 100% (berada di angka 99% menurut tabel ACO), tetapi dalam skala 1-7 kelompok pangan global, pemenuhan nutrisi yang beragam masih menjadi tantangan besar. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor untuk protein atau buah-buahan tertentu masih menjadi titik lemah.
Situasi ini menjadi kian kritis saat dihadapkan pada guncangan konflik geopolitik dan perubahan iklim ekstrem. Ketidakmampuan suatu negara untuk memproduksi seluruh kelompok pangan secara mandiri membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global.
Ketika perang atau bencana iklim memutus jalur perdagangan, negara yang hanya swasembada di sektor karbohidrat akan mengalami krisis nutrisi serius. Ketergantungan pada satu atau dua mitra dagang untuk kelompok pangan yang tidak bisa diproduksi secara domestik memiliki risiko keamanan nasional yang seringkali terabaikan.
Kedua data di atas (ACO dan Nature Food) memberi pesan yang komplementer, di mana perdagangan internasional menjadi faktor dalam menjaga stabilitas pasok pangan global. Kemandirian pangan secara total yang juga berarti kemandirian nutrisi merupakan kondisi yang sulit dicapai karena keterbatasan lahan dan iklim di masing-masing negara.
Oleh karena itu, strategi ketahanan pangan masa depan tidak hanya terpaku pada peningkatan produksi tanaman pokok, tetapi juga mencakup diversifikasi produksi domestik dan penguatan kerja sama perdagangan internasional. Sangat perlu untuk memahami celah antara apa yang ditanam dan apa yang dibutuhkan dalam membangun kemandirian serta ketahanan pangan yang tangguh.