Dua bank sentral yakni The Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BoJ) mengunci suku bunga acuan masing-masing sebesar 3,5%-3,75% dan 0,75% dalam hasil rapat dewan gubernur bulanannya. Keputusan tersebut meresonansikan komitmen bank sentral dunia untuk memprioritaskan stabilitas moneter, menahan tingkat pengangguran, serta mengembalikan tingkat inflasi di tengah turbulensi global.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan, kebijakan mengunci suku bunga acauan (Fed Fund Rate/FFR) tersebut disesuaikan dengan situasi perekonomian dalam negeri Amerika Serikat saat ini. Meskipun ekspansi ekonomi tengah berjalan, penciptaan lapangan kerja belum menunjukkan perbaikan berarti di tengah inflasi yang mengalami peningkatan. Stabilitas moneter dipilih sebagai prioritas selama The Fed bekerja mengatasi inflasi.
"Kami melihat kedudukan kebijakan moneter saat ini sudah tepat untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan target inflasi 2%. Implikasi perkembangan di Timur Tengah bagi ekonomi dalam negeri AS masih belum dapat dipastikan, tetapi kami selalu memperhatikan risiko eskalasi terhadap mandat ganda yang kami jalankan," ucap Powell dalam konferensi pers hasil rapat, Rabu (18/3/2026) waktu setempat atau Kamis (19/3/2026) dini hari.
Sejumlah indikator perekonomian yang menjadi dasar pengambilan kebijakan The Fed menunjukkan resiliensi ekonomi AS saat ini berada dalam fase bertahan, khususnya dari segi pengeluaran konsumsi dan ekspansi bisnis. Sementara itu, aktivitas sektor perumahan yang tetap lemah telah mendorong median pertumbuhan PDB naik menjadi 2,4% di tahun ini, menguat dibandingkan proyeksi bulan Desember.
Mengacu pada estimasi Indeks Harga Konsumen, The Fed menghitung inflasi tahunan mencapai 2,8%, sementara inflasi inti naik mencapai 3%. Kenaikan harga barang-barang yang diperparah efek kebijakan tarif tersebut turut mendorong ekspektasi kenaikan inflasi dalam beberapa pekan terakhir, yang juga dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah akibat disrupsi Selat Hormuz.

"Dalam waktu dekat, kenaikan harga energi akan meningkatkan inflasi secara keseluruhan, tetapi masih terlalu dini untuk mengetahui jangkauan dan seberapa jauh efek potensial tersebut memengaruhi perekonomian. Kami telah cukup siap untuk menentukan jangka waktu penyesuaian yang diperlukan untuk kebijakan berdasarkan data perekonomian dalam waktu dekat, dan perimbangan risiko yang paling memungkinkan," cetus Powell.
Keputusan Bank of Japan
Sejalan dengan keputusan The Fed, Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat 0,75% berdasarkan hasil voting 8-1 dalam rapat dewan gubernur bulan Maret 2026. Keputusan tersebut didasari ekspektasi kenaikan inflasi akibat harga energi dan upaya pemerintah mengurangi beban rumah tangga, khususnya inflasi harga kebutuhan pokok, termasuk beras.
"Mengingat suku bunga riil saat ini sangat rendah, hanya apabila prospek perbaikan ekonomi sesuai Laporan Prospek Januari 2026 terlaksana, Bank of Japan dapat menaikkan suku bunga sesuai tingkat akomodasi moneter. Akan tetapi, sebagai respons perkembangan harga serta kondisi keuangan, Bank akan menjaga stabilitas harga 2% sebagai target utamanya," jelas Gubernur Bank of Japan Ueda Kazuo dalam pernyataan tertulis, Kamis (19/3/2026).
Ketidakpastian perkembangan harga energi juga menjadi perhatian. Menurut Ueda, dengan situasi saat ini, Dewan Gubernur BoJ akan membuka peluang menaikkan suku bunga acuan apabila tekanan ekonomi menunjukkan sifat sementara dan tidak berpengaruh terlalu jauh terhadap inflasi dasar. Kecuali itu, penguncian suku bunga akan tetap dipertahankan.
"Kami mengamati perkembangan pasar setiap hari secara cermat untuk menindaklanjuti keputusan. Saat ini, kami melihat sentimen pasar yang tengah memburuk, sehingga kami akan tetap waspada dalam menjaga kebijakan moneter, sejalan dengan upaya pemerintah memitigasi semua risiko, termasuk meninjau kembali proyeksi triwulan bulan April yang akan datang," pungkas Ueda.
Divergensi
Secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai langkah-langkah yang diambil bank sentral untuk menahan suku bunga acuan masing-masing merupakan bentuk divergensi kebijakan moneter dalam menghadapi ketidakpastian yang meruncing. Karenanya, meski ruang penurunan suku bunga kebijakan tersedia, opsi stabilitas tetap dipilih dan dikedepankan.
"Seperti European Central Bank sudah menunjukkan langkah mengerem suku bunga, kebijakan The Fed dan Bank of Japan sejatinya diperkirakan semula sebagai respons terhadap tren yang dialami masing-masing negara. Sementara The Fed masih menahan penurunan, kenaikan suku bunga akan mulai dipertimbangkan BoJ. Divergensi inilah yang akan memberi dampak dalam jangka panjang," ucap Josua saat dihubungi, Rabu (18/3/2026).
Langkah-langkah moneter antisipatif tersebut, Josua menilai, tidak hanya akan berdampak pada perdagangan, tetapi juga pelemahan investasi, dengan faktor risiko berkaitan dengan kondisi perkembangan di Timur Tengah. Akibatnya, meskipun trajektori pertumbuhan ekonomi akan membaik, mitigasi kebijakan imbas tantangan global amat diperlukan.
"Tren inflasi global saat ini melambat, tetapi tidak dapat benar-benar turun karena implementasi tarif resiprokal. Beberapa bank sentral masih akan memperhatikan dan menganalisis lebih dalam tentang kondisi inflasi domestik mereka. Karena itu, meski tingkat inflasi terus menurun sejak 2022, divergensi kebijakan moneter global tidak terhindarkan," cetusnya.
Baca juga:

Respons kebijakan moneter The Fed saat ini, menurut Josua, masih memiliki ruang untuk menurunkan FFR sesuai kebutuhan. Meski demikian, pilihan prioritas stabilitas dan dorongan pertumbuhan dalam kebijakan moneter akan mencetuskan dinamika di pasar keuangan, baik di Amerika Serikat maupun di negara berkembang, ditandai menguatnya indeks mata uang dollar DXY.
"Jika arah suku bunga masih wait and see untuk dapat dikonfirmasi melandai di beberapa negara besar, maka beberapa bank sentral masih akan menahan suku bunganya karena dampak tarif resiprokal dan inflasi rambatan dari kenaikan harga energi global masih tinggi," ucapnya.
Bagi Indonesia, momentum bank-bank sentral dalam menahan suku bunga acuan perlu dimanfaatkan sebaik mungkin, terutama dalam memperkuat nilai tukar rupiah di pasar keuangan, antara lain dengan menarik aliran modal portofolio ke dalam negeri. Josua menekankan bahwa faktor makroekonomi Indonesia saat ini masih sangat memungkinkan untuk Bank Indonesia melakukan keduanya secara simultan.
"Peringkat vulnerability score Indonesia masih lebih tinggi dari Argentina, Malaysia, dan Hong Kong. Artinya, dengan data-data makroekonomi yang masih cukup baik, variasi kebijakan internal Indonesia masih sangat memungkinkan untuk mengangkat rupiah yang saat ini melemah karena faktor undervalue, bukan faktor fundamental seperti krisis atau resesi," pungkas Josua.