Investor Startup Makin Selektif, Ini Sebabnya

Investor Startup Makin Selektif, Ini Sebabnya

Ketidakpastian ekonomi global dan krisis kepercayaan investor menjadi salah satu sebab penurunan drastis pendanaan startup di Indonesia

Investor Startup Makin Selektif, Ini Sebabnya
Dalam Artikel Ini

Ketidakpastian ekonomi global dan krisis kepercayaan investor menjadi salah satu sebab penurunan drastis pendanaan startup di Indonesia, demikian menurut pakar ekonomi digital.

Hal tersebut ditandai dengan semakin selektifnya para investor dalam memberikan pendanaan bagi startup teknologi.

Sementara itu, pengusaha menilai inovasi dan kemampuan teknologi digital Indonesia menjadi kunci bagi startup untuk menciptakan produk yang memiliki nilai tambah dan berdaya saing, sekaligus membuka pintu lebar demi menarik pendanaan investor dari dalam maupun luar negeri.

Pengamat ekonomi digital Alfons Tanujaya mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya nilai investasi tersebut, salah satu penyebabnya adalah naiknya suku bunga yang mengakibatkan arah investasi menjadi bergeser. Selain itu, kepercayaan investor terhadap bisnis startup Indonesia juga hancur akibat hal yang dilakukan oleh kalangan pelaku itu sendiri.

“Salah satunya adalah tingkat kepercayaan yang rendah dan data yang diberikan kepada investor ternyata banyak yang terindikasi fraud seperti kasus e-fishery. Jadi hal ini yang dominan membuat runtuhnya kepercayaan investor kepada startup Indonesia, selain faktor makro tersebut,” jelas Alfons.

Kondisi tersebut memaksa investor bersikap super selektif dan menuntut keterbukaan penuh sebelum menyuntikkan modal. Padahal, Indonesia dinilai memiliki potensi pendanaan domestik yang besar jika dikelola secara transparan dan bertanggung jawab.

“Sebenarnya Indonesia punya banyak uang, tapi dikelola dengan kacau, jadi kekuatannya hilang, harusnya memang kita tidak perlu bergantung pada dana dari asing, jadi itu harus diperbaiki,” tegasnya.

Berdasarkan data, nilai investasi sektor teknologi Indonesia merosot tajam dari puncaknya sebesar USD 7 miliar pada 2021 menjadi hanya USD 695 juta pada 2024, karena hantaman tech winter.

Momentum berbenah

Di sisi lain, para pelaku industri memandang ketatnya pendanaan sebagai momentum untuk berbenah.

Chief Executive Officer PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Hans Patuwo menilai tech winter bukan hambatan, melainkan dorongan bagi perusahaan rintisan untuk melahirkan inovasi yang berdaya saing tinggi.

“Tapi kalau kita lihat, walaupun di Asia ada fenomena tech winter, kami merasa keinginan untuk membuat startup dan berinovasi itu tetap ada. Harus diakui bahwa mungkin sekarang dibandingkan dahulu standarnya lebih tinggi,” kata Hans dalam Press Conference Road to Bali Tech Week 2026 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).

Sebagaimana diketahui, fenomena tech winter ini mulai terjadi pada tahun 2022 lalu, adapun pemicunya adalah kombinasi dari pengetatan ekonomi makro global dan koreksi strategi bisnis perusahaan teknologi setelah pandemi. 

Sebelum terjadi pandemi, perusahaan venture capital menyuntikkan dana kepada startup secara agresif. Namun, bank sentral dunia terutama The Fed yang menaikkan suku bunga secara drastis, investor pun lebih memilih untuk menaruh uang mereka di instrumen yang memiliki risiko lebih rendah.

Peluang investasi menurut Hans pun masih terbuka bagi perusahaan startup yang mampu menghadirkan inovasi baru dengan menawarkan keunikan teknologi, meskipun persaingan dalam menarik investasi kini lebih ketat.

“Jadi untuk startup-startup untuk benar-benar berinovasi dan menciptakan yang unik mungkin akan tetap ada pendanaan, dan kita juga lihat dalam beberapa bulan belakangan ini ada investasi baru ke dunia ekosistem startup di Indonesia,” lanjutnya.

Dengan demikian, fenomena tech winter tidak semestinya dipandang sebagai sebuah beban yang menghambat perkembangan industri, melainkan momentum untuk mendorong peningkatan inovasi. 

Pendanaan yang semakin selektif ini harus menjadi dorongan bagi pelaku usaha untuk tidak sekadar mengandalkan model bisnis yang sudah ada, tetapi juga mengembangkan teknologi baru yang berdaya saing tinggi.

“Itu bukan sesuatu yang kami khawatirkan, mungkin lebih bagaimana kita bisa meningkatkan inovasi dan kapabilitas teknis kita, bukan sekadar sebagai marketplace tapi murni menciptakan dan mengembangkan teknologi yang inovatif yang baru,” jelas Hans.

Pada tahun 2025, nilai gross merchandise value (GMV) ekosistem digital Indonesia di Asia tenggara tercatat sebesar USD 99 miliar, naik 14% dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka ini pun diproyeksikan akan terus tumbuh ke depannya hingga tahun 2030 yang diproyeksikan akan mencapai USD 180 miliar,  Meski demikian besarnya potensi dan modal yang dimiliki Indonesia, hal tersebut juga harus diiringi dengan penguatan investasi, infrastruktur, talenta, serta kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan pelaku industri.

Warga mengakses situs Logam Mulia di Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (9/10/2026). ANTARA FOTO/Abdan Syakura/wsj.

Penguatan ekosistem digital

Direktur Network PT Telkom Indonesia Tbk Budi Satria menegaskan, penguatan ekosistem digital ini juga perlu ditopang dengan kesiapan infrastruktur yang memadai demi menarik investasi. Ketersediaan infrastruktur yang andal pun menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.

“Kita terus mengembangkan infrastruktur di dalam negeri, baik itu kabel laut, fiber optik, data center, dan juga teknologi pendukung seperti cloud. Tentunya kita mengharapkan dukungan dari pemerintah untuk bagaimana menciptakan iklim yang kondusif bagi inovasi dan investasi dalam jangka panjang, karena kami bergerak di infrastruktur yang investasinya ini dalam jangka panjang,” ucap Budi.

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutya Hafid dalam Press Conference Road to Bali Tech Week 2026 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutya Hafid mengungkapkan, saat ini dalam membangun ekosistem digital dalam negeri, Indonesia tengah dihadapkan oleh dua hal, di antaranya adalah disrupsi teknologi dan juga pergerakan geopolitik yang dinamis.

“Keduanya ini membuat peluang bagi transformasi digital Indonesia meningkat, karena banyak negara-negara yang melihat Indonesia sebagai alternatif negara untuk menjadi tempat memberikan investasi,” kata Meutya.

Upaya memperkuat ekosistem digital dan menarik investasi ke sektor teknologi ini pun menjadi salah satu tujuan dari penyelenggaraan Bali Tech Week 2026. Ajang yang akan diselenggarakan pada 19-23 Oktober 2026 mendatang ini menjadi momentum demi mempertegas arah pengembangan industri teknologi Indonesia sekaligus memperkuat kepercayaan investor.

Melalui sejumlah agenda, pelaku startup lokal dapat bertemu secara langsung dengan investor dari dalam maupun luar negeri guna mendapatkan peluang pendanaan, salah satu contohnya adalah HUB.ID Summit yang dirancang untuk mempertemukan 80 venture capital dengan startup-startup Indonesia. 

“Indonesia membuka diri kepada berbagai inovasi dari dalam maupun luar negeri kepada investor dari dalam maupun legar negeri,” ujarnya.

Berlaku 1 November, Pajak E-Commerce Dinilai Masih Bebani UMKM
Bagi pedagang dengan margin tipis, potongan pajak e-commerce kian menggerus pendapatan nyata di tengah biaya operasional, promosi, dan potongan platform yang sudah tinggi

Pemerintah selain berupaya membuka peluang dalam menarik pendanaan asing, juga membuka diri mengenai regulasi. Para pelaku industri maupun akademisi didorong untuk memberikan masukan terhadap kebijakan dari pemerintah.

“Kita ingin mendapatkan masukan mengenai regulasi, jadi dengan masukan banyak pihak termasuk industri, regulasi yang kita keluarkan adalah regulasi yang tidak membuat kaget, yang terprediksi, sehingga investor bisa nyaman,” lanjutnya.

Nilai ekonomi digital Indonesia yang besar berikut juga dengan pertumbuhannya yang tinggi, dinilai sebagai modal besar untuk menuju pertumbuhan ekonomi 8% yang ditargetkan oleh pemerintah. Namun demikian, membangun kepercayaan dari para investor ini membutuhkan kolaborasi dengan banyak pihak.

“Indonesia siap menerima investasi maupun kerja sama dengan banyak pihak dalam kerangka memajukan infrastruktur digitalnya demi mendukung konektivitas,” tegasnya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)