Sinar Mas Land resmi merampungkan tahap akhir pembangunan gedung Medical Suites di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (ETKI) Banten atau di D-HUB Special Economic Zone (SEZ) di BSD City.
Hal ini menjadikan Medical Suites sebagai calon pusat layanan kesehatan berstandar internasional, termasuk untuk layanan medis, riset serta pendidikan kesehatan. Saat ini, pembangunannya telah memasuki tahap akhir, yang ditandai dengan seremoni penutupan atap atau topping off pada Jumat, 10 April 2026.
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, mengatakan pengembangan fasilitas ini merupakan bagian dari upaya strategis dalam mendorong transformasi ekonomi nasional, khususnya melalui penguatan sektor kesehatan.
"Momentum topping off ini mencerminkan kemajuan nyata dalam pembangunan kawasan berbasis inovasi yang diharapkan dapat memberikan dampak luas bagi perekonomian nasional. Saat ini, sektor kesehatan tidak lagi hanya dipandang sebagai layanan publik saja, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama ketika terintegrasi dengan teknologi dan pendidikan,” ujar Edwin dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (13/4).
Menurut dia, kegiatan ini menandai rampungnya tahap struktur utama pembangunan Gedung Medical Suites, sekaligus menjadi progres signifikan dalam penguatan ekosistem pelayanan kesehatan terintegrasi di KEK ETKI Banten yang ditargetkan mulai beroperasi pada September 2026.

Kawasan ini juga diharapkan mampu menarik investasi hingga Rp18,8 triliun serta menciptakan 13.446 lapangan kerja dalam kurun waktu 20 tahun. Pada lima tahun pertama, kawasan ini diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp1,5 triliun serta menghasilkan devisa hingga Rp4,2 triliun.
"Sejak ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2024 dan mulai beroperasi pada November 2025, KEK ETKI Banten terus menunjukkan capaian positif. Hingga Desember 2025, kawasan ini telah mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp1,9 triliun, melibatkan 14 pelaku usaha, serta menyerap 836 tenaga kerja," kata dia.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, pembangunan Gedung Medical Suites menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem layanan kesehatan di dalam kawasan.
Gedung ini dirancang dengan konsep sustainable building dan berdiri di atas lahan seluas 9.300 meter persegi dengan total luas bangunan mencapai 19.800 meter persegi. Bangunan ini terdiri atas dua tower, masing-masing setinggi enam lantai, dengan progres pembangunan yang hingga saat ini telah mencapai 59,57%
Pelayanan Kesehatan Modern
CEO Commercial BSD Sinar Mas Land Anna Budiman, menjelaskan pengembangan gedung ini turut memperhatikan kebutuhan pelayanan kesehatan modern dengan standar keselamatan yang tinggi.
Gedung ini dirancang untuk mendukung pelayanan kesehatan modern, dengan daya dukung lantai hingga 1 ton per meter persegi, memenuhi standar biosafety level 2, serta dilengkapi fasilitas seperti hazardous waste room dan non-toxic waste room sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap keselamatan dan keberlanjutan operasional.
Kombinasi fitur tersebut memastikan Medical Suites mampu mendukung kebutuhan beragam penyedia layanan kesehatan, penelitian, hingga pusat inovasi medis secara andal dan berstandar internasional.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti, menyampaikan bahwa kehadiran Gedung Medical Suites menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing kawasan, khususnya dalam menarik investasi di sektor kesehatan dengan harapan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya, setelah topping off ini, segera dilakukan operasional sehingga dapat memberikan kemanfaatan yang besar bagi masyarakat luas, serta mendorong peningkatan derajat kesehatan, baik bagi seluruh masyarakat Provinsi Banten pada khususnya maupun Indonesia pada umumnya,” ujar Ati.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama HIN/KEK Sanur Christine Hutabarat mengatakan PT Hotel Indonesia Natour/ HIN (InJourney Hospitality) yang merupakan Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur terus mendorong kemajuan sektor kesehatan dengan menjalin kemitraan dengan Alpha IVF Group (jaringan klinik fertilitas asal Malaysia) untuk membangun Center of Excellence Fertility di The Sanur, Bali.
Kerja sama ini diwujudkan melalui penandatanganan Land Lease Agreement (LLA) dengan PT Alpha IVF dan SPOG (Dokter Spesialis Obstetri dan dan Ginekologi) Bali (Aspoba), anak perusahaan dari Alpha IVF Group.
Kesepakatan tersebut menjadi tonggak penting dalam pembangunan pusat layanan kesehatan spesialis fertilitas berstandar internasional, di atas lahan seluas 6.343 meter persegi (m²) di kawasan The Sanur.
Christine menjelaskan, pusat layanan ini akan menghadirkan perawatan fertilitas komprehensif, termasuk program bayi tabung (IVF/In Vitro Fertilization atau bayi tabung), obstetri, ginekologi.
“Serta layanan kesehatan wanita dan anak secara menyeluruh,” ujar Christine kepada SUAR di Jakarta (13/4).
Christine juga menilai, kolaborasi ini menjadi langkah nyata perseroan dalam mendukung transformasi The Sanur, sebagai destinasi wisata kesehatan dan kebugaran kelas dunia.

Peran Strategis
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan memiliki peran strategis dalam memperkuat sistem pelayanan medis nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sektor kesehatan.
Kehadiran KEK kesehatan memungkinkan pembangunan fasilitas berstandar internasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia medis, serta transfer teknologi dari mitra global. Selain itu, KEK kesehatan juga dapat menekan devisa keluar akibat tingginya jumlah masyarakat yang berobat ke luar negeri, sekaligus membuka peluang masuknya wisatawan medis (medical tourism) ke Indonesia.
“Dengan ekosistem yang terintegrasi mulai dari rumah sakit, pusat riset, hingga industri farmasi KEK kesehatan menjadi katalis penting dalam meningkatkan daya saing sektor kesehatan nasional,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (13/4).
Untuk mendorong pengembangannya, diperlukan sinergi kuat antara pemerintah, swasta, dan investor global melalui penyederhanaan regulasi, pemberian insentif fiskal, serta kepastian hukum yang jelas.
Pemerintah juga perlu memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, seperti akses transportasi, digitalisasi layanan, dan konektivitas antar fasilitas kesehatan. Di sisi lain, penguatan kualitas tenaga kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan berstandar internasional menjadi kunci agar layanan yang diberikan mampu bersaing secara global.