Berbaur di lingkungan kerja, seorang karyawan kadang merasa perlu menonjolkan peran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Melakukan koordinasi dengan divisi pemasaran, ia yang berasal dari divisi produksi misalnya, harus paham bagaimana berbincang dengan optimis. Begitu juga saat berinteraksi dengan divisi keuangan, dengan bagian HRD, atau atasan, bahkan kolega atau bawahannya. .
Bayangkan seorang karyawan harus memiliki skill komunikasi yang berbeda, sesuai dengan ruangan yang dimasuki. Ia merasa perlu menyesuaikan intonasi nada, pilihan kata, gestur bahkan mimik wajah. Ia harus selalu siap memakai topeng berbeda, setiap kali berhadapan dengan bagian lain dari kantornya.
Fenomena seperti ini memang belum tentu ada di setiap institusi pencari laba.Tergantung budaya yang dibangun. Namun, jika ada kecenderungan personal seperti ini, maka bisa dipastikan seorang karyawan yang terlanjur melakukan hal ini akan merasa kelelahan, secara fisik maupun psikis. Ia akan mengalami burnout.
Situasi seperti ini dalam psikologi dikenal dengan beberapa istilah yang saling beririsan. Seperti social camouflaging, atau masking. Sedang pakar sosiolog Amerika, Erving Goffman mengajukan konsep impression management.
Dalam konteks klinis, istilah masking sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana individu—terutama dalam spektrum neurodiversity—menyesuaikan perilaku agar terlihat sesuai norma sosial.
Perangai seperti ini menjadi strategi adaptasi sosial, sekaligus mekanisme bertahan dalam struktur hierarki dan relasi kuasa.
Namun di dunia kerja, fenomena ini jadi meluas, karena perangai seperti ini menjadi strategi adaptasi sosial, sekaligus mekanisme bertahan dalam struktur hierarki dan relasi kuasa. Dalam bahasa psikologi sosial, ini bukan semata kepalsuan—melainkan bentuk code-switching interpersonal dan regulasi diri.
Erving Goffman melihatnya sebagai kecenderungan yang mengubah kehidupan sosial menjadi panggung, dan setiap orang memainkan perannya masing-masing sesuai situasi. Ada “front stage”, tempat ia menampilkan diri yang sudah dikurasi, dan “back stage”, tempat identitas yang lebih autentik beristirahat. Masking adalah seni mengelola keduanya—kadang halus, kadang menggelegak layaknya air mendidih.
Fenomena ini menjadi lebih problematik jika ditinjau dari filsafat eksistensial. Jean-Paul Sartre menyebut kondisi ketika seseorang hidup dalam peran-peran sosial tanpa kesadaran autentik sebagai bad faith (mauvaise foi). Individu tidak lagi menjadi dirinya, melainkan menjadi apa yang diharapkan lingkungan.
Sementara Friedrich Nietzsche melihat manusia sebagai makhluk yang terus membangun topeng—mask—bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Dalam pandangannya, topeng bukan selalu negatif, ia bisa menjadi alat untuk bertahan dalam dunia yang keras.
Namun masalah muncul ketika topeng itu menggantikan wajah asli.Karenanya ada paradoks di sini. DImana tanpa masking, seseorang bisa dianggap tidak profesional atau tidak adaptif. Sementara, dengan masking berlebihan, seseorang kehilangan kontinuitas identitas dirinya.
Secara psikologis dan sosiologis, ada beberapa dorongan utama: yang membuat seseorang berperilaku seperti ini. Bisa karena struktur organisasi yang menciptakan ekspektasi perilaku berbeda tergantung posisi. Mau tak mau individu menyesuaikan diri untuk menghindari konflik atau mendapatkan legitimasi.
Masking juga menjadi alat untuk menghindari penolakan atau stigma. Lebih jauh, beberapa individu menggunakan masking sebagai bentuk defense mechanism untuk menyembunyikan kecemasan, ketidakpercayaan diri, atau kerentanan.
Masking yang berlangsung terus-menerus bukan tanpa konsekuensi. Secara psikis bisa memicu kelelahan emosional (emotional exhaustion), disonansi identitas (merasa tidak menjadi diri sendiri), dan kecemasan sosial kronis hingga burnout dalam jangka panjang.
Ia juga bisa membuat kualitas fisik menurun. Terjadi gangguan tidur, ketegangan otot karena kontrol ekspresi tubuh yang terus-menerus, hingga menyebabkan penurunan sistem imun akibat stres berkepanjangan.
Secara neuropsikologis, masking menguras cognitive load karena otak terus melakukan simulasi sosial untuk memilih sikap yang sesuai di depan orang yang berbeda latar belakang.
Namun, meski bisa berdampak merusak, masking tidak selalu buruk. Dalam batas tertentu, masking adalah bagian dari kecerdasan sosial. Tanpa kemampuan ini, interaksi profesional bisa menjadi kaku atau bahkan memicu konflik.
Karenanya, problema masking bukan pada perilakunya itu sendiri, melainkan pada intensitas yang terlalu sering dan ekstrem, sehingga terjadi ketergantungan, hingga memicu kehilangan identitas diri sendiri.
Dari hal-hal tersebut pendekatan yang perlu dilakukan adalah mengelolanya secara sadar. Penggunaan masking disaat yang tepat. Ini ini penting untuk menjaga kontinuitas identitas.
Jika memang tidak bisa dihindari dengan menerapkan skala prioritas, maka perlu mencari lingkungan atau relasi kerja di mana seseorang tidak perlu sepenuhnya bertopeng.
Alih-alih memiliki banyak persona, seorang karyawan perlu diarahkan untuk menyatukan nilai inti yang konsisten di berbagai situasi. Perusahaan juga punya peran untuk membangun budaya kerja yang tepat. Jika terlalu performatif, akan mendorong masking berlebihan.
Sebagai akhir kalimat, masking di tempat kerja adalah fenomena yang berada di antara adaptasi dan alienasi. Ia bisa menjadi alat kecerdasan sosial, tetapi juga jebakan eksistensial. Seperti yang disebutkan Friedrich Nietzsche, manusia mungkin membutuhkan topeng—namun bukan untuk melupakan wajahnya, siapa dirinya sesungguhnya.