Ketika yang Berkuasa adalah Pengakuan

Saat ada orang di organisasi, ingin selalu mendapatkan nomor antri pertama, berkuasa, disitulah organisasi harus memilih keutuhan untuk mencapai tujuan bersama. 

Punya rekan kantor yang cenderung narsis, tentu bisa dimaklumi. Namun bagaimana jika ada teman secara konsisten menempatkan dirinya, pekerjaannya, pendapatnya, atau kebutuhannya sebagai sesuatu yang harus selalu diprioritaskan.

Ia merasa pesannya harus segera dibalas. Permintaannya harus didahulukan. Agendanya dianggap lebih mendesak dibanding agenda orang lain. Ketika tidak mendapatkan prioritas tersebut, ia merasa diabaikan, tidak dihormati, atau bahkan diperlakukan tidak adil.

Dalam diskusi perilaku organisasi, fenomena ini mulai dikenal dengan istilah weaponized importance. Istilah ini memang belum menjadi konsep formal dalam psikologi sebagaimana weaponized incompetence, namun semakin sering digunakan untuk menggambarkan perilaku individu yang menjadikan persepsi tentang pentingnya dirinya sebagai alat untuk memperoleh pengaruh, perhatian, dan kontrol.

Fenomena ini menarik karena sering kali tersembunyi di balik bahasa profesional, semangat kerja, atau bahkan klaim kepedulian terhadap organisasi. Padahal, jika tidak disadari, ia dapat menjadi sumber ketegangan yang merusak kolaborasi dan kesehatan budaya kerja.

Pada dasarnya, setiap pekerjaan memiliki tingkat prioritas yang berbeda. Setiap individu juga memiliki kebutuhan untuk dihargai dan diakui kontribusinya. Masalah muncul ketika kebutuhan tersebut berubah menjadi tuntutan yang harus selalu dipenuhi.

Dalam kondisi seperti itu, urgensi tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan organisasi, melainkan oleh persepsi pribadi. Akibatnya, muncul distorsi prioritas. Yang paling penting bukan lagi pekerjaan yang paling berdampak, tetapi pekerjaan yang berasal dari orang yang paling mampu memaksakan rasa pentingnya.

Weaponized importance jarang muncul secara terang-terangan. Ia biasanya hadir dalam bentuk kebiasaan sehari-hari yang lama-kelamaan dianggap normal. Misalnya, seorang rekan kerja yang selalu menandai pekerjaannya sebagai "urgent", meskipun urgensinya tidak berbeda dengan pekerjaan lain.

Dalam banyak kasus, perilaku ini tidak disadari oleh pelakunya sendiri. Mereka sungguh percaya bahwa apa yang mereka lakukan memang layak mendapat perlakuan khusus.

Ada beberapa faktor yang mendorong lahirnya weaponized importance. Pertama adalah ego yang tidak pernah diuji. Seseorang yang sepanjang hidupnya selalu mendapatkan validasi, tanpa pernah menerima koreksi, cenderung mengembangkan keyakinan bahwa kebutuhannya memang lebih penting daripada kebutuhan orang lain.

Kedua adalah budaya organisasi yang terlalu berpusat pada individu. Ketika perusahaan lebih menghargai figur dibanding sistem, maka individu tertentu dapat mengembangkan perasaan bahwa organisasi bergantung pada dirinya.

Ketiga adalah ketidakamanan psikologis.Paradoksnya, banyak perilaku dominan justru lahir dari rasa tidak aman. Individu yang terus menuntut pengakuan sering kali sedang berusaha menutupi keraguan terhadap nilai dirinya sendiri.

Keempat adalah budaya kerja yang mengagungkan kesibukan. Dalam banyak organisasi, sibuk sering disamakan dengan penting. Semakin terlihat sibuk, semakin dianggap berkontribusi. Akibatnya, sebagian orang berlomba menunjukkan bahwa pekerjaannya paling mendesak dan paling menentukan.

Dalam ranah filosofi, sejarawan dan filsuf Amerika kelahiran Jerman, Hannah Arendt menekankan pentingnya ruang publik yang memungkinkan manusia hidup dan bekerja bersama secara setara.

Weaponized importance mengganggu ruang tersebut karena menciptakan hierarki psikologis yang tidak sehat.  Diskusi tidak lagi didasarkan pada kualitas argumen, keputusan tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan bersama. Segala sesuatu berputar di sekitar siapa yang paling berhasil menuntut perhatian. Dalam kondisi seperti itu, organisasi kehilangan kemampuan untuk berpikir secara kolektif.

Sedangkan filsuf genre Stoik, Epictetus mengajarkan, manusia sebaiknya tidak menggantungkan ketenangan hidup pada hal-hal yang berada di luar kendalinya. Salah satu hal yang berada di luar kendali adalah pengakuan orang lain.

Weaponized importance justru lahir dari ketergantungan berlebihan terhadap pengakuan eksternal. Semakin seseorang membutuhkan validasi, semakin ia terdorong memaksa lingkungan untuk terus mengonfirmasi pentingnya dirinya.  Akibatnya, hidup profesional menjadi rentan terhadap kekecewaan dan konflik.

white and brown house on brown textile
Photo by Chiara F / Unsplash

Pada tahap awal, perilaku ini mungkin terlihat sepele.Namun dalam jangka panjang, dampaknya sangat serius. Seperti terjadi distorsi prioritas. Pekerjaan yang paling mendesak tidak selalu mendapatkan perhatian. Yang mendapatkan perhatian adalah pekerjaan yang berasal dari individu paling dominan.

Lalu muncul kelelahan emosional. Rekan kerja harus terus menyesuaikan diri dengan tuntutan seseorang yang selalu ingin diprioritaskan. Bahkan memicu menurunnya rasa psychological safety. Orang mulai enggan menyampaikan pendapat yang berbeda, karena khawatir dianggap tidak mendukung atau tidak menghormati pihak tertentu.

Mengatasi weaponized importance tidak cukup dilakukan melalui pelatihan komunikasi. Masalah ini berkaitan dengan budaya organisasi. Karenanya, perusahaan perlu membangun sistem prioritas yang objektif. Keputusan harus didasarkan pada kebutuhan organisasi, bukan pada siapa yang paling vokal.

Pemimpin juga harus membedakan antara urgensi dan volume suara. Tidak semua yang terdengar mendesak benar-benar penting. Di sisi lain, budaya umpan balik perlu diperkuat. Individu yang cenderung memonopoli perhatian perlu mendapatkan refleksi yang jujur mengenai dampak perilakunya terhadap tim.

Organisasi juga perlu menghargai kontribusi kolektif dibanding kultus individu. Semakin besar ketergantungan pada figur tertentu, semakin besar peluang munculnya weaponized importance.

Karenanya, weaponized importance adalah salah satu gejala sosial yang semakin relevan di lingkungan kerja modern. Ia lahir ketika kebutuhan manusia untuk dihargai berubah menjadi kebutuhan untuk selalu diprioritaskan.

Fenomena ini jarang menciptakan konflik besar yang langsung terlihat. Namun ia perlahan menggeser orientasi organisasi, dari tujuan bersama menuju pemeliharaan ego individu.

Pada akhirnya, organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang dipenuhi orang-orang yang merasa paling penting. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kebutuhan setiap individu untuk selalu menjadi pusat perhatian.

Baca selengkapnya