Ringkasan Eksekutif: Menjaga Pasar Modal Tetap Prudent
Otoritas keuangan di Indonesia menggulirkan berbagai langkah reformasi sektor pasar modal yang pada akhir Januari lalu mengalami guncangan hebat hingga merontokkan indeks saham sampai turun 8%.
Otoritas keuangan di Indonesia menggulirkan berbagai langkah reformasi sektor pasar modal yang pada akhir Januari lalu mengalami guncangan hebat hingga merontokkan indeks saham sampai turun 8%.
Setelah sederet langkah perbaikan pasca bursa terguncang, pada Kamis, 29 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka membaik pada Jumat pagi, 30 Januari 2026. Namun pada hari itu juga, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan pengunduran dirinya.
Gelombang pengunduran diri berlanjut di hari yang sama. Jajaran pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan ikut mengundurkan diri dari jabatannya masing-masing sebagai bentuk tanggung jawab atas anjloknya IHSG menjadi yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah OJK berdiri.
Drama pengunduran diri para pucuk pimpinan sektor keuangan ini disinyalir tidak dapat dilepaskan dari dinamika kebijakan investasi sektor jasa keuangan, khususnya terkait perluasan porsi investasi ke pasar saham.
Di mana pihak eksekutif menginginkan perubahan porsi besar-besaran asuransi dan jasa keuangan dalam investasi di saham. Di sisi lain, ada kabar gonjang-ganjing dunia saham juga diboncengi keinginan salah satu politisi yang mengincar kursi Ketua Dewan Komisioner OJK.
Pemerintah juga berencana mempercepat demutualisasi Bursa Efek Indonesia. Proses demutualisasi ditargetkan mulai berjalan tahun ini, dengan landasan hukum yang sudah tersedia dalam UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Gejolak di pasar modal sepanjang sepekan akhir Januari 2026 mendorong pemerintah, regulator, dan pengelola bursa merumuskan langkah korektif guna memperkuat integritas bursa efek.
Otoritas sektor keuangan juga sudah menyiapkan delapan rencana aksi untuk mempercepat reformasi integritas bursa saham di Indonesia. Pejabat Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan delapan jurus itu adalah bentuk komitmen memperkuat reformasi struktural pasar modal.
“Delapan rencana aksi yang kami susun, ini kami kelompokkan menjadi 4 kluster, yang pertama adalah untuk kebijakan baru free float, kemudian yang kedua adalah untuk transparansi, kemudian kluster tata kelola dan enforcement, dan juga sinergitas,” katanya.
Berikut delapan rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia: