Gelombang aksi pembelian kembali saham (buyback) oleh sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang Maret 2026, digadang-gadang menjadi salah satu penopang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan volatilitas global. Mampukah rentetan buyback dari emiten ini bisa mendongrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan perdana pasca libur Lebaran, Rabu (25/3/2026)?
Langkah ini dilakukan oleh sejumlah perusahaan seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), hingga PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) guna menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan likuiditas saham.
ASII tengah menjalankan periode buyback kedua tahun ini sejak 16 Maret hingga 15 Juni 2026. Sebelumnya, pada periode 19 Januari hingga 25 Februari 2026, perseroan telah merealisasikan sekitar 34% dari total alokasi Rp2 triliun atau setara Rp684 miliar. Aksi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam menjaga pergerakan harga saham di pasar.
Rencana serupa juga disiapkan GOOD yang akan meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 23 April 2026. Perseroan menargetkan pembelian kembali hingga 143,31 juta saham atau sekitar 0,39% dari modal disetor, dengan dana Rp50 miliar yang bersumber dari kas internal. Pelaksanaan buyback dijadwalkan berlangsung paling lama 12 bulan setelah persetujuan diperoleh.
Direksi GOOD dalam keterangannya menyatakan bahwa pertimbangan utama Perseroan melakukan Pembelian Kembali Saham adalah agar perseroan dapat memiliki fleksibilitas yang memungkinkan Perseroan memiliki mekanisme menjaga stabilitas harga saham jika harga saham Perseroan tidak mencerminkan nilai/kinerja perseroan.
Sementara itu, Bank Mandiri (BMRI) menyiapkan dana maksimal Rp1,17 triliun untuk aksi buyback yang mencakup saham tercatat di BEI.
“Biaya buyback direncanakan sebesar-besarnya Rp 1.170.000.000.000 (satu triliun seratus tujuh puluh miliar rupiah) yang berasal dari kas internal perseroan, termasuk biaya transaksi pembelian kembali (biaya komisi perantara pedagang efek dan biaya lainnya),” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Rabu (18/3/2026) lalu.
Di sisi lain, ADRO juga mengumumkan rencana buyback hingga Rp4 triliun, dengan batas maksimal tidak melebihi 10% dari modal ditempatkan.
Terkait buyback, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya telah mengingatkan perusahaan terbuka agar pelaksanaan buyback tetap memperhatikan ketentuan batas minimal saham publik (free float) yang akan ditingkatkan menjadi 15 persen.
Saat masih menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, pernah mengatakan bahwa perusahaan tetap dapat memanfaatkan izin buyback yang saat ini berlaku. Namun, emiten diminta mulai memperhitungkan dampaknya terhadap komposisi kepemilikan saham ke depan, khususnya terkait pemenuhan batas free float.
“Aturan buyback mengacu kepada izin untuk melakukan buyback. Nanti tentu pada saatnya setelah peraturan terkeluar, dia harus mengikuti timeline pemenuhan yang 15%,” ujar Hasan, Kamis (5/2/2026) silam.
Buyback ramai, tapi bukan penyelamat IHSG
Aksi buyback oleh emiten dinilai tidak secara langsung ditujukan untuk menopang IHSG, melainkan sebagai keputusan alokasi modal perusahaan berdasarkan pertimbangan valuasi dan imbal hasil. Di tengah tekanan pasar regional dan global, langkah ini lebih mencerminkan strategi korporasi ketimbang instrumen penahan penurunan indeks.
Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, mengatakan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih dipengaruhi sentimen eksternal, sehingga buyback tidak dapat dijadikan indikator utama untuk memprediksi pergerakan indeks harian.
“Sentimen regionalnya itu masih buruk, tekanan itu masih akan menggelayuti IHSG besok gitu ya. Jadi mungkin cenderung akan melemah,” ujar Deni kepada SUAR, Selasa (24/3/2026).
Menurut Deni, buyback merupakan salah satu opsi penggunaan laba perusahaan selain ekspansi dan pembagian dividen. Keputusan tersebut diambil manajemen dengan mempertimbangkan manfaat optimal bagi perusahaan dan pemegang saham, bukan untuk menjaga pergerakan harga di pasar.
“Buyback itu kan sebenarnya dari return earning itu ada tiga pilihan. Pertama untuk ekspansi, kedua untuk bagi dividen, ketiga untuk buyback,” kata dia.
Ia menegaskan, manajemen perusahaan tidak memiliki kewajiban untuk mempertahankan harga saham di pasar. Fokus utama adalah memastikan alokasi modal menghasilkan imbal hasil terbaik.
Deni menambahkan, buyback umumnya dilakukan ketika harga saham dinilai berada di bawah nilai wajar atau relatif murah. Dalam kondisi tersebut, pembelian kembali saham menjadi opsi yang lebih menguntungkan dibandingkan alternatif lainnya. Sebaliknya, jika valuasi masih tinggi, langkah buyback tidak selalu menjadi pilihan utama.
Terkait dampaknya terhadap pasar, ia menilai buyback tidak dirancang untuk menjaga psikologi investor maupun menggerakkan indeks secara langsung. Pergerakan IHSG lebih banyak dipengaruhi saham berkapitalisasi besar dan aktivitas pelaku pasar seperti manajer investasi.
“Kalau pergerakan indeks itu lebih ke misalnya saham-saham kapitalisasi besar,” imbuhnya.
Dari sisi likuiditas, kemampuan emiten untuk melakukan buyback juga bervariasi. Emiten dengan free float yang terbatas akan memiliki ruang yang lebih sempit untuk melakukan aksi tersebut. Selain itu, kondisi pasar yang melemah cenderung membuat volume transaksi menurun sehingga ketersediaan saham di pasar menjadi lebih terbatas.
“Untuk yang free float-nya masih besar dia masih punya ruang, tapi kalau free float-nya udah kecil ya dia jumlahnya juga udah kecil kapan lagi dia buyback,” ujar Deni.
Di luar buyback, faktor eksternal seperti dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi global, serta respons kebijakan fiskal domestik, tetap menjadi penentu utama arah IHSG dalam jangka pendek.
Usai libur, IHSG siap hadapi sentimen global
Selain rentetan aksi buyback, Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kembali dibuka usai libur Lebaran pada Rabu (25/3/2026) diperkirakan langsung diwarnai tekanan, seiring akumulasi sentimen negatif global selama periode libur.
IHSG berpotensi mengalami koreksi pada awal sesi akibat penyesuaian terhadap pergerakan bursa internasional yang telah lebih dulu melemah.
Managing Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan arah pembukaan IHSG tidak lepas dari kondisi pasar global yang didominasi sentimen risk-off. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik terkait Iran dan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor global cenderung menghindari aset berisiko.
Menurut dia, selama libur Lebaran, pasar global sempat mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, terutama dari kawasan Selat Hormuz. Harga minyak sempat melonjak tajam sebelum akhirnya terkoreksi setelah muncul sinyal diplomasi.
“Berita diplomasi mendadak ini langsung memicu pembalikan sebagian sentimen risk-off menjadi risk-on, yang ditandai dengan jatuhnya harga minyak mentah dan reli di bursa Wall Street,” kata Harry pada SUAR.
Baca juga:

Meski terdapat perbaikan sentimen global dalam jangka pendek, Harry menilai IHSG tetap akan menghadapi tekanan awal saat pembukaan perdagangan. Hal ini disebabkan oleh mekanisme price-in, di mana pasar domestik menyesuaikan diri terhadap pergerakan global yang terjadi selama libur.
“IHSG diperkirakan akan langsung menghadapi tekanan jual (price-in) mengikuti koreksi bursa global selama libur Lebaran. Support psikologis berada di area 6.745–6.887,” kata dia.
Selain faktor global, tekanan juga dapat datang dari potensi arus keluar modal asing, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan imbal hasil obligasi global yang meningkatkan risk premium. Kondisi ini berpotensi menekan minat investor terhadap pasar saham domestik pada awal perdagangan.
Namun demikian, pasar saham Indonesia dinilai masih memiliki penopang dari sisi domestik. Stabilitas pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang relatif terkendali menjadi faktor yang menjaga daya tahan IHSG. Selain itu, peran investor domestik yang semakin dominan dalam beberapa tahun terakhir turut membantu meredam volatilitas.
Harry menambahkan, peluang penguatan jangka pendek tetap terbuka apabila terdapat perkembangan positif dari sisi geopolitik menjelang pembukaan pasar, yang dapat mendorong perubahan sentimen menjadi lebih kondusif.