Kekuasaan, kadang menghadirkan pihak-pihak yang ingin dekat kepadanya, tanpa membawa kualifikasi diri yang signifikan. Disinilah para penjilat menampakkan diri. Ia meraih pangkat, jabatan, dan kedudukan, bukan karena kemampuan yang sesungguhnya, tapi karena hasil dari cari muka.
Kehadiran bawahan yang suka menjilat, juga bisa ditemukan dalam organisasi-organisasi perusahaan. Dalam sejarahnya, tidak sedikit perusahaan justru melemah dari dalam, akibat perilaku seperti ini. Penyebabnya bukan selalu karena kurangnya talenta atau strategi, melainkan karena perusahaan tidak menemukan keputusan yang jernih, semua diputuskan akibat asas asal bapak senang.
Di titik inilah, fenomena sycophant menemukan ruang hidupnya. Sycophant adalah individu yang secara konsisten memuji, membenarkan, atau mengikuti pendapat atasan demi memperoleh keuntungan pribadi, bukan karena keyakinan bahwa pendapat tersebut benar.
Dalam dunia kerja modern, perilaku ini tidak selalu tampil secara vulgar. Ia dapat hadir dalam bentuk persetujuan yang berlebihan, diam terhadap keputusan yang keliru, hingga budaya rapat di mana semua orang terlihat sepakat padahal banyak yang sebenarnya menyimpan keraguan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan etika individu. Ia adalah gejala filosofis tentang bagaimana manusia berpolitik dengan memanipulasi kebenaran, ketika kekuasaan hadir di hadapannya.
Bahaya terbesar bagi seorang pemimpin adalah dikelilingi oleh orang-orang yang hanya mengatakan apa yang ingin didengarnya -Plato
Filsuf Yunani, Plato, sejak lama mengingatkan bahwa salah satu bahaya terbesar bagi seorang pemimpin adalah dikelilingi oleh orang-orang yang hanya mengatakan apa yang ingin didengarnya. Plato menekankan bahwa, pemimpin membutuhkan sahabat yang mampu mengoreksi, bukan sekadar mengagumi. Tanpa kritik, kekuasaan kehilangan cermin untuk melihat dirinya sendiri.
Pandangan itu lalu diperdalam oleh Michel Foucault melalui konsep parrhesia, yaitu keberanian mengatakan kebenaran, meskipun mengandung risiko pribadi. Menurut Foucault, masyarakat atau organisasi yang sehat adalah organisasi yang memberi ruang bagi keberanian berbicara secara jujur. Sebaliknya, ketika hanya pujian yang boleh terdengar, kekuasaan berubah menjadi ruang yang menyingkirkan kebenaran.
Masyarakat atau organisasi yang sehat adalah organisasi yang memberi ruang bagi keberanian berbicara secara jujur. -Michel Foucault
Karena itu, ada titik dimana diperlukan lawan dari sycophancy. Ia bukan kritik yang kasar, melainkan keberanian menyampaikan fakta secara bertanggung jawab.
Fenomena ini tidak selalu lahir dari karakter pribadi. Sering kali ia merupakan hasil dari desain organisasi. Pemikir politik asal Inggris, Thomas Hobbes pernah menggambarkan bahwa manusia secara alamiah terdorong mempertahankan dirinya. Dalam lingkungan kerja yang penuh ketidakpastian, sebagian orang memilih strategi yang paling aman, dengan mengikuti arus kekuasaan.
Dan salah satu dampak paling berbahaya dari budaya sycophant adalah hilangnya informasi penting. Psikolog organisasi menyebut fenomena ini sebagai employee silence, yaitu kondisi ketika karyawan memilih diam, meskipun mengetahui adanya masalah.
Diam bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa berbicara tidak akan mengubah apa pun atau bahkan membahayakan karier mereka. Akibatnya, perusahaan kehilangan sistem peringatan dini. Risiko operasional, penyimpangan etika, hingga peluang inovasi tidak pernah sampai ke meja pengambil keputusan.
Secara jangka pendek, kehadiran para pencari muka mungkin terlihat positif. Mereka menciptakan suasana kerja yang tampak harmonis. Konflik berkurang, keputusan cepat diambil, dan pemimpin merasa didukung penuh.
Namun harmoni semacam itu sering kali jadi ilusi. Ketika tidak ada yang berani mengoreksi, keputusan yang lemah tidak pernah diuji. Kesalahan kecil berkembang menjadi kegagalan besar, karena tidak ada mekanisme koreksi sejak awal.
Penyakit ini juga memicu matinya inovasi. Karena ide-ide baru seharusnya lahir dari perbedaan pendapat. Jika seluruh rapat hanya berisi persetujuan, organisasi kehilangan kemampuan berpikir alternatif. Kreativitas digantikan oleh kepatuhan.
Beberapa gejala juga memicu rusaknya sistem meritokrasi. Prestasi tidak lagi menjadi ukuran utama. Yang lebih menentukan adalah kemampuan membaca selera atasan.
Akibatnya, karyawan kompeten kehilangan motivasi karena melihat penghargaan lebih banyak diberikan kepada mereka yang pandai menyenangkan pemimpin, daripada mereka yang menghasilkan karya terbaik.
Dalam jangka panjang, budaya ini menciptakan organisasi yang tampak kuat dari luar, tetapi rapuh di dalam.
Jika dikembalikan kepada pendekatan kekuasaan dan organisasi, maka kepemimpinan yang sehat bukanlah kekuasaan yang selalu dipuji, melainkan yang bersedia dikoreksi.
Sebab, sebagaimana diisyaratkan Plato lebih dari dua ribu tahun lalu, seorang pemimpin tidak membutuhkan lebih banyak pengagum. Ia membutuhkan lebih banyak orang yang cukup berani untuk mengatakan, "Keputusan ini perlu dipikirkan kembali."
Pada akhirnya, sycophancy bukan sekadar penyakit hubungan kerja. Ia adalah penyakit organisasi yang perlahan mengikis daya pikir, integritas, dan kemampuan bertahan sebuah perusahaan. Ketika pujian menjadi mata uang utama dan kejujuran kehilangan nilainya, maka yang sesungguhnya sedang mengalami kemunduran, bukan hanya budaya perusahaan, tapi juga kualitas kepemimpinan itu sendiri.