Nilai Tukar Petani Meningkat, Modernisasi Pertanian Jaga Kesejahteraan

Nilai Tukar Petani Meningkat, Modernisasi Pertanian Jaga Kesejahteraan

Peningkatan kesejahteraan petani harus diikuti dengan modernisasi pertanian agar produktivitas dan daya saing sektor pangan nasional semakin kuat. 

Nilai Tukar Petani Meningkat, Modernisasi Pertanian Jaga Kesejahteraan
Dalam Artikel Ini

Kenaikan nilai tukar petani (NTP) menjadi sinyal positif bagi perbaikan kesejahteraan petani di tengah tantangan sektor pertanian mulai dari perubahan iklim, kenaikan biaya produksi, hingga keterbatasan produktivitas. Peningkatan ini pun harus diikuti dengan modernisasi agar produktivitas dan daya saing sektor pangan nasional semakin kuat. 

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), NTP nasional pada bulan Oktober 2026 naik 1,13% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 132,60.

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sudaryono dalam Opening Ceremony & Nusantara Agrifuture Summit di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Rabu (04/11/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sudaryono mengatakan, perbaikan kesejahteraan petani ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam meningkatkan harga jual hasil panen dan juga menurunkan harga pupuk bersubsidi.

“Kalau NTP itu 100 artinya yang dia hasilkan dari bertani itu habis untuk biaya hidup dia, kalau di bawah 100 artinya dia bertani tidak cukup untuk menghidupi dirinya sehingga dia harus bekerja selain dari bertani,” kata Sudaryono di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Rabu (04/11/2026). 

Kenaikan NTP Ini terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani mengalami kenaikan sebesar 1,55%, lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani yang berada di angka 0,41%. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nasional pada bulan Oktober juga mengalami peningkatan sebesar 1,36% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 137,54. 

Kenaikan kesejahteraan petani ini juga harus berjalan beriringan dengan upaya pemerintah untuk mencapai swasembada pangan. Sudaryono menjelaskan, saat ini Indonesia telah mencapai swasembada untuk sejumlah komoditas seperti beras, daging ayam, telur, cabai, hingga bawah merah. Sementara komoditas susu, daging sapi, dan juga bawah putih belum swasembada.

Sementara itu, pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai, perbaikan NTP ini menjadi perkembangan yang positif. Sebab, setelah bertahun-tahun sebelumnya, kesejahteraan petani cenderung tertekan.

“Nilai tukar petani yang terus membaik setelah harga gabah dinaikkan jadi Rp6.500 per kilogram menjadi sinyal positif dari sisi rasio harga. Karena selama dua dekade sebelumnya, NTP pangan rendah, nyaris digaris break even point bahkan tak jarang NTP pangan di bawah 100 alias merugi,” ucap Eliza.

Kesejahteraan Petani di Daerah

Gubernur Banten Andra Soni menjelaskan, perbaikan NTP secara nasional juga tercermin di sejumlah daerah termasuk Banten. Meski demikian, kondisi kesejahteraan petani di setiap subsektor masih menunjukkan dinamika yang berbeda.

“Nilai tukar petani di Banten pada September 2026 mencapai 114, naik 0,88% dibandingkan Agustus 2026. Nilai tukar petani pada subsektor peternakan pada September tercatat 95,78, naik dari bulan Agustus,  ini disebabkan fluktuasi harga pakan,” ujarnya.

Pada tahun 2025, luas panen padi di Banten mencapai sekitar 345 ribu hektare, dengan produksi 1,01 juta ton beras, sehingga Banten termasuk 8 besar provinsi penghasil padi nasional. Pada Januari hingga Oktober 2026, produksi padi Banten mencapai 1,7 juta ton di tengah tantangan kemarau panjang. 

Baca juga:

Lapangan Usaha Pertanian Bergerak Cepat Dalam 2 Tahun Era Prabowo
Reformasi tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi dan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jadi pendorong pertumbuhan pertanian dalam dua tahun terakhir.

Transformasi pertanian pun diperlukan agar sektor pertanian ini menjadi sektor ekonomi modern. Pertanian menurutnya tidak cukup apabila dipandang sebagai aktivitas produksi di pedesaan saja, tetapi harus menjadi sektor ekonomi yang modern dan mampu menarik investasi. 

“Perlu modernisasi produksi dari hulu hingga hilir, integrasi pertanian hingga peternakan dalam satu ekosistem, penguatan infrastruktur logistik pangan, investasi dan kemitraan industri yang berpihak pada petani dan peternak, dan regenerasi petani agar generasi muda melihat pertanian sebagai usaha modern yang menjanjikan,” kata Andra.

Salah satu drone pertanian yang dipamerkan pelaku industri di Indogritech 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Rabu (04/11/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Modernisasi Pertanian

Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian Arief Rachman mengatakan, mekanisasi pertanian saat ini semakin penting dalam meningkatkan produktivitas pangan yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani.

Mekanisasi ataupun modernisasi pertanian ini juga sudah didorong untuk dilakukan sepanjang rantai nilai pertanian dari hulu hingga pascapanen. Pada saat penanaman dengan menggunakan mesin, proses menjadi lebih cepat dan seragam, begitu juga untuk pemeliharaan seperti dengan teknologi drone di mana pengendalian OPT menjadi lebih presisi dan menekan biaya untuk benih, pupuk, maupun pestisida. 

“Dengan adanya mekanisasi, pada tahun 2025 kita bisa mencapai produksi dan surplus kita mencapai 4,7 juta ton. Jadi kebutuhan beras kita pada tahun 2025 itu hanya 30 juta ton sementara produksi kita 34,69 juta ton, artinya kita surplus,” ungkap Arief. 

Pada saat pemanenan, mekanisasi pertanian juga memberikan dampak manfaat, panen dapat dilakukan dengan lebih cepat, kehilangan hasil menjadi lebih rendah, mutu yang dihasilkan pun lebih baik.

“Kalau kita bandingkan panen manual dengan mekanisasi, maka efisiensi yang bisa kita lakukan mencapai 15%. Kalau hasil panen kita 1 hektare itu 5 ton, maka 15% dari 5 ton itu kalau dirupiahkan Rp5 juta, jadi petani bisa menghemat 5 juta kalau pakai mesin dibandingkan manual,” ujarnya.

Selain mekanisasi, modernisasi pertanian perlu didukung dengan penerapan inovasi teknologi yang juga mampu meningkatkan produktivitas pertanian, salah satunya melalui pemanfaatan biochar atau pembenah tanah berbasis limbah biomassa pertanian.

Direktur Eksekutif Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII) Phil Rickard dalam Opening Ceremony & Nusantara Agrifuture Summit di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Rabu (04/11/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Direktur Eksekutif Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII) Phil Rickard menjelaskan, dengan mengubah limbah biomassa pertanian dengan menggunakan teknologi dan metode pirolisis, dapat memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, serta mendukung pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

“Biochar itu biasanya digunakan untuk remediasi tanah, meningkatkan struktur tanah, retensi air, ketersediaan nutrisi, dan aktivitas mikroba. Pada lahan yang terdegradasi atau terkontaminasi, biochar dapat digunakan untuk remediasi lahan dengan mengikat logam berat dan polutan lainnya,” jelas Phil. 

Founder & CEO Sawa Climate Tech Solutions tersebut juga menjelaskan penggunaan biochar juga memberikan manfaat untuk peternakan, khususnya untuk pakan ternak. Biochar dapat meningkatkan kesehatan pencernaan hewan, efisiensi pakan, pengurangan metana, hingga pengelolaan kotoran. Sehingga, biochar dapat memudahkan peternak melakukan pengelolaan kotoran ternak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan.

“Biochar saat ini menjadi salah satu sumber terbesar penghilang karbon dioksida di dunia dan termasuk metode yang relatif hemat biaya untuk menyerap karbon dari atmosfer,” ungkapnya.

Manfaatkan Teknologi

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho mengatakan, saat ini sektor pertanian sudah mengalami pergeseran dari yang berbasis tradisional dan menggunakan pupuk kimia secara berlebih, menjadi pertanian yang lebih modern dan efisien sehingga terjadi peningkatan produktivitas dan juga peningkatan pendapatan dari petani.

Modernisasi pertanian menurutnya juga perlu diarahkan pada penerapan praktik climate smart agriculture, di mana peningkatan produktivitas dengan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca ini diintegrasikan. Penggunaan biochar pun dapat menjadi salah satu instrumen pembenah tanah untuk membantu hal tersebut. 

“Studi kasus dari bahan baku dari tandan kosong sawit di Riau dan Kalimantan, ada peningkatan produktivitas sawit 10-15% dan penurunan pupuk kimia 20%, mungkin di daerah lain akan berbeda tapi terlihat bahwa pemanfaatan biochar bisa meningkatkan produksi,” jelas Bayu.

Bayu pun mendorong adanya integrasi teknologi digital dalam proses pemantauan kondisi tanah untuk pertanian. Dengan digitalisasi, perubahan kualitas tanah pun bisa dipantau dengan lebih mudah dan akurat.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)