Permintaan China Melambat Bikin Harga Batu Bara Melandai

Kenaikan biaya logistik dan freight akibat dinamika geopolitik global juga turut memengaruhi keputusan pembelian.

Permintaan China Melambat Bikin Harga Batu Bara Melandai
Harga batu bara global saat ini menunjukkan tren penurunan dalam jangka pendek setelah sempat menguat pada Maret 2026. Foto: Antara/Angga Palguna/foc.
Daftar Isi

Harga batu bara global mulai melandai setelah sempat melonjak pada Maret lalu, seiring perlambatan permintaan dari China yang memilih menahan pembelian dan mengoptimalkan stok yang ada.

Sikap wait and see negeri Tirai Bambu ini membuat pasar energi kehilangan momentum, sehingga harga acuan Newcastle coal terkoreksi ke level US$130,2 per ton per 24 April 2026, atau mengalami koreksi sekitar 5,34 persen.

Penurunan harga ini terjadi setelah lonjakan pada Maret lalu, ketika batu bara sempat menembus level US$150 per ton. Namun, harga masih naik 36,55% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani menilai koreksi harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir lebih merupakan bagian dari penyesuaian pasar jangka pendek, setelah sebelumnya harga berada pada level yang relatif tinggi.

"Dari sisi fundamental, pergerakan harga terutama dipengaruhi perilaku pembeli di pasar utama Asia seperti China dan sebagian negara Asia Tenggara yang saat ini cenderung mengambil sikap wait and see sambil mengoptimalkan stok yang dimiliki," kata Gita saat dihubungi SUAR di Jakarta, Senin (27/4).

Menurut dia, hal ini merupakan hal wajar mengingat level harga sebelumnya, terutama untuk batubara kalori menengah sudah naik sehingga sensitivitas terhadap harga meningkat.

Selain itu, Gita mengatakan, kenaikan biaya logistik dan freight akibat dinamika geopolitik global juga turut memengaruhi keputusan pembelian.

"Bagi negara importir, kondisi tersebut meningkatkan biaya pengiriman secara keseluruhan atau delivered cost, sehingga mereka memilih menahan pembelian dalam jangka pendek," tambah dia.

Gita menambahkan pengaruh geopolitik global terhadap harga batu bara tetap ada, tetapi lebih bersifat tidak langsung. Misalnya konflik Timur Tengah di satu sisi mendorong kenaikan harga energi lain seperti gas dan berpotensi meningkatkan penggunaan batubara sebagai alternatif.

"Namun di sisi lain, ketidakpastian global justru membuat pelaku pasar lebih berhati-hati, sehingga menahan aktivitas transaksi," katanya.

Tren penghematan energi

Pengamat Ekonomi Energi FEB Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai penurunan harga batu bara juga dipengaruhi tren penghematan energi di berbagai negara.

Menurutnya,negara-negara pengimpor kini lebih berhati-hati dalam belanja energi karena tekanan fiskal, inflasi impor, serta kebutuhan menjaga ketahanan ekonomi domestik melalui berbagai program perlindungan sosial. Beberapa negara juga menghadapi turunnya pendapatan negara seperti pajak ekspor dan efisiensi perusahaan karena permintaan ekspor global (global trade) turun.

"Hal ini berdampak pada kemampuan setiap negara untuk membeli batubara juga turun karena adanya penghematan," katanya.

Selain itu, sejumlah negara kini lebih fokus pada pemanfaatan pasokan energi domestik dibanding meningkatkan impor. India dan China, misalnya, mulai menahan pembelian dari luar negeri dan memaksimalkan produksi dalam negeri untuk menopang sektor manufaktur.

Strategi tersebut dinilai memberi keuntungan berupa penghematan devisa dan penurunan biaya impor energi. Namun di sisi lain, langkah itu berpotensi menahan permintaan batu bara global dalam jangka pendek.

"Tampaknya demand dari pasar global akan berkurang, karena setiap negara fokus terhadap penyediaan pasokan energi domestik atau melakukan penghematan konsumsi," katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar menilai harga batu bara global masih berada dalam fase normal setelah sebelumnya mengalami penguatan cukup tinggi. Namun dalam jangka menengah, komoditas ini diperkirakan memiliki potensi penurunan secara bertahap seiring perubahan kondisi pasar global.

"Memang trennya berpotensi melemah bertahap karena oversupply dan transisi energi, walau secara umum tetap aman karena permintaan Asia yang masih stabil," katanya.

Di tengah potensi pelemahan harga, Bisman menilai pelaku usaha batu bara perlu lebih cermat dalam menyusun strategi bisnis. Pengusaha perlu meningkatkan efisiensi biaya dan menjaga cash flow, bahkan jika perlu pake kontrak jangka panjang untuk mengunci harga.

"Selain itu, perlu juga upaya perluasan pasar ekspor dan mulai masuk industri hilirisasi," katanya.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersiap menyampaikan keterangan saat konferensi pers terkait penemuan cadangan gas raksasa di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nym.)

Rencana pemangkasan produksi

Harga batu bara turun di tengah rencana pemangkasan target produksi besar-besaran oleh pemerintah. Rencana itu tertuang dalam revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan target produksi dari 790 juta ton pada 2025 akan dipangkas ke kisaran 600 juta ton.

"Realisasi produksi batubara nasional yang mencapai 790 juta ton pada tahun 2025 akan kita pangkas menjadi kurang lebih 600 juta ton," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Kementerian ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1).

Bahlil mengatakan kebijakan ini ditempuh guna menyeimbangkan pasokan dan kebutuhan, menyusul kondisi oversupply yang selama ini menekan harga batu bara global.

Upaya penyelarasan antara suplai dan permintaan tersebut dinilai penting, tidak hanya untuk menjaga stabilitas harga komoditas batubara, tetapi juga untuk menjamin ketersediaan cadangan energi bagi generasi mendatang. Pemerintah menilai eksploitasi batubara yang berlebihan perlu dikendalikan agar pengelolaan sumber daya alam tetap berkelanjutan.

"Produksi (batubara) akan kita turunkan supaya harga bagus dan tambang ini kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber daerah alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita harus jaga aspek-aspek keadilan juga kita harus jaga," ujarnya.

Baca juga:

Dilema Dua Wajah dalam Penetapan Bea Keluar Nikel dan Batu Bara
Di satu sisi, penetapan bea keluar berpeluang mengangkat penerimaan negara melalui kepabeanan. Di sisi lain, pelaku usaha pertambangan berharap kajian tersebut dipertimbangkan kembali demi asas keadilan.

Saat ini, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) tengah menghitung secara detail kuota produksi untuk masing-masing perusahaan tambang melalui sistem RKAB. Pemerintah mengharapkan para pelaku usaha mulai menyesuaikan rencana kerja mereka dengan kebijakan baru tersebut.

Terkait kebijakan pemangkasan produksi, Bisman menilai langkah tersebut dapat membantu menyeimbangkan pasar global, terutama bila dilakukan oleh produsen besar termasuk Indonesia. Namun dampaknya terhadap harga akan terbatas apabila negara produsen lain tidak ikut menahan produksi.

Menurut dia, bagi perusahaan tambang, pengurangan produksi justru bisa menjadi cara menjaga profitabilitas.

"Bagi perusahaan, pemangkasan produksi justru bisa menjaga profitabilitas dengan menghindari oversupply dan menjaga harga jual tetap stabil. Strategi ini mau nggak mau harus dilakukan saat harga melemah agar tidak semakin terpuruk.

Baca selengkapnya

Ω